in ,

Sekelebat Dapur Coklat hingga Kanrejawa

Sihir di The Harvest (dok: K. Azis)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Saya menulis postingan ini sembari menikmati segelas teh hangat dan setoples kue cuma-cuma ‘crispy cookies’. Begini, di hari Ahad, 18 Agustus 2019 terasa istimewa dan manis. Kawan saya, Yukimi Shimoda, Phd, dosen di Unversitas Waseda Tokyo mengajak bertemu dan menjelajah Kota Makassar.

Tak mau kehilangan momen, saya mengajak istri untuk ikut serta. Godaan Shimoda-san, sungguh menantang. “Saya mau lihat-lihat pusat belanja coklat sebelum ke Polman besok, sekalian cari tahu model swalayan terbaru atau kios-kios,” kurang lebih begitu pesannya via email.

Okemi, lesssgooo!

Saya tidak bertanya lebih jauh lagi, sebab peneliti selevel dia pastilah sudah punya alur dan muara.

“Saya hanya mau observasi, begitu saja,” katanya saat kami meninggalkan Ibis Budget Hotel di bandara. Di tengah jalan, saya sempat mengontak Ome Khomeiny, teman cetar yang kerja di PT MARS, ‘penguasa’ semesta Snickers dan produsen bubuk dan butter kakao.

“Maaf kanda, saya lagi di Luwu Timur, mungkin bisa bertemu di atas tanggal 20-an,” katanya via WA call.

Destinasi pertama Dapur Coklat di Jalan Pengayoman. Kami diterima oleh seorang perempuan yang ramah. Dia bercerita tentang Dapur itu, Tentang asal kakao, dapur produksi dan relasi antara perusahaan di Jakarta dan bagaimana kue-kue berbahan coklat mengisi dapur itu.

Di Dapur Ciklat (dok: K. Azis)
(dok: K. Azis)
Thanks for visiting (dok: K. Azis)

Shimoda tertarik dengan model kue coklat. Dia mengamati dan bertanya bagaimana teknik bikin kue hingga menjaga keawetan kue. Dia juga minta izin untuk memotret salah satu model kue berbentuk masjid.

“Indah sekali,” katanya.

Dia membeli beberapa biji kue, kue yang menurutnya bisa jadi sampel riset.  Informasi yang diperoleh adalah sebagian kue-kue yang ada dikirim dari Jakarta sementara kue-kue khas ulangtahun, sebagian diolah di Dapur Coklat.

Tidak ada informasi pasti asal muasal bubuk kakao atau butter-nya.

Kami lalu pamit dan bergeser ke lokasi lain. Kali ini di The Harvest, persisnya The Harvest, Patissier & Chocolatier. Nama ini, informasi yang diberikan oleh karyawan Dapur Coklat. Tempatnya strategis, di Jalan Boulevard, jantung bisnis modern Kota Makassar atau tidak jauh dari Mall Panakukang.

Di The Harvest ((dok: K. Azis)
Koleksi di The Harvest (dok: K. Azis)

Di The Harvest kami diterima tiga orang karyawan. Seorang pria dengan rambut seperti diwarnai sangat ramah dan bercerita tentang The Harvest.

“Belum genap setahun di sini,” katanya terkait rumah coklat ini. Sekali lagi tempatnya luar biasa. Ada tiga baris meja kecil dan sederet bangku panjang untuk santai sembari menikmati kopi atau minuman coklat hangat.

Di The Harvest (dok: K. Azis)
Interior The Harvest yang memukau (dok: K. Azis)

Shimoda terlihat membeli beberapa kue coklat. Dia terlihat senang dan sesekali memutar pandangan ke ruangan artistik itu. The Harvest rupanya sudah lama beredar di Jakarta, pemiliknya orang Srilanka. “Sepertinya saya pernah dikirimi kue The Harvest, sekira 15 tahun lalu,” aku Shimoda.

Di sini, asal muasal bubuk kakao atau butter juga tidak diketahui tetapi semuanya dikendalikan di Jakarta.

“Jadi ini juga dikirim dari Jakarta,” kata karyawan The Harvest yang di papan namanya tersebut Tamrin atau Lukman, agak lupa saya. Di sini, Shimoda memotret kendaraan roda dua yang disulap jadi pengantar kue-kue The Harvest.

Dari The Harvest, kami bergerak ke Chocholicious. Ndak jauh amat.

