in

Sampah, Losari dan Pattasaki

Pattasaki beroperasi (www.cahayaditama.blogspot.com)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Daeng Beta, (69) menusuk gelas-gelas plastik yang berserak di tepi pantai Losari dengan stik besi. Ujungnya mengkilap, batangnya berkarat. Matahari mulai meninggi di atas Kios Semarang, waktu sekitar jam 9 pagi, pada suatu hari di September berangin.

“Kabbulampe, saluara’ lalang baine,” umpat Daeng Beta ketika dilihatnya selembar pakaian dalam warna ungu mengapung di depan matanya. Riak dan lidah air mempermainkan obyek yang tak dikehendaki pria yang tinggal di sekitar Lelong Rajawali itu.

Meski terganggu oleh celana itu, Beta pulang ke Rajawali dengan memanggul tidak kurang 20 kilo benda plastik dan beberapa sepatu bekas. Terasa berat sebab digandoli pula dua speaker bermagnit yang diserahkan oleh panitia masjid di sekitar Losari.

Indra penciuman Daeng Beta tak lagi paripurna. Disebut demikian sebab menurutnya semua yang ada di depannya sungguhlah beraroma anyir.

Bagi Beta, semua yang diciumnya selalu menuntunnya ke suasana Pantai Losari yang penuh sampah dan air laut yang sungguh berbau.

Itu cerita lazim di kota besar, bukan?

***

Daeng Beta adalah bagian dari perkembangan Losari atau Kota Makassar. Pantai sepanjang 1 kilometer itu diberi nama Losari dan awalnya disebut mempunyai panjang 2 kilo tetapi setelah dibangun rumah, hotel dan toko pakaian, berkurang hingga 500 meter.

Banyak warga terantuk saat malam, juga tak ikhlas saat buka dompet.  Losari menjadi titik teramai di Makassar, letaknya di antara Tanjung Bunga yang sekarang dijejali rumah-rumah mewah dan Jambatang Bassia yang merupakan rumah terbuka bagi kaum penikmat malam dan keringat pagi.

Losari saat ini adalah sebuah ‘kota kecil’ dalam Kota Makassar yang sangat sibuk dengan perayaan-perayaan, pesta, hiburan musik, juga percekcokan, misalnya terkait karcis masuk dan perilaku preman kambuhan.

Orang datang silih berganti. Ribuan orang datang saban hari. Membawa cerita dan bekal sampah.

Di sekitar Losari kita bisa melihat rumah makan, rumah hiburan dan rumah sakit secara bersamaan. Mereka saling mengintai, melalui suara dan juga sumpah serapah bagi yang sakit namun dihibur dengan dentuman musik dan yel-yel.

Satu dekade lalu, Losari adalah warung makan terpanjang di Makassar. Semua tumpah ruah di situ. Tak ada karcis apalagi pembatasan gerobak jual.

Pada saat itu, warga kota, dari Gowa, Takalar, Maros hingga yang dari pulau seberang hanya mengenal Losari sebagai pisang epe dan lumuran gula merah di sekujur pisang gosong.

Bahkan. pada beberapa dekade sebelumnya lagi, Losari (bersama Kayu Bangkoa) adalah juga persinggahan nelayan-nelayan sampan, yang dari Lelong Rajawali atau warga Lae-Lae dan sekitarnya yang hendak mendaratkan anaknya saat hari sekolah.

Kala itu, kita masih bisa melihat anak-anak berenang di tepi laut, riang gembira dan mencari anak-anak ikan di sela batu. Tapi Losari, saat ini telah sangat tercemar dan bau busuk menyengat dari moncong-moncong kanal hunian orang-orang dan instansi.

Saat ini, meski sampah dan bau busuk menyeruak di tepian Losari, orang-orang tetap saja datang. Tak berenang tapi main bebek-bebek atau pacaran.

Orang-orang seperti terbiasa meski bau yang didapati lebih buruk dari bau pelelangan ikan sebab bercampur residu rumah, hotel dan bahkan rumah sakit.

Di Losari, pada musim barat, tumpukan sampah memadati tepiannya. Berkumpul di bawah Masjid Amirul Mukminin memberi kesan bahwa Losari telah tercemar dari laut dan daratan. Kotoran, sampah, ada di mana-mana.

