in

They Call Me Professor, So What?

Tapi mengerikan, sebab, kita bakal menuai anak didik bermasalah. Pengetahuan, keterampilan hingga prilaku. Lantaran dosennya mengincar prestise penelitian dan jurnal.

Muhd Nur Sangadji (dok: istimewa)

PALU, PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Muhd Nur Sangadji, akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah berbagi pandangan tentang  penyebutan gelar atau jabatan akademik serta relevansinya dengan realitas kehidupan. Seperti apa? Simak yuk!

***

Tiba-tiba, pada bulan Mei 2019, Menristek Dikti menerbitkan Kepmenristek dikti nomor 164/M/KPT/2019, tentang penyebutan gelar atau jabatan akademik dosen sesuai jenjang jabatan dan pangkat.  Ada “lecturer”,  “Assistant Professor”, “Associate Professor” dan  “Professor penuh (full professor)”.

Saya teringat waktu di Perancis, dua puluh lima tahunan silam. Saya sudah dipanggil profesor. Karena, profesor dalam bahasa Perancis itu,  artinya GURU. “Je suis professor a l’universite  Tadulako”, Palu, Indonesie (Saya adalah Guru di Universitas Tadulako Palu Indonesia). Itulah jawaban saya,  bila orang Perancis bertanya tentang profesi saya di tanah air.

Jadi, karena sudah dilegalkan negara, saya membaca beberapa karib telah saling panggil  professor. Saya setuju saja, supaya tidak lagi risih dipanggil profesor di mana mana. Padahal, belum resmi. Sekarang sudah boleh.  Seperti di Manado, orang baku pangge (saling panggil) Meneer yang juga berarti GURU. Di dalam pendidikan Islam, kata USTAZD juga dinisbatkan pada makna Guru.

Kawan saya bilang, dari pada baku buru (berlomba) kebanggaan, masuk scopus  untuk semata kejar gelar tapi minim kontribusi bagi ilmu dan kemaslahatan, lebih baik, curahkan energi untuk selesaikan persoalan masyarakat dan bangsa. Agar, peran perguruan tinggi kian terasa oleh mereka.

Pada acara di Fisip Untad beberapa waktu lalu, ada yang bilang. Dosen yang tidak publis scopus, dipertanyakan kualitasnya. Saya ngeri atas pernyataan ini. Bagaimana dengan mereka yang tekun mengajar? Mereka yang rajin bekerja dengan masyarakat? Mereka yang menulis buku dan artikel di majalah dan koran? 

Mereka juga meneliti, tapi tidak masuk bursa  publikasi berbisnis sejenis scopus. Tapi risetnya menjawab kebutuhan masyarakat lokal. Mereka menjadi nista karena tidak ada namanya di listing scopus? Zalim, saya kira.

Dalam pengalaman menghadiri seminar international berkali-kali, pemikiran latah ini mewabah di ilmuwan Indonesia. Sehebat apa pun anda, bila tidak punya journal international sejenis scopus, anda tidak dianggap.

Lalu, semua ilmuan Indonesia saling mengukur diri dan membandingkan antar sesama. Padahal, kasat mata kita kenal kualitas masing-masing kolega. Kemampuan berbahasa Inggris sebagai contoh. Sementara jurnal internasional itu berbahasa Inggris. Maka, saatnya kita berhentilah dengan kebanggaan palsu.

Semua tahu, tidak semua menjadi peneliti benaran. Ada yang sekadar menitipkan nama dalam deretan penulis. Ada yang ilmunya tidak sesuai. Terpenting, masuk dalam kategori punya jurnal internasional. Sudahlah, sampai kapan bangsa ini bertindak latah seperti begini.  Entahlah.

Tapi mengerikan, sebab, kita bakal menuai anak didik bermasalah. Pengetahuan, keterampilan hingga prilaku. Lantaran dosennya mengincar prestise penelitian dan jurnal. Bukan prestasi. Kita juga akan dijauhi oleh masyarakat.

Di puncak menara gading, berjubellah  kaum ilmuwan. Jauh dari permasalahan akar rumput komunitas. Berhentilah.

Mengapa? Karena, ukurannya  adalah sekadar jurnal internasional dan abai pada hal yang lain. Pengalamannya hampir analog dengan kebiasaan lama. Orang tua hanya mengandalkan matematika, fisika dan sejenisnya untuk ukuran kualitas anak. Kalau nilai matematika jatuh, disalahkan, akibat terlalu banyak main bola kaki.

Nanti, setelah Ronaldo dan bintang sepakbola dibayar dengan jutaan dolar. Baharu kita sadar bahwa mengagungkan secara fanatik pada satu bidang dan menistakan yang lain, adalah tindakan keliru, fatal dan kurang bermartabat.

Labih sepuluh tahun silam, Orang Jerman datang ke Universitas Tadulako. Membawa program kerjasama riset tentang “sustainability of tropical forest margin”. Saya ikut terlibat.

Dibuatlah seminar internasional di Palu. Orang pedalaman yang adalah kaum tani, diundang. Petani ini bertanya, dalam gemerlapnya kegiatan seminar hasil riset ini, apa “output”nya?

Para ilmuwan kala itu berlomba menjawab dengan jawaban beragam. Antara lain, hasilnya akan diterbitkan di jurnal internasional. Lalu, ada petani lain menimpali.

Terus, apa manfaatnya bagi kehidupan kami sebagai petani? Di tempat kalian melakukan penelitian ini ? Saya menyaksikan kebanyakan ilmuwan, termasuk saya, gagap dalam menjawabnya.

Karena itu,  saya sarankan, mari kita bagi peran saja. Ada dosen yang fokus prioritasnya riset.  Ada yang pendidikan dan mungkin ada yang khusus pengabdian masyarakat.

Tapi,  apapun itu. Sekarang, sejak Mei 2019, saya telah disematkan gelar Assistant Professor dan Associate Professor. Namun,  tetaplah panggil saya, Guru saja. Atau, Guru kecil di Universitas Tadulako. (*)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Unhas Punya Presiden Mahasiswa, Aktivis dan Alumni Beri Selamat

Tingkatkan Mutu PT, LPM UMI Laksanakan Workshop Auditor