in

Konflik Mahasiswa di Film ‘Anak Muda Palsu’

Nobar Anak Muda Palsu (foto: Ana Mustamin)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Empat tokoh sentral di film Anak Muda Palsu mewakili karakter kontemporer kehidupan mahasiswa di Makassar terutama di Universitas Hasanuddin.

Unhas? Iya, karena di film itu sutradara secara terang benderang mempertontonkan daya pikat Unhas, dari udara, paduan suara dan anak daranya.

Dari udara, hasil kerja drone di film itu telah menghantar penonton, terutama yang pernah ngekos di Tamalanrea, pada lapangan basket PKM, demikian pula selasar kampus dan halaman depan Unhas sebagaimana terlihat dari Perintis Kemerdekaan yang selalu ramai.

Mengapa paduan suara, sebab sekelompok anak muda dari klub PSM Unhas ikut menyetor suara di menit-menit pertama.

Anak dara sebab film ini sukses menempatkan Icha yang berparas rupawan. Rupa yang membuat Abu menjadi lebih matang dan sukses menyembunyikan sebagian kelucuannya.

Tokoh sentral di film ini ada pada empat mahasiswa yang tinggal bertetangga kamar, pada satu rumah yang dijagai oleh seorang perempuan paruh baya dan terlihat galak yang diperankan oleh Luna Vidya, aktivis LSM sekaligus pekerja seni di Makassar. Keempatnya adalah Abu, Darwis, Ilham dan Tumming.

Film ini jadi menarik karena ada konflik, ada ambigu dari mereka berempat. Antara menyelesaikan kuliah atau membereskan persoalan-persoalan klasik mahasiswa: kapasitas ekonomi, goda asmara dan ketidakcocokan pada iklim pendidikan di kampus.

Darwis (Hisyam Hamsir) yang mahasiswa Hukum berkonflik dengan pacar yang selalu mengusik hari-harinya melalui layar gadget. Juga membuatnya tega meninggalkan urusan percepatan wisuda demi pulang ke kampung. Pacarnya hendak dilamar. 

Sementara Ilham (Reo Ramadhan), mahasiswa Sastra yang selalu tampak perfeksionis dari sisi penampilan dan tutur kata tetapi secara ekonomi juga lemah.

Abu (diperankan oleh Abu) disebut berbeda sebab dialah yang memberi naungan ketika ketiga temannya berperkara dengan Ibu Kos karena tak mampu bayar sewa bulanan. Abu, anak orang kaya dan datang dari keluarga dokter ini adalah sosok yang mewakili generasi muda yang ingin keluar dari kendali keluarga.

Sutradara Ihdar Nur sukses memadukan konflik, salah satunya antara Tumming dan teman angkatannya. Antek atau Anak Teknik ini adalah mahasiswa tua yang sukses didoktrin untuk berlaku militan, pemberani meski kemudian kita dibuat ngakak melihat kenyataan bahwa dia babak belur dan bahkan dicuek oleh teman seangkatannya yang jadi asisten dosen.

“Perhatian. Teknik! Perhatian, teknik!”

Jika pernah kuliah di Fakultas Teknik Unhas, seruan itu adalah seruan lazim, apalagi jika sedang berlangsung orientasi mahasiswa baru di kalangan Anak Teknik Unhas.

Dari Tumming kita bisa mendengar omongan khas Makassar. “Kuracca!” “Anak gondrong pantang minum susu.” “Kalibbong sikuyuang.”

Selain itu, kening saya sempat berkerut ketika kawan-kawan Abu bertamu ke rumah Abu. Ada omongan si pelayan di rumah Abu yang sempat menyebut “Batang hidung dan batang-batang lainnya.”

Tak bermaksud membela, sepertinya sutradara ingin menonjolkan betapa pelayan rumah pun bisa menjadi lebih ‘tajam’ ketimbang yang pemilik rumah.

Demikian pula kata pentil yang disebut oleh kawan Icha yang kemayu-kemayuan. “Pentil? Kiki, pentil,” katanya.

Sepanjang film yang diproduksi Finisia Production ini kita bisa terkekeh, bisa senyum simpul dan sesekali meledakkan tawwa manakala ada pertentangan antara keempat anak muda palsu, sebutan yang diberikan Ibu Kos ke mereka. Disebut demikian sebab mereka tak merefleksikan mahasiswa yang diidamkan, minimal oleh si Ibu Kos: rajin dan penurut.

Film ini menyentil penonton untuk solider, peduli teman, selalu fokus dan tak mudah goyah saat menghadapi persoalan. Konflik antara pemilik rumah kos yang diperankan dengan sangat ciamik oleh Luna Vidya menjadi pembeda film ini.

Luna seperti Abu yang gondrong dan ‘pembual’ ini, layak disebut penghidup film AMP.

Luna amat menguasai ‘panggung’ AMP. Dia bisa menabur jenaka meski dia bersedih setelah terganggu menonton sinetron oleh suara ribut keempat anak kos itu.  

Tatapan mata kasih sayang dapat terbaca dari wajah Ibu Kos ini meski di lisan dia sesungguhnya mendamba uang kos.

Demikian pula saat dia harus menghadapi Tumming yang temperamental. Hingga menampilkan wajah murung ketika harus dirawat di rumah sakit. Luna adalah pengecualian di film ini.

“Tidak pernah Abu lambat bayar uang kos. Racunko semua!” begitu amarah ibu kos saat melihat ketiga teman Abu ikut meriung di kamar Abu hingga terlambat bayar kos.

Kelucuan khas Makassar dapat tersaji di film ini seperti keluguan satpam, istilah setang longga, tentang kapasitas dan kecenderungan mereka. Sekaligus menunjukkan ke kita tentang siapa sesunggunya Satpam itu.

Tak hanya kelucuan, film ini juga ‘tega’ mengeritik dunia akademik di Unhas. Dosen yang gaptek IT atau social media, sulit ditemui mahasiswa hingga mudah ‘tergoda’ untuk tunduk pada mahasiswa karena ada berkoncoan profesi.

Film ini sukses menuntun penonton perantau, yang jauh atau berjarak dengan Kota Makassar, terutama yang pernah kuliah di Unhas Tamalanrea untuk melihat kembali jalan-jalan rindang berpagar kayu trembesi, juga selasar kampus Unhas, koridor hingga ruang-ruang ajar.

Maka berbahagialah kurang lebih 100 penonton malam itu di Studio XXI Blok M Square, yang didominasi alumni Unhas melalui keluarga besar IKA Unhas dan terhibur oleh film sejak awal hingga usai. Ini kado luar biasa dari insan film asal Makassar untuk alumni, untuk mahasiswa, untuk siapapun yang ingin dunia pendidikan di Indonesia kondusif bagi tumbuh mekarnya cita-cita anak bangsa. — tsah!

Oh iya, meski demikian, sebagai film yang menyoal kehidupan kampus, dimensinya tentulah luas dan berkaitan dengan kehidupan banyak orang. Pada aspek sosial meliputi kerentanan individu dan sistem pendidikan, keterbatasan ekonomi hingga tantangan untuk punya mentalitas tangguh di tengah intrik kehidupan dan kutub-kutub kepentingan yang sulit bertemu.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Tunas Kelapa dalam Bahaya

IKA Doktor Ilmu Ekonomi Unhas Segera Terbentuk