in

Persatuan yang Retak

Ilustrasi persatuan (sumber: google)

OPINI, PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Muhd Nur Sangadji, dosen, penulis sekaligus pengajar mata kuliah Pancasila di Universitas Tadulako Palu menuliskan pandangannya pada situasi Indonesia kontemporer terutama sejak merebaknya gejala disharmoni sosial di tanah air. Mari simak!

***

Saya pernah membaca sebuah tulisan. Satu waktu, Bung Karno bertanya kepada Presiden Yugoslavia, Josip B. Tito.  Tuan Tito. “Jika Anda meninggal nanti, bagaimana nasib bangsa Anda?” Dengan bangga, Josip berkata, “Aku memiliki tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsa kami,” jawabnya.

Setelah menjawab pertanyaan ini, Josip balik bertanya, “Lalu bagaimana dengan negara Anda, Sahabatku?”. Dengan tenang dan santai, Bung Karno berkata, “Aku tidak khawatir, karena aku telah meninggalkan untuk bangsaku.   Sebuah ‘Way of life’, yaitu : “Pancasila”, “the five fundamental principles of Indonesia”.

Para ahli sejarah di Serbia berpandangan,  Indonesia adalah negara yang paling mungkin pecah   dibandingkan Yugoslavia.  Alasannya,  karena wilayahnya tidak terpisah-pisah dan tidak beretnis sebanyak Indonesia. Namun faktanya,  bangsa Yugoslavia pecah berkeping menjadi negara-negara kecil seperti Serbia, Kroasia, Bosnia, dan lain-lain.

Mereka lalu mengubah pandangan. Ternyata, Indonesia kata mereka, lebih beruntung karena memiliki pegangan hidup yaitu  Pancasila yang menyatukan penduduknya yang terdiri atas berbagai suku/golongan dan memeluk berbagai agama dan kepercayaan.

***

Saya secara individu, juga berpikir begitu. Bahkan, mengalaminya. Tahun 1996, saya bicara di hadapan mahasiswa internasional di Kota Lyon Prancis. Mereka tergabung dalam asosiasi mahasiswa asing di kota Lyon, Les Association des etudiants etranger en France.

Waktu saya bicara tentang Indonesia dengan pluralismenya. Ada seorang mahasiswa asal Inggris berkomentar. Katanya, di Europa ini harusnya negara-negara ini bersatu. Tapi, mereka malah pecah menjadi negara kecil-kecil. Padahal, secara kultural dan geografi sangat dekat. Indonesia adalah negara yang harusnya pecah karena banyaknya perbedaan, tapi malah bersatu.

Kala itu,  saya dengan tanggap menjawab, “perceque nous avon Pancasila”, karena kami punya Pancasila. “Nous some deferements, mais unite”, Bhineka Tunggal Ika (kami berbeda tapi, kami satu).

Satu tahun kemudian, 1997, Indonesia dilanda kerusuhan masal yang memaksa turun Presiden Suharto. Saya sembunyi kepalaku di bawah bantal sambil mengingat wajah mahasiswa asing di kota Lyon kala itu. Saya malu, walau tidak lagi saling menatap.

Ketika artikel ini saya tulis kembali di segmen waktu kemerdekaan ini. Tiba tiba Papua bergolak. Alasannya Karena ketersinggungan. Kabarnya hanya karena dikatai binatang. Memang penghinaan serius.

Karena itu, tugas serius dan berat  adalah, pertama, urus sebab musababnya secara objektif dan adil. Kedua, upaya terus menerus, mencabut dari pikiran anak negeri tentang penghinaan manusia atas manusia.  Tidak boleh ada rasa lebih, antara satu etnik atas etnik yang lain. Itu, nilai universal yang dijunjung secara mondial. Semua manusia harus respek atasnya. Mulailah itu semua dari rumah tangga dan sekolah dasar kita.

Tapi di balik semuanya, saya merenung dalam-dalam.  Begitu mudahnya  kerusuhan tercipta di tanah kita. Cukup dengan menghina atau mengadudomba suku dan agama. Kita bakal memanen malapetaka perpecahan. Persatuan kita memang masih rapuh. Walau kita telah berumur 74 tahun. Merdeka! (*)

Editor: K. Azis (blogger di www.denun.id)

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

RIKEN – Unhas Perpanjang Kerjasama Riset Benih Padi

Menikmati Soto Banjar di Cafe 36 Sungguminasa