in ,

Cerita Pak Cido, ‘Dark Dance’ dan Hikmah di Baliknya

Semoga ini tidak terjadi pada pembaca sekalian. Cukup kami saja.

Pak Cido dan koleganya ketika meriset di Pulau Laiya, Polewali dan Balang Caddi (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Sulawesi Selatan mempunyai tidak kurang 300 pulau. Salah satu kabupaten dengan pulau terbanyak adalah Kabupaten Kepulauan Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Ada 120-an pulau dengan konstalasi unik serta akses yang tak mudah.

Pulau-pulau tersebut ada yang hanya ditempuh 15 menit dari daratan utama Sulawesi hingga yang membutuhkan 1 hari satu malam atau bahkan berhari-hari karena ada posisinya yang berada di perbatasan Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.

Nah, bagi peneliti kelautan dan perikanan, dengan konstalasi pulau-pulau tersebut, memberikan beragam kesan dan pengalaman berbeda pula. Tidak jarang, saat mengunjungi pulau-pulau tersebut risiko dan suasana mencekam jadi pengalaman tersendiri.

Perubahan cuaca ekstrem atau cacat alat navigasi kerap terjadi sebagaimana dialami Dr Ir Abdul Rasid Jalil, M.Si dan beberapa koleganya peneliti Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin yang melakukan penelitian di beberapa pulau Pangkep tersebut.

Abdul Rasyid atau biasa disapa Pak Cido ini adalah sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin.

Dia sedia berbagi pengalaman dan inspirasi kepada PerspektifMakassar.id, tidak lama setelah menuntaskan perjalanannya yang didera perubahan cuaca ekstrem.

Hal yang disebutnya sebagai perubahan medan laut yang berubah secara cepat sehingga arah perjalanan menjadi sangat mengkhawatirkan.

Dia memulai ceritanya.

Semua bermula pada pagi pukul 10 lewat 10 menit, di Hari Senin, 19 Agustus 2019 atau dua hari setelah perayaan Kemerdekaan RI. Perjalanan diiringi nyanyian angin, terasa merdu, kami bersukacita di atas kolong laut, penuh canda. Lamat-lamat, kami meniti gelombang yang membuat kami ikut menari.

Perjalanan begitu cepat mungkin karena didorong angin musim timur. Hanya dengan 40 menit kami telah sampai di Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep.  Perahu atau sekoci kami tergolong kecil, meski kecil, dia dilengkapi 2 mesin dengan kemampuan 40 PK.

Kami turun dari perahu, melaksanakan riset sebagaimana tujuan awal kami. Semua berjalan lancar. Antara satu pulau dengan pulau lainnya, Pulau Balang Caddi, Pulau Polewali dan terakhir Pulau Laiya. Ketiganya masih masuk kategori pulau-pulau ‘inner zone’.  

Jika para pembaca ada di Makassar atau Pangkep di sore tanggal 19 ini, mungkin anda juga melihat bagaimana mendung menggantung di pantai barat Makassar bukan?

Di Pulau Laiya kami sempat diingatkan oleh tokoh masyarakat bahwa kondisi cuaca kurang baik.

Di Laiya, ada peringatan tentang angin yang sering muncul tiba-tiba, angin “barubu”, angin kencang yang tiba-tiba bertiup dari berbagai arah.  

Tidak mau membuang waktu di Laiya, setelah semua selesai untuk kepentingan penelitian, mendata dan mencatat informasi relevan, kami bergegas meninggalkan pulau itu tepatnya pukul 15.30 Wita.  

Dark dance

Awal perjalanan berjalan cukup baik. Kecepatan mesin diatur dengan pertimbangan mengikuti irama gelombang.

Kecepatan mesin menggunakan kekuatan yang rendah dengan maksud mencegah hantaman air yang begitu besar. Hantaman gelombang bisa saja berpadu dengan body sekoci yang tidak terlalu tebal.

Letak ketiga pulau destinasi yang dilingkari biru (dok: istimewa)

Waktu berlalu, hari semakin sore, sore menjadi petang. Tiba-tiba angin bertiup kian kencang. “Inikah angin barubu itu?” batinku. Seperti menyanyikan lagi lagunya dengan irama yang begitu besar, diikuti tarian air, begitu besar dan akhirnyapun kami ikut menari. 

Tidak lama berselang, langit menangis. Mengguyut perjalanan kami. Mungkin sedih melihat prilaku kami yang di bumi ini. Tangisnya kian deras dan akhirnya kami tidak mampu melihat titik apapun di sekitar kami. 

Semua gelap tetapi sekoci harus tetap kami pacu, kami bergoyang di atas perahu, semacam tarian “dark dance”. 

Di tengah gulungan ombak dan hujan yang kian menderas, rasa ragu di antara kami pun muncul.  Ada suasana mencekam. “Betulkah arah balik yang kami gunakan ini benar? Jangan-jangan?” begitu batin kami.

