in , ,

UNHAS dan Universitas Ehime Meriset Likuifaksi Palu

Dr. Adi Maulana di lokasi Likuifaksi (dok: Puslitbang Kebencanaan Unhas)

PALU, PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Masih ingat peristiwa gempa bumi yang menggetarkan Kota Palu dan sekitarnya di akhir September tahun lalu? Betul, gempa yang meluluhlantakkan sebagian besar Kota Palu itu menyisakan duka mendalam bagi kita semua.

Salah satu fenomena unik saat itu adalah ‘varian’ bencana yang disebut likuifaksi, sebuah proses pergerakan tanah yang justeru menjadi salah satu pemicu jatuhnya ratusan korban jiwa.

Karena alasan itu pula, Universitas Hasanuddin melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Studi Kebencanaan UNHAS bersama Universitas Ehime Jepang menggelar riset bersama di salah satu spot likuifaksi, Sibalaya.

Lokasi eskavasi untuk mengkaji fenomena likuifaksi (dok: Puslitbang Kebencanaan Unhas)

“Kegiatan ini berlangsung sejak Minggu dan ditekankan pada penggalian di titik-titik tertentu untuk mengkaji fenomena likuifaksi yang menghebohkan dunia itu,” papar Dr. Adi Maulana, Ketua Puslitbang Studi Kebencanaan Unhas kepada PerspektifMakasssar.id, (27/06/2019).

Menurut Adi, Sibalaya dipilih karena lokasinya sangat ideal untuk melakukan penggalian atau ekskavasi hingga sumber dari likuifaksi itu bisa diketahui.

“Daerah ini mengalami pergeseran sejauh kurang lebih 500 dari tempat asalnya akibat fenomena tanah bergeser setelah gempa Palu, 28 September lalu,” sebutnya.

Riset berdasar MoU kedua universitas ini direncanakan belangsung selama 14 hari. “Tim melakukan ekskavasi di beberapa titik dengan menggunakan alat berat sedalam kurang lebih 5-7 meter dengan lebar 3-4 meter,” tambah Adi,

Adi melanjutkan bahwa tujuan riset ini adalah mencari tahu mekanisme yang menyebabkan terjadinya liquifaksi pada saat bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Palu akhir tahun lalu.

Harapannya, tim dapat mengungkap mekanisme likuifaksi dan mempelajarinya untuk kemudian menjadikan referensi mitigasi kebencanaan kedepan.

“Bagi UNHAS dan EHIME University, riset ini juga amat penting untuk dijadikan acuan dalam meninjau tata ruang di wilayah-wilayah rawan gempa di tempat lain agar korban baik jiwa maupun harta bisa diminimalkan,” imbuh Adi.

“Semoga hasil penelitian ini dapat berguna bagi semua. Tidak hanya untuk perkembangan ilmu pengetahuan tapi juga untuk keperluan mitigasi kebencanaan dimasa yang akan datang,” tutupnya. (*)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Mahasiswa KKN-PPM Dikti Unhas Dampingi Petani Kakao Bantae

Hak Angket DPRD Sulsel, yang Skeptis dan Optimis