in ,

Terumbu Karang di Perairan Makassar Masih Sering Dibom

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID– Sulsel lekat dengan tradisi maritim. Baik dalam hal navigasi atau transportasi laut maupun sebagai rumah bagi suku-suku pengelana samudera. Di Sulsel pula, isu destructive fishing seperti penggunaan bom ikan dan bius disebut masih menjadi pilihan para nelayan.

Kenyataan tersebut diperkuat oleh temuan Tim Pembela Lautan (Ocean Defender) Greenpeace Indonesia ketika melakukan penyelaman di sekitar perairan Pulau Barrang Lompo, Barrang Candi, dan Kodingareng Keke, dalam wilayah perairan Kota Makassar, hub Sulsel.

“Kami menyelam di tiga titik dalam satu hari, dan selama penyelaman, kami mendengar tiga kali suara bom ikan,” kata Ria Qorina Lubis, Fotografer Bawah Laut Pembela Lautan Greenpeace Indonesia melalui siaran pers, Rabu (4/9).

Menurutnya, bila tidak ada pengawasan dan penegakan hukum yang kuat, saya sangat khawatir tidak lama lagi karang di Kepulauan Spermonde ini akan habis.

Ria menyampaikan itu setelah menyelam pada 31 Agustus 2019 di tiga titik tersebut.

“Sekitar lima atau enam tahun lalu saya pernah menyelam di perairan tersebut, meskipun mendengar suara bom juga saat penyelaman, tapi saat ini kondisi terumbu karang yang ada jauh lebih rusak dibanding dulu,” katanya.

“Kesehatan terumbu karang di kawasan Spermonde maupun di berbagai daerah lain di Indonesia, harus menjadi perhatian serius pemerintah, karena perannya sangat strategis bagi kehidupan pesisir,” tambah Syahputrie Ramadhanie, Koordinator Ekspedisi Pembela Lautan.

Menurutnya peran terumbu karang pun sangat penting bagi manusia seperti sumber obat-obatan dan sumber penghasilan bagi para nelayan.

“Kita harus bangun aksi bersama untuk menyelamatkan terumbu karang dari praktik penangkapan ikan dengan peledak dan bius ikan,” imbuh Syahputrie lagi.

Karang rusak karena destructive fishing (dok: Ria Qorina Lubis/Greenpeace)

Makassar, sebagai baromoter perkembangan kota di Indonesia mempunyai 11 pulau kecil dan disebut merupakan potensi bagi pengembangan potensi kelautan, perikanan dan pariwisata. Sayangnya, dengan temuan penyelam Greenpeace tersebut maka akan menjadi persoalan serius bagi peluang investasi di Kota Makassar khususnya di Sulawesi Selatan.

“Kita tidak sadar bahwa terumbu karang merupakan salah satu sumber kehidupan bagi kita. Oleh karena itu, kita perlu untuk menjaganya dengan membiasakan diri memulai kebiasaan hidup ramah lingkungan,” tambah Muhammad Irfandi Arief, Ketua Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanuddin.

MSDC bersama Ocean Defender Greenpeace telah menggelar Diskusi Publik terkait terumbu karang di Fakultas IKP – Kampus Universitas Hasanuddin dengan menghadirkan pakar terumbu karang Prof Jamaluddin Jompa, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf S. Latief dan Ria Qorina Lubis sebagai pembicara.

Mengutip Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menurut Ria, jumlah lokasi terumbu karang Indonesia yang tergolong baik semakin menurun.

Data tahun 2018, dari kegiatan pemantauan terhadap 1.067 lokasi, hanya 70 lokasi yang terlihat dalam kategori sangat baik dan 245 lokasi kategori baik. Sementara yang tergolong kategori jelek sebanyak 386 lokasi, atau sekitar 36% dari total lokasi .

Dari pengamatan LIPI, praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan di perairan Spermonde merupakan faktor akibat dari rendahnya kesadaran masyarakat, lemahnya penegakan hukum, dan tuntutan ekonomi.

Kesehatan terumbu karang di perairan Makassar dinilai rendah, masuk dalam rentang poin 1-3, bersama dengan Nias, Lampung, Bintan dan Biak. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Uceng Bertahan di Desa

Unhas Gelar Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Kemaritiman 2019