in ,

Pengamat FIB Unhas: Belajarlah pada Kearifan Kerajaan Gowa-Tallo

Dr Amrullah (ujung kanan)

MAKASSAR, PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Nama Dr. Amrullah Amir, M.A, akademisi FIB Unhas sempat jadi perbincangan ketika menulis opini dalam bulan September 2017, kala itu dia dengan tegas membela para pengungsi Rohingya di Makassar.

Dia mengingatkan bahwa di zaman dahulu Makassar adalah negeri yang ramah kepada para pengungsi dari segala negeri tanpa memandang suku dan agama mereka.

Hal tersebut dia kembali ingatkan saat menjadi pembicara pada acara Makassar Biennale 2019 di Ruang Teater Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, 02/09/2019.

Amrullah menjadi pembicara pada simposium Makassar Bienalle 2019 bertema “Migrasi” bersama Chen wei-Lin yang mengulas Migrasi Orang Indonesia di Taiwan lalu Fan Chon Hoo tentang Pengalaman sebagai Tionghoa di Malaysia. Amrullah merefleksikan Migrasi Melayu di Sulawesi Selatan dan dimoderator Dhuha Ramadani

Amrullah, akademisi FUB Unhas, meraih gelar Master of Arts dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta pada tahun 2010. Pada tahun 2015, memperoleh Doktor Falsafah dalam bidang Sejarah di Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universitas Kebangsaan Malaysia.

Dia kini aktif dalam penelitian dan penerbitan bertema sejarah sosial dan budaya masyarakat Melayu. Bukunya berjudul Pedagang Melayu di Sulawesi Selatan: Identiti dan Kuasa, bersama Nordin Hussin adalah salah satu masterpiece-nya.

Karena itu, pelaksana Makassar Biennale 2019 memberinya panggung untuk berbagi perspektif terkait ‘migrasi orang Melayu’.

Menurutnya, Makassar di masa lampau diakui sebagai pusat perdagangan yang ramah kepada orang asing. Kita bisa belajar bagaimana Kerajaan Gowa-Tallo di masa itu menerima para pendatang seperti Melayu.

“Dalam bertoleransi menerima pendatang, belajarlah pada Kearifan Kerajaan Gowa-Tallo,” katanya saat memaparkan sejarah relasi Melayu dan Gowa-Tallo sejak lama.

Dia bercerita tentang Datuk Maharaja Lela yang diterima dengan baik oleh Karaeng Matoaya penguasa kerajaan Tallo.

Menurut catatan sejarah, Datuk Maharaja Lela adalah bangsawan kerajaan Melayu Patani dan para pengikutnya yang meninggalkan negeri karena konflik politik di dalam istana. Mereka berlayar mengikuti arus laut dan sempat terdampar di Pulau Liukang di Laut Flores. Sejumlah pengikut kerajaan Tallo menemukan mereka dan melaporkannya kepada raja Tallo. Raja kemudian mengundang mereka untuk menetap dan diberikan pemukiman di Kaluku Bodoa.

“Orang Melayu bahkan diberi kekuasaan khusus, semacam negara dalam negara,” katanya.

Pada acara Makassar Biennale 2019 tersebut, Amrullah berbagi perspektif tentang bagaimana anak keturunan asal Melayu bermukim dan menjalin hubungan kekerabatan dan menjadi terhormat di Sulawesi Selatan. Dia juga bercerita tentang silsilah garis darah Melayu dan menurunkan bangsawan keturunan Bugis-Melayu di Pancana.

Amrullah menyebut bahwa ada banyak contoh baik dari masa lalu tentang harmoni hubungan ini. Dia menunjukkan bahwa para pemimpin seperti di Kerajaan Gowa-Tallo dapat menjadi inspirasi tentang bagaimana bersikap baik kepada mereka yang bermigrasi karena alasan kemanusiaan.

“Jangan sampai kita membenci pendatang tetapi justeru kitalah bagian dari pendatang itu. Sama dengan anggapan, kita merasa sangat Makassar sementara yang lain pendatang, padahal kita juga berasal dari tempat yang sama dengan si pendatang,” tutupnya. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Faperta Unhas Gelar Konferensi Internasional FSSAT 2019

Dies Natalis Unhas ke-63, Deklarasi Percepatan Pencegahan Anak Kerdil