in

Alfian Dippahatang, Mahasiswa S-2 Unhas Terima Program Residensi di Prancis

Alfian Deppahatang (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Bertepatan Dies Natalis ke-63 Universitas Hasanuddin, Alfian Dippahatang, mahasiswa Program Magister Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) menghadiahkan kado dengan terpilih sebagai penerima Residensi Penulis Indonesia 2019.

Alfian, termasuk salah seorang dari 34 nama yang dinyatakan lolos seleksi  bersama seleksi Program Residensi  Penulis yang dilaksanakan oleh Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  dan Beasiswa Unggulan.

Alfian menjelaskan, mereka yang terpilih dan lolos seleksi akan mendapat dukungan dana 1-3 bulan untuk mengikuti residensi. Khusus Alfian akan memperoleh lokasi tujuan residensi di Perancis selama satu bulan, (6/9/2019).

Tujuan program ini mendukung para penulis dalam meningkatkan kemampuan diri dengan cara belajar di tempat yang dituju yang dianggap sesuai dengan kebutuhan riset.

Selain itu, wajib menyelesaikan tulisannya di sebuah tempat yang kondusif, dapat membangun jejaring di dalam dan luar negeri, baik dengan sesama penulis, maupun penerjemah dan penerbit. Selain itu, mengikuti program seperti diskusi, seminar, pembacaan karya, yang diadakan oleh penyelenggara yang telah disepakati oleh 3 pihak; Kemendikbud, Komite Buku Nasional, dan Penulis.

Mereka yang boleh mengikuti seleksi ini harus WNI, berdomisili di Indonesia, dan dalam keadaan sehat.  Penulis setidaknya mempunyai satu buku tunggal (bukan antologi) yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang sudah diterbitkan.

Karya yang sedang ditulis harus dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah dan dapat diselesaikan selama residensi atau sampai waktu yang telah disepakati dan tercantum dalam kontrak. Telah lolos seleksi proposal dan wawancara dan bersedia bekerjasama dan mengikuti program yang disusun oleh Komite Buku Nasional dan Kemendikbud. Yang lain adalah harus mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Untuk program residensi penulis dalam negeri sama dengan syarat sebelumnya, Seleksi program ini tahun 2019 dilaksanakan oleh Komite Buku Nasional dan Kemendikbud, mencakup pendaftaran daring 27 Juli -10 Agustus 2019, pengumuman hasil seleksi 16  Agustus 2019.

Program yang dilaksanakan sejak 2016 tersebut, pada tahun 2019 ini telah menyeleksi 437 aplikasi yang masuk dan akan mengikuti residensi yang berlangsung antara Oktober-Desember 2019.

Selain Alfian, dari Makassar juga terdapat nama Rahmat Hidayat. Peserta seleksi yang lolos lainnya berasal  Jakarta, Lampung, Pekanbaru, Yogyakarta, Depok, Bandung, Kendari, dan sebagainya.

Target  yang ingin diraih dari program ini adalah, adanya sebuah karya yang layak diterbitkan, penulis secara aktif membangun jejaring literasi nasional dan internasional, promosi sastra dan budaya Indonesia melalui keikutsertaan penulis yang mengikuti program residensi dalam acara-acara festival sastra nasional/internasional di tempat dimana yang bersangkutan melaksanakan programnya.

Kusala Sastra Khatulistiwa 2019

Alfian Dippahatang, melalui kumpulan cerita pendek berjudul “Bertarung dalam Sarung” dan kisah-kisah lainnya termasuk salah seorang dari 10 penulis puisi dan prosa  terpilih dalam longlist Kusala Sastra Khatulistiwa ke-19 kategori prosa, salah satu penghargaan bergengsi di Indonesia. Kumpulan cerpen tersebut telah diterbitkanKepustakaan Populer Gramedia Jakarta Maret 2019.

Kusala Sastra Khatulistiwa adalah ajang penghargaan kesusastraan Indonesia yang diadakan tahunan. Karya-karya sastra yang dipilih adalah yang terbit pada rentang waktu satu tahun.

Untuk Kusala Sastra khatulistiwa 2019, karya-karya sastra terpilih adalah yang terbit dalam rentang waktu 2018-2019.

“Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa ke 19. Malam Anugerah Khatulistiwa akan diselenggara pada tgl 16 Oktober di Plaza Senayan. Selamat kepada semua yg terpilih,” tulis Richard Oh pendiri Kusala.

Di bagian prosa ada karya Alfian Dippahatang (Unhas Makassar) ‘Bertarung dalam Sarung’, Eko Triono dengan ‘Republik Rakyat Lucu dan Cerita-cerita Lainnya’, Henny Triskaidekaman dengan novel ‘Cara Berbahagia Tanpa Kepala’, ‘Teh dan Pengkhianat’ karya Iksaka Banu.

Kemudian ada ‘Atraksi Lumba-lumba dan Kisah-kisah Lainnya’ Pratiwi Juliani, ‘Tango & Sadimin’ Ramayda Akmal, ‘Dekat dan Nyaring’ Sabda Armandio, ‘Seekor Capung Merah’ Rilda A.Oe Taneko, dan ‘Jamaloke’ Zoya Herawati.

Di kategori Puisi ada ‘Membaca Lambang’ karangan Acep Zamzam Noor, ‘Karena Cinta Kuat Seperti Maut’ ciptaan Adimas Immanuel, ‘Suara Murai dan Puisi-puisi Lainnya’ Andre Septiawan, ‘Hari Minggu Ramai Sekali’ Eko Saputra Poceratu, ‘Igauan Seismograf’ Halim Bahriz.

Lalu ada kumpulan puisi Hasan Aspahani ‘Aviarium’, ‘Struktur Cinta yang Pudar’ karya Ibe S Palogai, ‘Anjing Gunung’ Irma Agryanti, ‘Keledai yang Mulia’ Mario F Lawi hingga ‘Catatan-catatan dari Bulan’ Rieke Saraswati.

Penulis: M. Dahlan Abubakar

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Bakal Diluncurkan Jokowi, Indeks PK Relevan dengan Visi Kedatuan Luwu

Prof Agnes Rampisela: Perlu Pengintegrasian Agar Sagu Jadi Pilar Ketahanan Pangan