in ,

Dua Wajah Kontras di Batas Kota

Suasana pagi Jumat, 6/9 di batas kota (dok: K. Azis)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Sedih tapi dengan cara itu jalan bisa lempang. Panas tapi dengan opsi itu, jalur di antara batas Kota Sungguminasa dan Makassar bisa lancar. Di antara Jalan Sultan Hasanuddin Sungguminasa dan Sultan Alauddin Makassar, sejak bertahun terakhir, macet sudah jadi langganan. Karena itu, jalur dari Mallengkeri ke Jl. Syekh Yusuf telah ditutup.

Sementara itu, Jumat, 6 September 2019, di sekitar Polsek Rappocini, di ruas Jalan Sultan Alauddin, tiga orang pria dewasa berdiri di samping dua mobil minibus yang sedang parkir. Semua terlihat rapi. Ada satu kursi plastik tersedia seperti sudah menjadi rutinitas.  

Makassar sedang menggeliat di selatan. Jam kerja telah masuk. Seperti biasa, kendaraan memadat dari arah batas Sungguminasa. Saya lalu mengabadikan suasana pagi itu dengan mengambil gambar.  

Cerita orang-orang yang menunggui penumpang di poros Jl. Alauddin atau di luar terminal Mallengkeri bukanlah hal baru. Sudah lama. Justeru karena sudah lama maka perlu kembali melihatnya sebagai sesuatu yang menarik dibahas, katakanlah pada ranah perencanaan pembangunan kota. Apalagi persis di depan baliho besar seorang bakal calon Wali Kota, Sukrinsyah S. Latief alias UQ.

Bukan hanya fakta tentang alternatif ‘legal’ untuk menggunakan bahu jalan tetapi juga kontradiksi gagasan antara inisiatif membuat poros di batas kota antara Jalan Sultan Hasanuddin Sunggumisa Gowa yang dipilih oleh Pemerintah Gowa atau Sulsel serta realitas berseberangan di Jl. Sultan Alauddin Makassar.

Disebut kontradiksi sebab ketika jalan telah dibuat lempang di Hasanuddin, pohon-pohon raksasa ditebang, bahu jalan diperluas, di Alauddin Makassar, terminal bayangan justeru mengambil bahu jalan dan terlihat oke-oke saja. Inilah yang harusnya menjadi agenda bersama atau setidaknya menjadi komitmen Pemerintah untuk membaca realitas, gejala dan isunya.

Perlu kesungguhan untuk menerapkan pendekatan pembangunan yang efektif, relevan dan berkelanjutan. Apa yang ditempuh di Gowa, seharusnya direspon positif di Kota Makassar, minimal memastikan bahwa ruas jalan utama harusnya tidak bisa jadi terminal bayangan.

Semoga baliho bakal Calon Wali Kota itu sengaja dipasang di sana untuk menjadi sinyal bahwa ke depan, solusi yang adil akan mengubah situasi kontradiktif di batas kota itu. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Sucer dan Inspirasi Membangun Kota

18 Peserta Berhasil Lolos Student Volunteer Batch II