in

Rajuni dan Cerita pada Suatu Pagi yang Gegas

Sanitasi adalah sebuah upaya untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.

Seorang anak di Pulau Rajuni, mengintip pejalan di pulaunya (dok: iK. Azis)

“Sekitar 51 juta penduduk Indonesia masih buang air besar sembarangan (BABS). Buang air besar di tepian sungai dan pantai.” (WHO-Unicef, 2015).

Pada tahun yang sama, Indonesia didaulat sebagai negara kedua yang memiliki angka ‘Buang Air Besar Sembarangan’ tertinggi di dunia. Posisi pertama diraih negara aktor Syah Rukh Khan, India.

***

Pulau Rajuni Kecil, Taman Nasional Laut Taka Bonerate, April 1995.

Masih pagi, sekira pukul 06.00 WITA. Tiga mahasiswa tingkat akhir harapan bangsa yang lagi penelitian berjongkok memandangi pucuk bukit Pulau Kayuadi, Selayar di barat. Mereka, sebutlah bernama Marco, Vijay dan Saipul Jamal sedang beritual tanpa suara. Hanya angin timur yang gaduh bermain di tepian sarung.

Mereka pasrah menerima kenyataan di pulau jauh sebab di Makassar mereka takkan pede melakukan tindakan ‘kehilangan muka’ di tempat terbuka dan sebegini indah. Mereka sesungguhnya ingin gegas beranjak dari pantai itu sebab pagi semakin tua.

Di pulau itu, ada sekurangnya 30 unit perahu berbobot paling kecil 30 groston (kala itu) dan sekarang telah semakin besar antara 75-150 grosston. Menurut kabar jumlahnya semakin banyak dan ukurannya kian besar. Kapal-kapal dimiliki oleh warga Kampung Bugis di selatan pulau.

Kualitas hidup masyarakat Rajuni Kecil lebih bagus dibanding pulau-pulau lainnya seperti Tarupa atau Pasitallu. Mereka mencetak banyak sarjana dan tamatan-tamatan SMA atau SMA hingga pesantren. Generasi muda dari di pulau itu, bersekolah, kuliah, dan menjadi guru di pulau kelahirannya.

Singkat cerita, Rajuni Kecil adalah pulau maju, punya aset ekonomi yang besar. Bayangkanlah 1 armada kayu kargo itu, nilainya antara 500 juta hingga 1 miliar.

Satu armada bisa mempekerjakan antara 6 hingga 10 orang. Gaji persekali jalan antara 1 juta hingga 1,5 tergantung posisi di kapal. Usia sekolah dan anak-anak melek huruf atau kemampuan baca tulis juga lebih baik dari desa-desa yang lain di dalam kawasan taman nasional.

Sampai di sini, kita bisa menepis sangkaan orang-orang bahwa Rajuni Kecil adalah potret pulau miskin dan tidak mungkin berperilaku ‘purba’ dengan buang air sembarangan.

Statistik Pemerintah menunjukkan bahwa Kabupaten Selayar, dimana Rajuni ada, adalah salah satu dari tiga kabupaten dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) paling rendah di Sulawesi Selatan atau hanya 64,95 pada tahun 2016. Bandingkan dengan Makassar yang mencapai 80,17.

Indeks akumulatif kualitas kesehatan, pendidikan dan daya beli untuk Kabupaten Selayar secara umum disebut paling rendah di Sulawesi Selatan. Karenanya, Pemerintah setempat, Provinsi dan Pusat ramai-ramai menawarkan program, kegiatan, atau apa saja demi mendongkrak pencapaian IPM-nya.

Sanitasi yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya.

Sanitasi adalah sebuah upaya untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.

Namun faktanya, MCK bantuan dari salah satu program hanya bagus di hari-hari pertama setelah pembangunan dan setelah itu, warga lebih memilih ke pantai, ke laut. MCK dibangun, tapi warga tetap ke kebiasaan semula sebagaimana penulis lihat di tahun 2015 di Kampung Bajo, Pulau Rajuni Kecil.

Kesimpulannya, sekolah dibangun, diperbaiki, tapi animo warga Bugis atau Bajo tak terkerek juga, godaan laut membuat mereka lebih percaya diri ketimbang menuju bangku ajar,

Dapat dikatakan bahwa praktik BABS di Pulau Rajuni masih marak selain karena ketidakmampuan memiliki toilet dan kelangkaan air tawar, juga karena ada anggapan BABS masih normal dan tak tak berbahaya.

Itulah pangkal alasan mengapa di Indonesia, masih ada 12,9 persen penduduk yang belum memiliki toilet yang memadai termasuk yang terjadi di pulau yang akan diceritakan di atas.

***

Warga Rajuni mempunyai uang banyak karena ulet berbisnis. Mereka bisa naik haji beberapa kali pada kurun waktu tahun 70an dan 80an. Tapi kemampuan berhitung atau membaca nanti dulu.

Mereka punya kapal, perahu bermesin, televisi, parabola, hingga motor namun tak melihat urusan toilet sebagai kebutuhan nomor satu atau penting.

