in ,

Pemprov Sulsel Kepincut ‘Michi-no-eki’, Apa Itu?

Mari membayangkan michi-no-eki di Bantaeng, atau di poros Sungguminasa – Malino, atau di antara Wajo dan Palopo atau Pinrang dengan Polman atau antara Barombong dan Galesong

Michi-no-eki di Jepang (sumber: https://expatsguide.jp/)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Minggu ini, jajaran Pemprov Sulsel terlihat sibuk dan antusias membahas apa yang disebut ‘rest area’ a la Michi-no-Eki. Betul, ini bahasa Jepang.

Jika menyebut Jepang dan Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, maka yang mengemuka adalah semangat transformasi pembangunan dengan mengawinkan konsep Jepang dan kapasitas lokal di Sulawesi Selatan.

“Pengembangan ekonomi Sulsel harus bertumpu pada potensi lokal. Kita ada banyak produk yang perlu di-hilirisasi agar sampai di pasar dengan nilai tambah maksimal,” kata Nurdin Abdullah dalam banyak kesempatan.

Michi no Eki adalah bahasa Jepang dari diksi ‘stasiun kota’. Ini merupakan konsep rest area yang menyediakan tempat beristirahat dan dilengkapi layanan seperti tempat makan, tempat memamerkan produk-produk khas atau yang bisa bermanfaat bagi yang datang ke situ.

Area Michi-no-eki di Jepang (sumber:
https://expatsguide.jp/)

Berdasarkan penelusuran PerspektifMakassar.id, yang membedakan michi-no-eki adalah bagaimana pelibatan warga setempat dalam memanfaatkan lokasi tersebut.

Rest Area ala Jepang inilah yang memberi inspirasi bagi Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah untuk dapat mengembangkannya di Sulawesi Selatan.

Simulasi di Bantaeng

Minggu ini, satu tim dari Jepang akan berkunjung ke Sulsel dan akan dipimpin oleh Prof Rudy anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan Sulawesi Selatan (TGUPP) dan berdasarkan penelusurn PerspektifMakassar.id akan berkunjung ke Bantaeng untuk melihat dan mengkaji peluang pengembangannya.

Patut dicatat bahwa sejak diperkenalkan sejak tahun 1993, michi-no-eki saat ini disebut telah mencapai angka 1000-an lebih di Jepang.

Michi no Eki bermakna ruang yang dapat membantu pengunjung atau pejalan dan memberoleh informasi tentang lokasi, seluk beluk kawasan, bantuan keselamatan dan kenyamanan perjalanan.

Ada tempat khusus yang disiapkan untuk mempromosikan produk-produk lokal tetapi ada fungsi lain yang disiapkan, sebagai tempat beristirahat. ruang sosial hingga penyediaan informasi jadi ada semacam display.

Untuk membangun michi-no-eki, ada beberapa syarat atau kriteria sebagaimana dirilis oleh Pemerintah Jepang seperti terdapat di tepi jalan raya, mudah diakses. dilengkapi tempat parkir yang lapang, toilet/WC yang bersih, telepon umum hingga ruang informasi lalu lintas dan ruang akivitas komunitas lokal.

Yang umum adalah fasilitas penunjang seperti restoran, mini market yang menyediakan produk-produk lokal, bisa pertanian, hasil kerajinan dan lain-lain yang ditangani oleh wara setempat. Penanggung jawabnya adalah Pemerintah Daerah atau lembaga yang ditunjuk khusus untuk itu.

Yang menarik, jika melihat foto-foto an video michi-no-eki maka itu dilengkapi sarana untuk anak-anak, dewasa, orang tua maupun difabel. Tentu ada yang merawat, sebab fasilitas tersebut harus bersih, aman dan nyaman.

Jadi pasar produk lokal (sumber:
https://expatsguide.jp/ )

Wahana kolaboratif

Michi-no-eki dapat menjadi wahana kolaboratif yang saling menguntungkan antar pemangkukepentingan, antar produsen dan pembeli. Jadi di dalamnya ada swasta juga. dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Jika ini diterima oleh masyarakat Sulsel, maka konsep Gubernur Nurdin Abdullah tentang Michi no Eki akan menjadi wahana sosial, ekonomi dan spot pengembangan wilayah. Agak mirip dengan rest area di sekitar jalan tol misalnya antara Jakarta – Bandung tetapi lebih ditekankan pelibatan warga kabupaten/kota setempat.

Mari membayangkan michi-no-eki di Bantaeng, atau di poros Sungguminasa – Malino, atau di antara Wajo dan Palopo atau Pinrang dengan Polman atau antara Barombong dan Galesong, dimana warga Galesong bisa menjajakan ikan kering atau pallu ce’la di michi-no-eki khas Sulsel jika ada warga Makassar melintas di jalur itu.

Konsep ini sangat menarik, meski lain lubuk lain ikannya, beda Jepang dan Sulsel namun selalu ada peluang untuk mengambil yang positif.

Paling tidak, warga Sulsel telah punya pengalaman bagaimana menjalankan Baruga Sayang. konsep bagus tetapi belum optimal dalam memaksimalkan fungsi layanannya. Kenapa? Jawabannya pasti sudah ada di benak pembaca sekalian. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Integrasi Pengembangan Ekonomi Pulau-Pulau dan Kelistrikan Sulsel, Ini Saran Anggota TGUPP

Makassar Raih Penghargaan Perencanaan dan Pencapaian Pembangunan Kota