in

10 Fakta di Balik HBH Supercepat Grup WA Alumni Unhas

Poin-poin (bahasan) tadi sudah saya Whatsapp ke WR 3

PerspektifMakassar.Id. Tanggal 7 Juni 2019, Yarifai Mappeati, yang pernah ngospek penulis di tahun 1989, berkisah tentang ‘revolusi’ Islam Turki. Tentang Racip Teyyeb Erdogan yang ikut pesantren dan pesantren itu lolos dari pemberangusan Jenderal Kemal Attaturk.

“Kita bisa bahas itu di Red Corner,” pesan Fai, begitu sebutannya ke penulis via WA.

“Red Corner belum buka, tapi kalau mau datang, datangmaki,” timpal Ical, pengelola Red Corner yang juga anggota grup Whatsapp Alumni, jebolah Fakultas Pertanian Unhas.

Yang terekam dari HBH (video: K. Azis)

Singkat cerita, sore itu, penulis datang sekitar pukul 4 lewat 20 menit sebelum Fai dan Ical datang.  Untungnya, beberapa anak buah Ical masuk ke kafe untuk persiapan, berbenah. Tungku masak kopi pun sudah bisa diceklek. Jadi tidak ada keraguan di dalamnya.

Kue-kue kering meluber ke meja, tape beras ketan dan caccarita pun dimulai. Ke sana, ke mari, tentang Petta Mul dan segala kelucuannya, respon menggemaskan anggota grup WA pada isu-isu Makassar dan Sulsel kontemporer hingga harapan ke Unhas agar kian progressif dan proaktif berkolaborasi alumni.

Koinsidens, Deng Ical, mantan Wakil Wali Kota Makassar serta Arief Rosyid, mantan Ketua Umum PB datang ke situ. Rupanya datang juga ke Re Corner karena ada janji dengan mitra kerja. Tema obrolan bisa dipahami ketika bertemali ke isu Pilwakot hingga cerita-cerita bawaan sebelumnya. Kotak Kosong, sikap partai hingga sesiapa di balik calon-calon di Pilwakot sebelumnya dan bkal laku mereka di Pilwakot 2020.

Pertemuan 7 Juni 2019

Di grup WA Alumni Unhas, arus deras untuk pertemuan silaturahmi disuarakan Sudirman Numba, salah seorang anggota grup yang cukup aktif dan kerap menyentil ‘komparasi dan kreativitas perguruan tinggi lain dan Unhas’.

“Kalau tanggal 8 Juni saya ikut,” balasnya di WA.

8 Juni 2019.

Siang itu, penulis yang sedang silaturahmi di rumah Busman Dahlan Shirat, alumni FISIP Unhas yang pejabat di Vale, bersegera menumpang mobil Ismawan Amir ke Red Corner.  

Kami sampai sekitar pukul 3 sore. Lalu disusul Sasmito, alumni FT Unhas yang sedang gathering dengan IKATEK di Goro. Dari bertiga lalu satu persatu datang, Yansi, Prof Amran Razak, Areif Rosyid, Arqam Azikin, Sudirman Numba, Hasymi Ibrahim dan Lulu.

“Kita siapkan saja HBH anggota grup Alumni Unhas besok. Kita ajakmi teman-teman di grup sebelum mereka balik atau kembali ke tempat kerja,” seru Sudirman Numba lalu diamini oleh peserta malam itu. Dia pun memesan pisang peppe’.

Tak lama, dia bikin list peserta dan dibagikan ke grup WA. Gayung bersambut tidak kurang 20 anggota bersedia hadir.  “Kita harus sampaikan ini ke WR 3, ini penting untuk Unhas,” kurang lebih begitu tanggapan Yansi sebelum penulis kembali ke Tamarunang.

9 Juni 2019

Di grup WA suasana sedang riuh. Diwarnai postingan ‘kemarahan dan lobe-lobe’ khas Petta Mul di grup, tanggapan jenaka dari anggota. Hijrahnya Tomi Lebang ke grup WA membuat suasana kian riuh meski spiritnya tetap satu, WA grup untuk menguatkan silaturahmi sesama alumi Unhas. “Urusan apakah Petta Mul datang ke HBH tanggal 9 kita serahkan ke kompi senapan.”

Penulis datang naik ojek, disusul Fai. Dia bercerita sore itu dia mendorong motor demi mengganti ban yang sudah berumur. Menyelesaikan itu baru bergegas ke Red Corner. Sesuai rencana, menyusul Yansi lalu Arief, Sudirman Numba, Prof Amran. Tuan rumah Ical Red Corner mulai sibuk mengatur kursi dan meja.

Tiga kali kami pindah kursi sebelum mentok di lantai 2, lokasi HBH yang disiapkan supercepat, tidak sampai 24 jam tersebut. Kami pindah sebab peserta mengalir layaknya suara hati nurani warga yang mengerucut kepada calon pemimpin kompeten, berintegritas, berkarakter baik dan tidak karonjo-ronjo atau tattalekang.

Pertemuan 8 Juni 2019

10 Fakta HBH

Masih banyak yang luput tapi 10 poin inilah yang penulis catat. Tambahlah jika anda hadir dan berkenan menuliskannya di komentar.

Pertama, HBH WAG Alumni Unhas disiapkan tidak sampai 24 jam, idenya spontan. Yang mengusulkan pertama kali adalah akademisi UMI lalu kemudian diamini oleh salah satu admin yang juga hadir di pertemuan sebelumnya, Hasrul Lulu, WD 3 FH-Unhas.

