in

Jelang Setahun NA-ASS

Nurdin Abdullah dan Andi Sudriman Sulaiiman (dok: istimewa)

OPINI, PERSPEKTIFMAKASSAR – Saya belum pernah bertemu apalagi berbicara empat mata dengan Gubenur Nurdin Abdullah. Lagian, siapalah saya dan apalah yang bisa diharap dari yang tiada daya mempromosikannya saat Pilkada lalu.

Di jelang setahun menjadi Gubernur, saya masih tetap belum pernah bersua meski dengan beberapa keluarga dan kawan dekatnya telah sempat berbincang dan berbagi pandangan. Tentang dimensi, isu dan solusi apa saja yang bisa menjadi masukan untuk Gubernur Andalan itu. Bagaimana pun setelah menang, NA-ASS harus tetap didukung, bukan?

Sebutlah dengan Prof Yusran Yusuf, ketua TGUPP yang belakangan ini disebut berhasrat maju di Pilkada Maros. Juga beberapa anggota TGUPP yang oleh beberapa kalangan disebut punya relasi kuat dengan Wagub. Demikian pula beberapa keluarga dekatnya yang tak perlu saya sebut.

Saya masih ingat, ada tiga tema yang saya sampaikan kepada Dekan Fakultas Kehutanan Unhas itu saat kami duduk bersebelahan setelah buka puasa bersama di salah satu restoran di sekitar Losari.

Prof Yusran yang tahu kalau saya tidak punya kendaraan lalu menawarkan diri untuk bersama-sama ke sekitar Panakukang.

Tema pertama, adalah menyegerakan agenda pembangunan pesisir dan pulau-pulau Sulsel.

Mempunyai pulau sebanyak 334 membuat Sulsel punya potensi luar biasa di bidang kelautan, perikanan dan pariwisata. Keliru besar jika Gubernur tak meliriknya.

Saya sampaikan kepada Ketua TGUPP itu untuk segera mendalami isu-isu kontemporer ruang laut, memaksimalkan posisi provinsi yang diberi mandat maksimum oleh UU Pemerintahan 23/2014, tentang RZWP3K dan agar bisa memahami realitas, isu dan program apa saja yang bisa didorong, dengan pendekatan teknokratis dan partisipatoris.

Terus terang, saya pernah sungguh kecewa karena saat menyusun dokumen RPJMD, tak satupun ahli Kelautan masuk dalam struktur tim penyusun saat itu. Padahal, Gubernur Nurdin pernah berjanji untuk memprioritaskan pembangunan pesisir dan pulau-pulau sepert di Sinjai, Pangkep, Takalar hingga Selayar.

Kepada Prof Yusran, saya sampaikan kiranya bisa menjadikan Tanakeke di Takalar sebagai ‘lab site’ program. Kawasan ini sungguh penuh potensi sumber daya perikanan dan kehutanan (mangroves). Tanakeke bisa menjadi laboratorium riset dan pengabdian perguruan tinggi dan OPD Sulsel.

Tema kedua, adalah penyiapan infrastruktur untuk menghubungkan pulau-pulau seperti di Kabupaten Pangkaje’ne Kepulauan dan Selayar.

Rumah sakit lengkap untuk pulau-pulau jauh adalah niscaya, demikian pula pelabuhan dengan dukungan sarana prasarana memadai termasuk membangun jalan bagus. Tetapi ini tidak bisa ditempuh tanpa ada sosialisasi dan pembagunan kesepahaman dengan para pihak di daerah. Jangan biarkan mereka hanya sebagai penerima pasif tetapi ajak di desain awal.

Kedua pulau yang disebutkan tersebut adalah pemilik lebih 200-an pulau atau 70 persen dari pulau yang ada di Sulsel.

Rasanya membangun infrastruktur seperti dermaga, pelabuhan, sarana prasarana angkutan domestik, dan kalau pelu cluster ekonomi layaknya Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) sangat masuk akal. Ide ini serupa dengan keinginan politisi Demokrat Ni’matullah Erbe yang menginginkan adanya ‘kawasan cluster ekonomi pesisir’.

Belakangan ini saya melihat potensi pembangunan cluster SKPT (pangkalan pendaratan ikan, cold storage, depot BBM, dll) ini bisa dilakukan di Selayar, di Luwu Raya dan Pangkaje’ne Kepulauan seperti di Liukang Tupabbiring sekitar Dewakang atau Liukang Tangngaya.

Tema ketiga adalah penguatan kapasitas sosial dan ekonomi pesisir dengan melibatkan pelaku kompeten.

Pelajaran penting sejauh ini dari kurangnya program pemberdayaan di pesisir yang berhasil karena tidak pernah disiapkan, direncanakan dan dijalankan secara sungguh-sungguh dan berjangka panjang. Setiap ada kegiatan selalu berbasis tahun.

Jika pun kini telah ada dana desa sebagai ‘peluru pembangunan’, penekanannya pada kegiatan-kegiatan ‘serpihan’, remah dan tak menuntaskan persoalan substansial di desa.

Nyaris tiada upaya yang lebih menyeluruh, fokus dan memberikan kesempatan kepada pelaku usaha perikanan atau kelautan sebagai penginsiatif, mereka hanya sebagai ‘obyek’.

Kelembagaan ekonomi yang ada seperti berseberangan dengan agenda Pemerintah padahal tujuannya mungkin sama. Cara pendekatannya yang berbeda dan tak banyak yang bersedia jadi ‘jembatan’.

Oleh sebab itu, jelang setahun kepemimpinan Gubernur Andalan Nurdin Abdullah ini, saya teringat pesan saya ke Prof Yusran kala itu, segara inisiasi forum atau organisasi yang mengakomodasi kekuatan atau pengalaman para praktisi pesisir dan laut di Sulawesi Selatan untuk bersama-sama menyusun langkah-langkah praktis dan signifikan dalam memanfaatkan potensi itu.

Saya sungguh khawatir jika yang terjadi adalah lalulintas DPRD-OPD atau DPRD-TGUPP-OPD tanpa ada pihak ‘penengah’ yang lebih terbuka, representatif dan datang dari realitas lapangan. Bukan semata keinginan temporer dan sekadar berburu proyek-proyek strategis tapi penerima manfaat menjadi sangat ekslusif.

Jika forum atau apapun namanya ini eksis, tugas TGUPP akan semakin mudah sebab mereka akan berhadapan dengan para pemboyong pengetahuan dan berpengalaman (dan semestinya committed) di urusan pengelolaan pesisir dan pulau-pulau ini.

Mereka ini hanya perlu dimediasi dan diberi ruang interaksi dengan para pengambil kebijakan untuk bersama-sama mencari way out pembangunan Sulsel.  Di Makassar, dan di beberapa daerah lainnya ada banyak lembaga-lembaga bereputasi yang bisa jadi mitra.

Mengapa forum ini penting sebab setahun berlalu di masa Gubernur Andalan ini, terasa seperti pelayaran Pemerintahan yang sesungguhnya belum memberi tanda bahwa bahtera telah mengarah ke pulau destinasi yang jelas.  Semua masih samar-samar kalau tidak mau disebut penuh badai. (*)

Penulis: K. Azis (blogger Kelautan)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Ini Dia, Gula Aren Kristal Golla Mamea dan VCO Masarri dari Sulbar

Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB-Unhas Gelar Outbound di Pucak Maros