Pertanyaan muncul dari mulut saya kepada pengemudi yang bernama Saleh. Bagi saya, Saleh sudah seperti saudara.

Dia menjawab sudah betul. Untuk meyakinkan hal tersebut maka kami mengeluarkan GPS yang kami. Apes, ternyata alat ini tidak dapat bekerja dengan baik karena terkena pengaruh basah.  

Kejadian ini menggiring memori saya ke insiden nun lampau, mengingatkan peristiwa sekitar tahun 1995 atau 1996. Saat itu kami pergi memancing dengan menggunakan speedboat dengan kekuatan mesin 250 PK, saya masih ingat, nama speed-nya adalah Queen.

Yang ikut adalah Prof. Rahman Rahim (almarhum), HM. Imran Arief, SH. MH (mantan Ketua P2KKN Unhas, Drs. Nuralim dan 2 orang krew kapal.  

Saat itu, kami pulang dari Pulau Langkai saat sore hari dan di tengah perjalanan kami dihantam badai yang cukup besar dan mengakibatkan kehilangan arah. Kening nakhoda speed pecah karena terkena atap speedboat yang lepas.

Saya juga ingat bagaimana mengeluarkan air dari speedboat yang tergenang air laut, tidak kurang 100 jerigen yang harus dikuras. 

Lantaran cuaca ekstrem, laut ganas, kami terdampar di salah satu pulau kosong (saya lupa namanya) dan selama 1 malam kami beristirahat di sana dalam kondisi basah, lapar, kedinginan dan berbagai macam perasaan yang menakutkan.  

Seluruh keluarga kami di Makassar mencari dan akhirnya kami dapat dievakuasi pada esok harinya dengan speedboat yang lain.

Kembali ke cerita awal.

Kami pun bersepakat untuk menentukan arah yang harus diikuti, kemudi sekoci sedikit saja pergeserannya akan dapat mengakibatkan arah yang berubah cukup besar.  Saleh tetap yakin bahwa arah yang dituju sekarang sudah sesuai dengan arah kota Makassar. 

Di tengah kondisi yang tidak menentu, Allah SWT menerima doa kami, menolong kami. Langit berhenti menumpahkan tangisannya, suasana mereda. Cuaca membaik ketika malam menjelang. Kami pun mampu melihat titik lain sebagai patokan arah menuju Kota Makassar tercinta.

Alhamdulillah kami sampai pukul 18.30 atau selisih 2 jam 20 menit saat pergi.

Berbagi inspirasi

Rasanya sangat beralasan jika kami menarik hikmah atau mengambil inspirasi dari cerita dramatis di atas. Ada beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian saat kita beraktivitas di laut.

Pertama, persiapkan fisik dengan baik, kita tak tahu apa yang akan terjadi di lautan, cuaca yang kita lihat baik pada pagi hari belum tentu sama di menit-menit berkutnya.

Kedua, buat perencanaan yang matang, terutama menyangkut BBM. Sebaiknya memberikan cadangan sebesar 15-20 % dari kebutuhan normal.

Ketiga, siapkan selalu pelampung (life jacket), jangan sungkan untuk meletakkan di dekat anda atau kalau perlu segera kenakan. Tidak usah malu disebut, ‘anak laut kok takut air laut’.

Keempat, bawalah peralatan pendukung walau kemudian tidak digunakan, antara lain GPS, power bank, bateray dll. Ini niscaya untuk peneliti kelautan dan perikanan tetapi pastikan untuk mengecek power atau arus listrik, batere atau dayanya.

Kelima, siapkan makanan yang tahan lama, minuman secukupnya.

Keenam, bawalah baju ganti yang cukup dan selalu mengikutkan jas hujan meski hari terlihat terang, atau sedang musim kemarau di daratan utama.

Ketujuh, pastikan untuk menentukan atau merekam titik setiap lokasi yang penting. Catat atau simpan di memori gear seperti GPS atau di gadget Android anda. Ada banyak aplikasi mengenai ini.  

Kedelapan, tetap kompak, kerja bersama tim dan hindari mendominasi dalam pengambilan keputusan. Tetap tenang meski ‘tarian’ sungguh bikin mencekam.

Kesembilan, berilah nomor ponsel tim kepada keluarga terdekat. Catat dan beri update, di mana lokasi start, destinasi dan rute perjalanan anda. Jangan pergi diam-diam apalagi disertai amarah.

Kesepuluh, jangan panik, dan berpikirlah selalu dengan tenang. Selalulah berdoa

Bagi anda sekalian, bagi pembaca artikel ini, semoga kisah ini hanya menjadi pengalam kami saja dan semoga yang terakhir. Aamiin Ya Rabbul Alaamin. (*)

Tamalanrea 19 Agustus 2019

Penulis: Dr Rasyid Jalil

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

WD 3 FH Unhas, Dr Hasrul: Mari Bergandeng Tangan, Jangan Terpengaruh Provokator

Suatu Sore di Kantin FEB Pasca Sarjana Unhas