in ,

Makassar Biennale 2019, Demi Kota Seni Rupa Dunia

Makassar Biennale 2019 dirancang sebagai ruang persentuhan dan dialog seni rupa dan intelektualitas mutakhir berskala internasional di Sulawesi Selatan

Anwar Jimpe Rahman (ujung kanan, berkacamata)

PESPEKTIFMAKASSAR.ID – Program prestisius dan strategis Makassar Biennale 2019 siap digelar. Tema yang diusung meliputi migrasi, sungai dan kuliner.

Pilar penopang program ini adalah Yayasan Makassar Biennale, organisasi yang didirikan oleh praktisi dan akademisi yang bekerja di seni rupa di tahun 2016.

“Spirit program ini adalah pada penciptaan ruang dialog antara seni rupa dengan dimensi kehidupan lainnya,” kata Anwar Jimpe Rahman, penulis sekaligus salah seorang pendiri yayasan saat ditemui PerspektifMakassar.id di Kampung Buku Ininnawa, Panakukang, 24 Agustus 2019.

Melalui yayasan itu, Makassar Biennale (MB) diharapkan dapat menjelma sebagai ajang seni rupa internasional dua tahunan bertema abadi “Maritim” sebagai forum dan kerja-kerja kebudayaan dan melaksanakan serangkai program.

“Tujuannya secara umum untuk mengembangkan wacana dengan menggelar pameran, seminar, diskusi, atau sejenisnya termasuk publikasi. Ini juga sekaligus sebagai ruang pendidikan dalam arti seluas-luasnya bagi kalangan muda. Wadah kolaborasi bagi individu dan komunitas jaringan Makassar Biennale,” demikian penjelasan Jimpe, sapaan akrabnya.

Menurut Jimpe, ada tiga subtema yang di-cover Makassar Biennale 2019 selama pelaksanaan 1 September – 31 Oktober 2019 .

“Tiga tema yang kita anggap dapat mendampingi tema utama maritim yaitu migrasi yang memungkinkan berlangsungnya perkembangan yang tak terhingga, pada ras, barang, jasa, pemikiran, hingga wabah,” ucapnya.

“Lalu Sungai, penghubung hulu-hilir, sekaligus menunjukkan komitmen Makassar Biennale dalam mengusung tema “Maritim” sebagai sebuah ekosistem, bukan terbatas pada wilayah perairan laut,” lanjut pria yang telah banyak menghasilkan buku-buku seni dan kebudayaan ini.

Lalu, yang ketiga, lanjut Jimpe, adalah kuliner, salah satu bagian terpenting dalam kebudayaan manusia sekaligus segi yang sangat terbuka dielaborasi dalam ajang seni rupa, baik sebagai seni rupa maupun festival kewargaan.

Makassar Biennale 2019

Ragam kegiatan

Pelaksanaan Makassar Biennale pada 2019 akan menekankan pada penyikapan isu-isu kemasyarakatan dengan menumbuhkan penyebaran pengetahuan dalam berbagai praktik.

“Mulai dari dialog, praktik dan belajar bersama dalam bentuk residensi, hingga kegiatan berbentuk ekspedisi yang melibatkan masyarakat luas dan beragam pihak-pihak yang dipandang penting terlibat,” tambah jebolan Fisip Unhas ini.

Makassar Biennale 2019 akan menekankan pendidikan dan riset kebudayaan masyarakat maritim secara luas, mengarusutamakan dan mengelaborasi wacana maritim, dan kerja bersama antara komunitas dan masyarakat tempatan, kawasan, bangsa, dan negara.   

Di pelaksanaan Makassar Biennale 2019 nanti, ada beberapa kegiatan kegiatan akan diselenggarakan seperti pameran utama, menampilkan berbagai bentuk presentasi artistik, dari dua dimensional, instalasi, patung, kriya (craft), media campuran (mix media), hingga seni peristiwa (happening art) di sejumlah lokasi, seperti museum, perpustakaan, komunitas-komunitas di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat

Lalu ada kegiatan paralel seperti open studio seniman, bedah buku, diskusi panel, workshop.

Sebelumnya telah ada Residensi, yaitu memberi kesempatan kepada sejumlah seniman untuk bekerja selama sebulan penuh di beberapa tempat yang dipilih penyelenggara, yakni Kabupaten Bulukumba, wilayah yang dikenal sebagai pusat pembuatan kapal pinisi; permukiman pesisir berpenduduk padat di Makassar; Parepare sebagai kota masyarakat Pambusuang dan masyarakat Tinambung di Sungai Mandar di Polewali Mandar.

Berikutnya adalah penyelenggaraan Simposium Seni Rupa dan Masyarakat Maritim sebagai ruang untuk membicarakan berbagai topik tentang seni rupa kiwari (kontemporer) Indonesia dan isu kemaritiman.

Ada pula program penulisan Seni Rupa, pelatihan kepenulisan bidang seni rupa dari ulasan pameran, praktik kuratorial, hingga kritik seni. Kemudian, lokakarya Seniman serta magang, upaya dalam membuka peluang belajar dan bekerja bagi para profesional muda, mahasiswa, dan kalangan pelajar lain.

Tak ketinggalan, pameran bagi komunitas dan usaha kecil menengah Makassar dan sekitarnya; memberi ruang dan peluang bertemu para pelaku UKMK untuk membangun jaringan dan saling belajar.

Menurut Jimpe, Makassar Biennale 2019 dirancang sebagai ruang persentuhan dan dialog seni rupa dan intelektualitas mutakhir berskala internasional di Sulawesi Selatan.

“Harapannya bisa berkontribusi dalam pengembangan seni rupa dan praktik-praktik jaringan seni kebudayaan di Indonesia. Menjadikan peristiwa seni rupa dua tahunan ini sebagai ruang berdialog, saling belajar, dan bertukar pengetahuan/tradisi segala lapisan masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, jelas Jimpe, diharapkan dapat membangun pameran berskala internasional ini sebagai salah satu tujuan wisata pelesir dan wisata belajar di Kota Makassar, Bulukumba, Parepare, dan Sulawesi Barat. Menjadikan Kota Makassar sebagai kota jaringan seni rupa dunia. (*)

Editor: K. Azis.

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Layanan Dukcapil Diputus, Arqam: Komisi II DPR-RI Harus Panggil Mendagri

Warga Tamalanrea: Macet Depan Polda, Gambaran Ketidakberdayaan Institusi