in ,

Akademisi Untad Palu: Karaeng Pattingalloang, Teladan yang Menembus Zaman

Penggambaran Karaeng Pattingalloang (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID –  Presiden Joko Widodo atas nama Pemerintah Republik Indonesia, menganugerahkan ‘Bintang Budaya Parama Dharma’ kepada sosok bernama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Kerajaan Gowa-Tallo.

Bintang Budaya Parama Dharma bermakna mulia. Dharma bermakna hukum, hakikat kebenaran dan kebaikan. Adalah tanda kehormatan yang dianugerahkan bagi mereka yang berakhlak, berbudi pekerti baik serta berjasa besar di bidang kebudayaan. Tanda kehormatan tertinggi dalam bidang kebudayaan, setingkat Bintang Jasa Utama.

Penganugerahan Jokowi tersebut oleh akademisi Universitas Tadulako Palu, Moch Nur Sangadji sebagai sesuatu yang ‘go beyond border’, yang bisa menembus zaman.

“Karaeng bisa merangsang daya nalar generasi, pada spektrum perubahan dari waktu ke waktu. Bagaimana inspirasi mengembara ke penjuru dunia,” sebut Nur.

“Saya bertanya dalam hati. Tentang apa yang membuat pantas dimana negara memberi penghargaan kepada Karaeng Pattingalloang. Saya telusuri kiprahnya dan saya temukan kepantasannya,” lanjutnya.

Menurutnya, Karaeng Pattingalloang telah memberi inspirasi untuk kemajuan ilmu dan kemanusiaan.

“Dia punya Perpustakaan. Itu, di tahun 1600-an. Ini saja sesungguhnya, sudah cukup untuk terka siapa dia. Belakangan, sekira 400 an tahun kemudian, saya menemukan kalimat berikut. Ada orang yang bilang, if you want to know who am I, looking my library. Jawaban dari apa yang beliau letakkan di abad 16 tersebut,” katanya.

Bagi Nur, kiprah Karaeng Pattingalloang lainnya terlalu bertumpuk untuk disebut.

“Namun, pada penghargaan yang diberi padanya, di bidang kebudayaan. Itu kerena kebiasaan yang dia bentuk pada masanya, menjadi penciri dan teladan bagi sekitarnya menembus zaman,” katanya.

“Sebab, kebudayaan itu adalah kebiasaan dan identitas (habit and identity). Dia, bila positif, akan menjadi inspirasi kebaikan yang sangat kuat. Dan, akan diturunkan di tiap tangga generasi,” tutup dosen Ilmu Pertanian alumni Prancis ini. 

Siapa Karaeng Pattingalloang?

Karaeng Pattingalloang sudah lama dipuji sebagai elite Kerajaan Gowa-Tallo yang cerdas, progressif, terbuka dan toleran.

Dia menjadi pembeda jika dibandingkan dengan anggapan umum bahwa keluarga kerajaan lebih banyak disebut sebagai yang suka bersenang-senang, berpesta dan abai pada ilmu pengetahuan karena benam dalam kelimpahan kuasa.

Dia dipuji oleh banyak tokoh Eropa karena semangat perkawanan dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Joost van del Vondel, penyair kenamaan Belanda memuji Karaeng Pattingalloang sebagai penjaga persahabatan dengan untaian kalimat sastrawi.

“Bola dunia itu, perusahaan Hindia TimurMengirimkannya ke rumah Pattingalloang agungYang otaknya menyelidik ke mana-manaMenganggap dunia seutuhnya terlalu kecilKami berharap tongkat kekuasaannya memanjangDan mencapai kutub satu dan yang lainAgar keuzuran waktu hanya melapukkanTembaga itu, bukan persahabatan kita.”

Pastor Alexandre de Rhodes SJ, seperti dikutip sejarawan Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Batas-batas Pembaratan (1996) menggambarkan Karaeng Pattingalloang sebagai penutur bahasa Portugis yang cakap.

“Jika kita mendengarkan omongannya tanpa melihat orangnya, pasti kita mengira dia adalah orang Portugis sejati, karena ia berbahasa Portugis sama fasihnya dengan orang Lisbon. Ia menguasai dengan baik segala misteri kita, dan telah membaca kisah raja-raja kita di Eropa dengan keingintahuan besar,” demikian penilaiannya.

Karaeng Pattingalloang adalah menara kembar, tandem Sultan Malikussaid (1605-1639), keduanya mercusuar kembar kemajuan Kerajaan Gowa. Di eranya, Kerajaan Gowa melesat sebagai kerajaan maju dan berprestasi, Gowa menjadi salah satu kekuatan maritim terkemuka Asia Tenggara di abad ke-17.

Di kalangan kerajaan Gowa-Tallo, Pattingalloang tak lazim, unik dan istimewa. Dia menekuni sains dan gemar membaca buku-buku Eropa yang dibawa para penjelajah dari Benua Biru itu.

Dia terlahir dengan nama I Mangadacinna Daeng Sitaba pada tahun 1600, anak keenam dari pasangan permaisuri I Wara’ Karaeng Lempangang dan Karaeng Matoaya. Ayahnya adalah raja Tallo pertama yang memutuskan memeluk Islam berkat bimbingan Abdul Qadir Datuk Tunggal alias Datuk ri Bandang dan gelar Sultan Awalul Islam pun melekat. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Arqam Azikin, Pengamat Politik Unismuh Makassar: Menteri Susi Penuh Terobosan

Unhas Bertahan di Posisi 8 se-Indonesia