Kedua, dihadiri tidak kurang 40 orang alumni grup, (lihatlah di foto itu). Jumlah ini tentu ibarat bumi dan langit, jika dibandingkan alumni Unhas yang tercatat 165 ribu sejak alumni pertama tapi yang hadir bukan ‘kaleng-kaleng’ tentu saja.

Ketiga, yang hadir disebut bisa mewakili ribuan alumi. Mulai Jurnalis Abdurrahman Ammang, Arief Rosyid, Irman Yasin Limpo, Ni’matullah, Rahmansyah, Azwar Hasan, Sawedi Muhammad, Arqam Azikin hingga ‘host’ Prof. Arsunan Arsin. Kesungguhan mereka bertahan lama di lantai 2 Red Corner jadi bukti bahwa mereka nyaman atas nama alumni Unhas.

Keempat, urusan pemenuhan logistik tak dibicarakan sehari atau dua hari sebelumnya. Sore itu, Yansi, Fai dan penulis berdecak kagum karena lantai 2 Red Corner sudah di-booking. kumpulnya di situ saja.

“Semoga WR 3 datang,” harap Fai.

“Pasti,” tegas Yansi  

Kelima, meski diwarnai pelukan hangat tanda persahabatan tetapi input, komentar, kritik menyeruak serupa petasan pesta perayaan di malam 9 Juni itu.

“Unhas ini enak sendiri, harusnya membuka diri.”

“Pemprov Sulsel tidak semata melibatkan Unhas, atau memboyong Guru Besarnya, tetapi apa subtansi dan perubahan apa yang mau dicapai.”

“Rest Area ini apa sebenarnya, fisik semata atau ada fungsi keekonomian sosial di situ. Kalau iya, siapa yang bisa memastikan itu?”

“Ke depan, kita harus dorong Wali Kota Makassar yang tidak dikendalikan oleh bayang-bayang tidak jelas visi misinya. Kita perlu semangat dan visi baru.”

Yang hadir

“Apa yang bisa dilakukan untuk Unhas, tanpa kepastian follow up. Siapa melakukan apa, Unhas di mana, alumni di mana, IKA Unhas di mana?”.

“BEM harusnya bisa direalisasikan, tetapi perjelas dulu BEM ini untuk apa dan bagi siapa.”

“Unhas bisa besar jika alumni dan social capital-nya diberdayakan.”

“IKA Unhas gimana, kok kita kalah sama IKA-IKA lain?”

Keenam, peserta perempuan hanya 1, namanya Sri Asri Wulandani. Ada yang menyatakan ada peserta perempuan lain tetapi sepertinya tidak tahan liukan asap rokok di lantai 2.

Ketujuh, baru kali ini ada photo session yang tidak perlu waktu lama, tidak perlu dikomando atau dimulai dengan ancaman. Semua bersukacita difoto dengan senyum terbaik, tak protes meski hanya delapan kursi disiapkan khusus untuk yang rada-rada uzur (dikandatto!).

Bersukacita di HBH

Kedelapan, Halal Bihalal tanpa mikrofon. Suara Sudirman Numba, Arqam hingga WR 3 yang keras dan bertenaga jadi penanda bahwa mereka terbiasa latihan olah vokal sejak lampau.

“Kami ini alumni forum kebangsaan sejak lama, kami juga terbiasa di SMUH,” sungut Arqam yang akademisi Unismuh ini.

Kesembilan, ada informasi bahwa pengalaman Senat Mahasiswa Universitas Hasanuddin (SMUH) tahun 90-an harusnya menjadi informasi awal bagi siapapun yang ingin BEM Universitas.

Bahwa adalah penting untuk mempunyai ‘satu suara’ di level organisasi kemahasiswaan universitas tetapi ini perlu pengkondisian atau persiapan di level Fakultas, memastikan kesungguhan fakultas termasuk WD 3-nya apakah sungguh-sungguh komit pada misi Rekorat.

“Kuncinya satu, kita harus rajin silaturahmi ke senat-senat Fakultas, ikut bicara di acara Fakultas, Rektorat kita minta buka acara, yang isi kita-kita saja, kalau mereka bicara 2 jam, kita minta 4 jam. Itu pengalaman kami di SMUH dulu.” kurang lebih begitu saran Ni’matullah sesaat setelah HBH dikunci oleh WR 3 Unhas.

Sampai di situ, kita bisa paham mengapa banyak pihak berharap Rektorat saat ini lebih banyak merefleksi sejarah Unhas, dari peta kekuatan, proses perkuliahan hingga rekrutmen dan pilihan visi misinya, masih relevankah atau memang perlu diperbaharui dengan lebih banyak memasukkan misi muhibah ke fakultas atau heart to heart dengan mahasiswa dan alumni.

Para senior

Kesepuluh, penulis tidak tahu, tidak ada informasi siapa yang ke kasir malam itu, semua tenggelam dalam obrolan tingkat lanjutan, sampai kafe ‘Sudut Merah’ itu benar-benar tutup.

Memang, rasanya tidak perlu banyak berhitung atau penuh pertimbangan untuk niat dan kerja baik yang sudah pernah dikomunikasikan sebelumnya.  Kerja-kerja silaturahmi, konstruktif dan penuh keceriaan memang harus dibiasakan. Semua pihak harus menunjukkan bagian dan kontribusinya.

“Siap, poin-poin (bahasan) tadi sudah saya Whatsapp ke WR 3,” timpal Anshar Saud, alumni Farmasi Unhas yang jadi peserta sebelum kami cabut dari Red Corner yang penuh sesak malam itu. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Mengantisipasi Implementasi KEK Pariwisata Selayar

Mengobrolkan Makassar, Peringatan ke Ismak dan Tips Maqbul Halim