Nah! Informasi ini sebelumnya saya dapat dari Komunitas Blogger Makassar. Saya bertanya di mana gerangan tempat bertanya tentang kue-kue berbahan kakao. “Kami ada beberapa tempat, pusatnya di Pettarani,” kata Eka, perempuan berhijab yang menerima kami.

Terkagum-kagum pada Chocolicious (dok: K. Azis)
Jalkots khas Chocolicious (dok: K. Azis)

“Yang punya dokter gigi, dia tinggalkan profesi dokternya dan fokus di bisnis kue,”kata Eka yang saat itu ditemani Kiki, ada seorang lagi. Ketiganya berhijab. Teduh juga melihat tempat yang menawarkan aneka kue ini. Shimoda terkesan dengan jalangkote yang terlihat gosong. “Nah kalau ini pakai tepung impor Jepang,” jelas Eka. Shimoda terkesima.

Soukha? Begitukah?,” tanyanya.

Bersama Eka dan Kiki (dok: K. Azis)
Thanks for coming (dok: K. Azis)

Kami, saya, Shimoda dan istri pulang dari Chocolicious dengan menggamit sekantong plastik kue White Crispy Cookies.

“Ini gratis untuk kita’,” kata Eka dengan senyum mengembang,

“Ohhhh…so sweet!”

Setelah itu, kami mengitari beberapa sudut Panakukang, mampir di Indomaret, menyaksikan bagaimana Indomaret juga dikelilingi kios kue atau kuliner Kebab Turki seperti yang terlihat di Pengayoman.

Dari sini kami berputar ke Bau Mangga dan mampir di Toko Mama Kue. Tujuannya selain untuk makan sore juga untuk mengamati bagaimana toko kue yang menjadikan kue-kue khas Bugis-Makassar sebagai pemantik selera.

Karena lapar saya dan Shimoda memesan soto mie, istri memesan mie bakso. Tak lupa memesan kue khas dan jus.

Di Toko Mama Kue
Toko Mama Kue dan koleksinya (dok: K. Azis)
Menu makan sore kami (dok: K. Azis)

“Minum jus jeruk membuat saya sadar saya ada di Indonesia,” kata Shimoda sambil tertawa.

Tempat ini sungguh idaman, tidak salah jika warga kota menyebutnya tempat terasik menikmati kue Makassar dan bercengkerama sembari menikmati teh atau kopi dan lain sebagainya.

Dari Toko Mama Kue, kami ke satu kios di Abdesir, dekat jempatan. Bertanya ke perempuan yang menjaga toko atau kios. Layaknya toko-toko kelontong. Shimoda bertanya tentang beras, obat nyamuk, telur hingga mie instan.

“Nah kalau di sini, mahasiswa atau anak kos bisa beli satu liter beras,” katanya sambil tersenyum lepas.

Shimoda di kios Abdesir (dok: K. Azis)
Ruang depan kios untuk menjajakan minuman ini menarik perhatian (dok: K. Azis)

Toko kelontong menurut Shimoda adalah model yang nampaknay sangat fleksibel untuk masyarakat atau kelompok sosial ‘rentan’. Tapi semakin tersudut oleh perkembangan gera-gerai swalayan besar.

Petang menjelang, kami berputar ke Kampung Buku. Salah satu alasannya bahwa di tempat ini ada banyak buku-buku sosial ekonomi Makassar termasuk informasi hasil riset pasar di Kota Makassar oleh Payo-Payo-nya Dr Ishak Salim.

Di sana, kami bertemu Anwar Jimpe Rahman dan beberapa kawan yang nampaknya baru saja selesai pertemuan. Ada pula Daeng Nassa dari Dapur Hijau serta beberapa supporter Makassar Biennale 2019. Jadilah kami berbagi informasi.

Shimoda tergoda untuk membeli buku, tentang Makassar, salah satunya bercerita tentang sejarah pasar di Makassar. Klop!

Bersukacita di Kampung Buku (dok: K. Azis)

Tak berhenti di situ, karena sudah janjian dengan beberapa alumni Unhas, kamipun bergeser ke Kedai Kanrejawa, di Panakukang. Di sini, selain bertemu dengan beberapa senior juga menikmati kue Pelita nan khas. “Enakkk!” kata Shimoda. (*)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

PT Huadi ‘Menghadap Laut’ Bersama Warga Kayuloe Bantaeng

Unhas Tuan Rumah Pertemuan Dekan Ekonomi se-Indonesia