in ,

Membaca Polewali, Desa Potensial di Tepian Danau Sidenreng

Ketinting berjejer di tepian Danau Sidenreng (dok: K. Azis)

PerspektifMakassar.id – Jika menyebut Kabupaten Sidrap, apa yang pertama anda ingat? Jangan pikir macam-macam, kalau saya, ingatan pertama adalah beras. Ya, daerah ini memang penghasil beras teratas di Sulsel.

Sidrap masuk 4 besar Sulawesi Selatan sebagai penghasil beras di tahun 2018. Pertama, Bone yang menghasilkan 0,97 juta ton tahun lalu, disusul Wajo 0,91 juta serta Pinrang 0,59 juta. Sidrap di posisi 4 tertinggi di Sulawesi Selatan memproduksi 0,52 juta ton.

Mereka mempunyai jarigan irigasi yang baik, sumber air dari Danau Tempe dan Sidenreng dan sungai serta kapasitas pertanian yang mumpuni dari warganya. Kontribusi Sidrap ke perberasan Sulsel hingga 20 persen dari total produksi padi Sulsel saban tahun meski ada indikasi penurunan.

Tidak sedikit dari petani Sidrap mengalami persoalan ketidaklancaran usaha pertanian seperti sawah terendam banjir hingga gagal panen.

Salah satu desa yang juga tak luput adalah Desa Polewali. Dua tahun lalu, ada 20 petani melaporkan gagal panen karena limpahan banjir dari Danau Sidenreng. Di usia jelang 40 hari padinya, banjir melanda.

Pemerintah tak tinggal diam, untuk mengantisisipasi atau membantu petani agar tidak rugi dua kali, telah ada skema Kartu Tani yang dikerjasamakan antara Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Sidrap bersama PT Asuransi Jasindo.

View di barat Polewali (dok: K. Azis)

Program Kartu Tani adalah program nasional yang dijalankan setelah melalui serangkaian verifikasi. Ruang lingkupnya berkaitan pemberian layanan asuransi ika terjadi kerusakan fisik, atau kerugian tanaman padi karena bencana banjir, karena hama dan penyakit tanaman.

Setiap petani untuk satu hektar harus membayar biaya Rp. 36 ribu permusim. Premi bayar 20% oleh petani dan 80% disubsidi Pemerintah. Nilai penggantian jika mengalami kegagalan karena penyebab di atas dapat biaya penggantian tanam hingga Rp. 6 juta atau prorata sesuai yang didaftarkan atau prosntasi kerusakan.

Informasi yang diterima PerspektifMakassar.id saat berkunjung ke Desa Polewali menunjukkan bahwa tatanan sosial di Desa Polewali masih kuat. Tradisi dan norma-norma sosial kolaboratif masih bertahan dan dijaga.

Mereka masih melaksanakan apa yang disebut Pesta Panen Mappadendang dan permainan tojang atau ayunan sebagai hiburan dalam pesta panen ini.  Pada Pesta Panen, warga dengan sukarela menyumbang untuk memeriahkan acaara tersebut seperti patungan membeli sapi untuk jadi bukti rasa syukur, dinikmati bersama.

Lebih dekat ke dimensi Polewali

Adi Yasin, pejabat kepala desa Polewali yang ditemui PerspektifMakassar membenarkan kondisi desanya seperti di atas.

“Kampung dan rumah-rumah warga menyebar dari utara ke selatan, hingga ke timur berbatas Danau Sidenreng. Ada dua dusun, Mamminasae dan Sudedo,” katanya saat ditemui di rumahnya yang hanya terpaut 30 meter dari Kantor Desa Polewali.

Danau Sidenreng adalah rezeki bagi Desa Polewali serta desa-desa di sekitarnya karena dari danau itu, ikan-ikan untuk konsumsi diperoleh, demikian pula sumber air untuk pertanian dan peternakan.

Danau Sidenreng juga menjadi lokasi wisata dimana pengunjung bisa menyewa perahu ketinting di tepian danau dalam wilayah Polewali atau Teteaji.

Polewali dapat dijangkau kurang lebih 20 menit dari pusat Kota Pangkajene Sidrap. Merupakan hasil pemekaran dari desa induk Teteaji pada tahun 1998. Adi Yasin menjabat setelah mengungguli 3 pesaing lainnya pada pemilihan tahun 2013.

“Saya menjabat tiga tahun baru UU Desa benar-benar berlaku,” katanya.

Untuk agenda pembangunan di desanya, Adi mengaku bergantung pada dana APBN melalui Dana Desa serta ADD. Jumlahnya sekitar 1 miliar.

“Kami masih berharap ada dukungan agar program pemberdayaan desa benar-benar efektif,” kata alumni STM di Kota Parepare ini.

Dia mengakui bahwa upaya pemberdayaan in perlu didukung banyak pihak terutama perguruan tinggi, mahasiswa dan pemberdaya masyarakat.

Saat ditanya program apa saja yang telah disiapkan atau dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan warga desanya sebagai Kepala Desa, Adi menyebut beberapa program pengembangan ekonomi seperti Bumdes Berkarya yang salah satu usahanya adalah penyediaan air minum dan es kristal untuk warga.

“Lalu ada program Sorga atau Sarana Olahraga, ada lapangan futsal, fasilitasi pembangunanya oleh BPKD. Kita juga berdayakan kelompok petani. Ada pengadaan handsprayer. Penerimanya ditentukan oleh Kelompok Tani,” ucap generasi pendiri Partai Persatuan Pembangunan di Sidrap ini.

