in

Kontak Seksual di Luar Nikah, Halal?

DR. Muhammad Sabri AR, M.A (dok: istimewa)

OPINI, PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Muhammad Sabri, Direktur Pengkajian Materi BPIP RI berbagi perspektif tentang disertasi doktoral M. Azis terkait kontak seksual di luar ikatan pernikahan. Mari simak pokok pikiran yang berseliweran di jagad Whatsapp itu.

***

Jagat “pemikiran Islam” di Indonesia tiba² gaduh, menyusul simpulan disertasi doktoral M. Azis,  dengan meminjam perspektif pemikir liberal asal Suriah M. Syahrur, bahwa “milk yamin” dalam teks Al-Quran ( malakat aymanakum ) adalah “pintu masuk” yang memungkinkan kontak seksual di luar ikatan pernikahan ( non marital ), halal.

Sahabat²ku yang budiman.

Kita musti arif dalam meletakkan teks suci sebagai sumber istinbath hukum Islam. Metode yang ditawarkan Syahrur sejatinya, pendekatan “kontekstual” terhadap teks.

Sementara, jika memperhatikan teks-teks yang  diungkapkan Syahrur,  (dan juga penulis “disertasi” M. Azis)  sejatinya,  berambisi mengaktualkan kembali “tradisi” Arab pra-Islam, seperti praktik “perbudakan”, “potong tangan”, dst yang sesungguhnya,  Al-Qur’an hadir justru mengeritik secara substabsial praktik² tradiri Arab pra-Islam tsb.

Sejatinya, prinsip intrinsik tradisi hukum Islam yang diinspirasi Al-Quran misalnya ttg  proses “hukum” minuman keras dan juga “poligami” mengalami apa yang disebut al-tadrij fi al-tasyri’, yakni penetapan  hukum yang bergerak secara gradual kepada arah yang lebih baik dan sempurna.

Terkait dengan “milk al-yamin” sebagai praktik kontak seksual non marital pra-Islam yang diintrodusir kembali Al-Quran,  secara al-tadrij fi al-tasyri’  praktik tsb akan sirna menyusul rubuhhya realitas “perbudakan” di abad modern bahkan posmodern.

Karena itu,  ketika Syahrur ingin “merasionalisasi” teks “milk al-yamin” sebagai jastifikasi halal terhadap kontak seksual non marital pada konteks modern, ia kehilangan “pijakan” perihal “budak”, sehingga yang dia blow up kemudian adalah “kepemilikan” (milk) dan bukannya “budak” (yamin).

Dengan begitu,  ketika Syahrur bermain “akrobat” perihal kontak seksual yang dibolehlan di luar nikah tapi musti via “perbudakan”, gagasannya pun macet, (karena praktik dan konsepsi “perbudakan” telah sirna dalam peradaban manusia kontemporer).

Di titik tersebut Syahrur lalu melakukan komodifikasi “kebolehan kontak seksual di luar pernikahan” , namun ia telah “kehilangan subyek” budak, sebagai alas aktualnya.

Di sinilah anomali  ontologis dan juga epistemologis telah mengerkah pikiran dan metodologi Syahrur karena merujuk ke “teks suci”, malakat aymanakum yang sejatinya telah kehilangan konteksnya di masa modern ini.

Syahrur, juga metodologi hukum Islam yang diajukannya, sebab itu, tidak saja gagal “mengurai kebuntuan” rasionalisasi kemungkinan (istilah pejoratif Syahrur dan M. Azis sang penulis disertasi) kehalalan kontak seksual “non marital” , tapi sekaligus ia terjerumus pada apa yang diandaikan  philosophy of science sebagai epistemologi dan aksiologi “yang mengelak”.

Salam Pancasila.

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Perwakilan Wantimpres Tandang ke Galesong

Hamka Muslimin Dilantik Jadi Anggota DPRD Lutra Periode 2019-2024