Sampah datang dari darat dan laut, namun itu yang ditunggu-tunggu Daeng Beta, pria penusuk gelas plastik.

Pattasaki Daeng

Membicarakan Losari, bukan hanya Daeng Beta anasirnya, Losari adalah fragmen perkembangan kota Makassar yang merefleksikan pertarungan ruang, perilaku warga atas perubahan eksternalnya, daya kreasi sekaligus daya tahannya.

Daeng Beta adalah bagian dari daya tahan warga kota tetapi sekaligus parameter betapa sampah telah direproduksi dengan sadar dan nyaris tanpa antisipasi berarti dari pemangku kepentingan.

Memang, telah ada inisiatif Pemerintah Kota terkait penanganan sampah ini namun belum menyelesaikan hulu hilir persampahan. Telah ada perahu-perahu yang disiapkan oleh Pemkot Makassar yang bernama ‘Pattasaki’ juga siap sedia menanti sampah yang masuk ke kolom laut Losari.

Pattasaki adalah program pemerintah kota yang menyediakan perahu pemungut sampah. Pattasaki, adalah singkatan dari Perahu Angkutan Sampah Kita.

Oh iya, ihwal singkatan ini, Pemerintah Kota Makassar jagonya. Mulai dari LISA, Lihat Sampah Ambil, hingga Aparong, Apartemen Lorong. Dalam bahasa Makassar, Pattasaki berarti membereskan atau membenahi, biasanya disematkan pada usaha membereskan rumah agar terlihat rapid an bersih.

Skema Pattasaki dilengkapi oleh perahu tradisional yang menggunakan motor tempel. Dia adalah 2 buah perahu sepanjang 7 meter dan saling terhubung pada bagian tengahnya. Terdapat jaring dan bak tampung sampah.

Di Losari, meski ada Pattasaki namun tidak serta merta mengurangi animo anak-anak kecil untuk merasakan mandi air laut. Sampah boleh datang, Pattasaki boleh beroperasi, tetapi mereka tetap memberi sinyal tentang pentingnya ruang gratis untuk mandi-mandi, rekreasi dan bersenang-senang layaknya kaum muda.

Pattasaki adalah juga upaya mitigasi. Adalah ‘cure for the itch’, menggaruk pada yang gatal di seluk kota. Sejatinya tak harus menghabiskan dana banyak untuk urusan ini, sebab yang lebih penting adalah kesadaran warga kota, bukan?.

Lalu, yang harus disadari bahwa sampah kota, plastik, limbah buangan, dan segala yang dibuang ke laut sesungguhnya tak pantas dan memang bukan wadahnya. Untuk membereskannya, selain butuh kesadaran publik, Pemerintah Kota harus menyiapkan tempat sampah yang bisa diakses oleh pengunjung, dua kali lebih banyak serta memberikan sanksi. Lalu perbaiki kesan buruk dari tempat sampah ‘Gendang Dua’ yang terlanjur cacat dan berkasus itu dengan inovasi yang lebih baik dan teruji.

Lalu, permintaan kita untuk Wali Kota nanti, harusnya menyiapkan alternatif tempat sampah bervolume besar di lelorong, tidak usah yang mahal, operasionalkan pengumpul sampah lebih banyak dari sekarang.

Yang pokok, tegakkan aturan untuk menghukum sesiapapun yang terlihat buang sampah sembarangan termasuk di anjungan Pantai Losari.

Perda sampah yang ada dibuat lebih bertenaga dan operasional dan dimonitoring efektivitasnya secara berkala. Jangan sekali disahkan, setelah itu mati. Atau tulis saja ketentuan besar-besar, di gerbang masuk Losari.

“Barang siapa yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan di areal Anjungan Losari akan dihukum dengan menari sehari semalam di panggung anjungan,” misalnya.

Yang lain, jika ada program ‘Subuh Berjamaah’ ala Pemkot Makassar, jangan lupa berdoa khusyuk, semoga kesadaran warga juga semakin meningkat untuk tidak buang sampah sembarangan di Losari.

Btw, Pattasaki masih beroperasikah?

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Guru Besar Unhas Berbagi Kiat Peningkatan Sektor Pertanian di Gowa

Ocean Defender Greenpeace Ajak Para Pihak Bahas Terumbu Karang KTI