“Bukan hanya kelompok petani, dana desa juga dimanfaatkan untuk kelompok-kelompk perempuan melalui kegiatan produktif perkebunan dengan memanfaatkan lawah kosong,” katanya.

View dari teras rumah Adi Yasin (dok: K. Azis)

Program yang juga sedang disiapkan adalah perintisan pembuatan kue-kue khas bernama Nanno-Nanno yang berbahan gula merah.

Adi mengakui bahwa upaya pemberdayaan masyarakat tidaklah mudah sebab harus ada keterhubungan antara data dan informasi desa dengan program yang diusung.

“Kadang terlalu banyak permintaan atau keinginan dari atas sementara di tingkat desa belum benar-benar diketahui kebutuhan apa yang cocok,” imbuhnya.

“Ke depan, saya kepikiran untuk melibatkan mahasiswa agar membantu kami menyiapkan data dan informasi potensi desa yang sesuai dengan program-program yang diusulkan,” ucapnya.

“Kami ingin benar-benar dapat menggali potensi yang ada di desa, masyarakat di sini senang dengan bantuan tapi bagaimana melanjutkan program tanpa harus dibantu terus menerus,” katanya.

Hal tersebut dibutuhkan di tengah optimisme bahwa sumber air untuk pertanian dan konsumsi warga sangat besar, demikian pula hamparan sawah yang sangat luas serta hamparan untuk peternakan bebek dan ayam.

“Untuk peternakan, rata-rata warga membebaskan bebeknya ke hamparan persawahan, jika ada di rumah, palingan jumlahnya sekitar 20-an ekor,” kata sosok yang tertarik menimbang peternakan terpadu atau kolektif, pada satu kawasan dan warga bebas menempatkan ternaknya.

Geliat Bumdes

Angin Timur berhembus dari arah Danau Sidenreng. Suasana sejuk sangat terasa petang itu di desa yang dapat dijangkau dari Kota Pangkajene setelah melewati Poros Amparita ini. Jalur lempang di antara rumah-rumah warga yang sangat ‘kota’ dan dikelilingi hamparan sawah dan sungai serta saluran air yang tak diam.

Ada suasana adem, sejuk, kala melihat hamparan sawah meski ada beberapa bagian yang juga dieksplorasi terutama untuk tanah timbunan.

Suasana sejuk itu bisa pula dirasakan di atas teras rumah panggung Adi Yasin yang menghadap ke arah selatan. Rumah panggung tersebut adalah rumah ‘knock down’ yang dia beli di Enrekang.

Sore, tanggal 6 Juni 2019, di hari kedua Lebaran itu, Adi menyilakan PerspektifMakassar.id melihat aktifitas Badan Usaha Milik Desa ‘Berkarya’ yang memanfaatkan satu ruangan di sisi kanan kantor desanya.

“Saat ini kami fokus di depot isi ulang dan es kristal,” kata Adi.

Di unit usaha itu, dana Bumdes telah dianggarkan sejak tahun 2016 dan saat ini telah dinikmati hasilnya.

Jika di beberapa desa lain, Bumdes menjadi mati segan hidup tak mau maka Bumdes Polewaji tetap bertahan setidaknya jika melihat situasi petang itu.

Warga membali air galon seharga Rp. 3 ribu/galon, diantar 4 ribu/galon, kalau es Kristal dihargai 2 ribu/kg, 5 ribu/kg atay 15 ribu/10 kilogram. Unit ini buka dari jam 6 pagi hingga pukul 5 sore.

“Kepuasan Pelanggan adalah Kebahagiaan bagi Kami.” Demikian jargon Bumdes Berkarya. Hasil bisnis ini dikelola oleh Bumdes, lengkap dengan pembukuannya.

“Saya karyawan di sini. Kalau Bumdes berdiri tahun 2016,” kata Wahyullah (25) , karyawan Bumdes yang petang itu sedang membuka freezer dan memberi sekantong es kristal. Dia menunjukkan stiker Bumdes yang menurutnya dibuat di Amparita.

Bukti bahwa hasil kerja Bumdes ini dimanfaatkan oleh warga adalah disediakannya air galon berlogo Berkarya di Masjid Raya Teteaji, juga di beberapa rumah.

Usaha ini dibantu atau difasilitasi pendamping dari kecamatan serta Pemerintah Kabupaten Sidrap, melalui Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

“Pendirian Bumdes tidak langsung, ada studi banding dulu ke Bantaeng,” sebut Adi.

Menurut Adi, sebagai desa pemekaran dari Teteaji, jumlah penduduk Polewali tidak sebesar Teteaji luasnya sekira 300 hektar tetapi penduduknya dua kali lipat dibanding Polewali.

“Penduduk kami kurang lebih 1600 jiwa sementara Teteaji mencapai 3000-an,” katanya. Mata pencaharian warga beragam tapi yang pokok adalah pertanian. Ada peternak ayam dan bebek serta pedagang dan pegawai negeri sipil.

“Kami sangat ingin adalah pusat pengolahan air minum yang tidak saja seperti saat ini tetapi menjadi pabrik, jadi ada pemrosesan air, pendistribusian, alat pres logo sendiri hingga pencetakan gelas atau botol untuk air kemasan,” harapnya.

“Tapi ini tidak mudah, perlu modal besar dan organisasi pengelola yang kuat. Semoga ke depan bisa direalisasikan,” tutup Adi. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Geliat Konservasi Milenial di Desa Jinato, Taka Bonerate

Dua Surat dan Wali Kota yang Menghukum Pemilihnya