Kebiasaan buang air besar di pantai, juga dilakukan oleh mereka yang tinggal di pedalaman atau pegunungan. Kadang di semak-semak, di kebun, di bawah pohon, atau bisa jadi di aliran sungai kecil, juga calon sarjana yang dengan terpaksa harus jongkok saban pagi itu. Jadi merupakan fenomena umum.

Itu adalah praktik sehari-hari, demikian pula minum dari air tak dimasak seperti dari gentong, membuang sampah sembarangan dan lain sebagainya.

Praktik BABS telah lama terjadi, bertahun, berpuluh tahun, yang menurut Guru Besar Sosiologi Unhas, Prof Darmawan Salman sebagai—tindakan bebas aktor atau agensi yang tersetujui sistem norma dari struktur atau kelembagaan yang ada.

“Maka dengan itulah keadaan bersih dan sehat didefinisikan dan dicapai oleh tatanan kampung halaman dimana kita berada,” katanya.

Bagi Darmawan, karena waktu terus mengalir, ruang terus terisi maka begitu pula sistem nilai dan sistem norma tentang bersih dan sehat di kampung-kampung, di desa-desa. Waktu jua yang akan menjawabnya.

***

Membayangkan ketika ketiga orang pemuda tersebut jongkok berjamaah, mungkin bisa dibandingkan suasana Pulau Rajuni pada tahun 1900-an ketika pertama kali dihuni oleh pendatang dari daratan utama Sulawesi, Maros.

Mereka datang satu-dua keluarga, ketika banyak lahan kosong dan belum ada rumah. Kebiasaan buang air bisa mereka lakukan di pantai tanpa dilihat orang lain. Di mana saja, di empat penjuru mata angin.

Sampai tahun 80-an, ketika permukiman warga masih di timur pulau, mereka buang hajat di sisi barat pulau. Hanya anak-anak yang masih bertahan di pantai timur. Hingga tahun 2000-an, ketika sebagian sisi barat sudah mulai dihuni warga, posisi buang hajat bergeser ke sisi barat-utara.

“Secara sinkronik ragam ini menunjukkan adanya variasi konstruksi ruang atas buang air besar, secara diakronik ragam ini menunjukkan adanya evolusi konstruksi waktu atas buang air besar,” tambah Darmawan lagi.

Untuk kasus Pulau Rajuni dan pulau-pulau yang menjadi kontributor memburuknya IPM dari masing-masing kabupaten seperti Selayar atau Pangkep di utara Makassar, maka apa yang disampaikan oleh Prof Darmawan ini sebagai ajakan untuk mengakselerasi input dalam mengubah cara pandang, perilaku dan sistem yang ‘memaksa warga secara halus’ untuk melakukan praktik-praktik yang dianjurkan.

Input yang butuh kesabaran, telaten dan perlahan berpindah dari sekadar urusan pribadi ke urusan sistemik atau berbungkus aturan kolektif. Apalagi di dalam ajaran Agama Islam, sebagai misal, menjaga kebersihan dengan tidak buang air sembarangan sudah jauh-jauh dari telah diingatkan.

Ada hadis berbunyi, “Ittaqul mal’uunata anits tsalasati, albaroozu fil mawaaridi wa faarighotit thoriiqi wadzzilli.” Artinya, “Takutlah tiga tempat yang dilaknat, buang kotoran pada sumber air yang mengalir, di jalan dan tempat berteduh”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majjah).

Pemerintah setempat atau siapapun boleh mengalokasikan anggaran untuk bikin jamban, memastikan ketersediaan air bilas, memediasi melalui penyediaan tempat sampah hingga kampanye cuci tangan sebelum makan—tetapi pada saat yang sama mereka juga harus memastikan apakah warga butuh pengorganisasian atau peningkatan kesadaran dari dalam diri.

“Di Rajuni ini, daya beli sangat bagus, mereka bisa datang ke Kota Benteng, Selayar atau ke Makassar dan membeli barang mewah dengan mudah. Uangnya banyak, jika pun ada yang masih dipandang persoalan itu adalah kebiasaan buang air besar di laut dan mengajak anak-anak usia sekolah mencari ikan ketimbang ilmu,” kurang lebih begitu simpulan Marco, yang baru saja beberes di pagi seperti yang diceritakan di awal.

Tiga bulan melaksanakan riset kerang raksasa di pulau eksotis itu, mereka kemudian sadar, ternyata dari tidak kurang 300 rumah, hanya ada 40% rumah yang mempunyai jamban.

Nasib tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, warga di pulau itu, sebagian besar, seperti ketiga pemuda tersebut lebih memilih menyetor di pantai saban pagi.

Padahal sejauh ini, anggaran pembangunan nasional untuk bidang kesehatan dan pendidikan di pulau-pulau jauh, terluar, di kabupaten pesisir atau kepulauan telah semakin besar. Apalagi sejak adanya dana desa dan alokasi dana desa.

Upaya sungguh-sungguh memang sangat diperlukan agar angka 2,4 miliar penduduk dunia yang belum memiliki toilet seperti dilaporkan UNICEF dapat dikurangi. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Unhas dan LAPAN Sepakat Kerjasama Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Yang Berbahagia, Lima Saudara Jadi Anggota DPRD Hulu Sungai Selatan