in

MSDC, Kompetensi dan Kompetisi Organisasi

Kecederungan kurikulum pendidikan kelautan saat ini, lebih kepada kemampuan laboratorium, dari outdoor ke indoor. Di sisi lain, kurikulum pendidikan hari ini semakin mahal sehingga menuntut mahasiswa untuk cepat selesai.

M. Rizki Latjindung

OPINI, PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Senang membaca dan melihat pergerakan organisasi Marine Science Diving Club (MSDC) Unhas, dari jejak tahun 1990 hingga kini.

MSDC, organisasi selam kebanggaan mahasiswa dan alumni Ilmu Kelautan Unhas ini tetap menggeliat di tengah tantangan zaman yang kian tak mudah. Terkait itu, ada baiknya untuk saya berbagi pandangan tentang efektivitas, relevansi eksistensialnya dan masa depannya.

Pertama, dari sisi efektivitas pengkaderan.

MSDC saat ini masih fokus pada  menciptakan kader penyelam tapi saya kira masih terpaku pada kurikulum lama, yang menurut saya belum responsif pada perkembangan zaman.

Saya membaca calon kader enggan untuk bertahan dan melanjutkan prosesi perekrutan, terlihat dari menurunnya jumlah individu yang terekrut di tiap tahunnya.

Atau mungkin, kecederungan kurikulum pendidikan kelautan saat ini, lebih kepada kemampuan laboratorium, dari outdoor ke indoor. Di sisi lain, kurikulum pendidikan hari ini semakin mahal sehingga menuntut mahasiswa untuk cepat selesai.

Proses perekrutan anggota MSDC masih terkesan panjang, berbenturan dengan misi kampus yang dimana mengharuskan mahasiswa untuk segera selesai, padahal untuk menciptakan skill yang mumpuni butuh latihan yang ekstra. Sekali lagi ekstra, dalam artian perlu jam selam yang banyak.

Saya kira, MSDC harusnya menjadi lembaga kader yang mengurangi beban kampus dalam hal pendidikan selam.

Jadi, MSDC perlu merespon perubahan zaman yang beralih pada ruas 4.0 dimana fungsi kerja mekanik termasuk penyelaman di dalammnya akan diambil alih oleh robot, tentu saja ke depannya akan mengurangi prospek profesi kerja bawah air. Mungkin ini agak ekstrem tapi menjadi penting untuk dicermati.

Yang kedua, mengekstraksi inspirasi dari pengalaman berinteraksi dengan FIKP atau Rektorat di urusan selam.

Terus terang, saya masih berpikir bahwa kampus tidak lain masih sebatas administrasi dan formalitas, Padahal, kampus harusnya bisa lebih dari itu karena mereka punya kapasitas, daya dukung kebijakan hingga fungsi alokasi yang memadai (anggaran).

Saya melihat, belum terkoneksinya peran kampus dan dunia industri sehingga perlu mediasi dan pemangkasan jarak relasi. Secara institusi kampus belum menjangkau kerjasama yang spesifik, misalnya pada profesi pekerjaan bawah air, kalaupun ada hanya sebatas individu.

Namun, saya melihat ada sisi positifnya, hal inilah yang membuat MSDC terlahir menjadi UKM yang mandiri di Unhas

Yang ketiga, tetap mengapresiasi capaian.

Saya tetap optimis bahwa MSDC bisa berselancar di tengah situasi yang tak terlalu kondusif atau tak optimal, sebab saya masih melihat diskoneksi atau ketidakmaksimalam dukungan elite Rektorat dan Fakultas. Pernyataan ini lahir dari dinamika Rektorat dan Fakultas dalam menempatkan konteks maritim di ranah akademik dan stratgei pengembangan selama ini.

Saya optimis, MSDC terus mencetak kader selam yang tangguh dan mandiri sebab MSDC bisa berpotensi mereposisi perannya sebagai penyelam peneliti hingga pekerja bawah air, jika mereka tetap berkomunikasi dengan senior-seniornya.

Lalu yang tidak kalah penting adalah perlunya menimbang kembali bahwa eksistensi MSDC tetap dibutuhkan oleh pasar, masyarakat luas bahkan negara.

Karenanya, mereka bisa menjadi bagian, misalnya dalam mengadvokasi wisata bahri yang aman dan menyenangkan. Bahwa melalui pendiidkan selam mampu mengurangi keruskan ekosistem, kecelakaan penyelaman dan mengajak masyarakat melihat bahari sebagai potensi masa depan negara kepulauan

Idealnya, MSDC dapat mengoptimalkan fungsi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada msyarakat sebagai arena peningkatan kompetensi serta mampu memanfaatkan informasi kelembagaan tentang penyelaman yang sehat bagi nelayan tradisional dan terus eksis kerjasama bawah air dengan berbagai lembaga penilitian

Terakhir, saya melihat ekspektasi itu sangat realistis meski tantangan yang kita baca dari sisi anggota, manajemen MSDC dan peluang menjadi bagian dalam pengembanga kelautan nasional masih perlu dicermati bersama, baik sebagai anggota, alumni atau simpatisan MSDC yang telah mencapai ribuan ini.

Lima masukan

Ke depan, sembari mengutip pernyataan Columbus bahwa laut sebagai sumber ekonomi dan penghidupan, dan jika dikaitkan dengan eksistensi MSDC dan tantangan pembangunan sektor kelautan, maka terkait kompetisi yang dihadapi baik sebagai individu maupun organisasi (apalagi ada banyak organisasi induk dengan fokus berbeda) saya mengusulkan sekurangnya 5 poin.

Pertama, MSDC perlu menginovasi kurikulum pengkaderan, yang relevan dengan situasi kekinian. Mereka perlu mereviu sejarah, perubahan konteks dan tantangan zaman.

Kedua, perlu meningkatkan kemampuan menajerial tentang menejemen penyelaman yang membantu peningkatan advokasi dunia penyelaman melalui pembangunan jejaring dan ikut serta pelatihan-palatihan dan forum bersama. Ini butuh kesungguhan dan pengorbanan.

Beberapa jebolan MSDC yang sukses sejauh ini dan bekerja berbekal kompetensi raihan dari MSDC di lembaga-lembaga nasional dan internasional, karena mereka sabar dalam berproses.

Yang ketiga, MSDC perlu menggalakkan kampanye pengembangan wisata bahari dan pemanfaatan potensi laut dengan ramah, bijaksana dan berdampak pada peningkatan ekonomi. Membangun komunikasi dengan berbagi pihak sudah harus dilakukan.

Keempat, meningkatkan kualitas kerjasama lintas multidisipliner dan yang kelima, menjadikan selam sebagai pasar tenaga kerja potensial.

Pada poin keempat dan kelima ini, di sinilah perlunya pihak-pihak di atasnya seperti jurusan, fakultas hingga rektorat memberi perhatian dan dukungan konkret bukan dengan menutup pintu atau jendela komunikasi.  (*)

Penulis: M. Rizki Latjindung (Mantan Sekum MSDC 2010-2011)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Kubus Apung MAS, Cara Cepat Bangun Objek Wisata di Daerah

Sambut Mahasiswa Baru, FEB Unhas Hadirkan Dirut Taspen