in

Prof Agnes Rampisela: Perlu Pengintegrasian Agar Sagu Jadi Pilar Ketahanan Pangan

Prof Agnes Rampisela (ujung kiri) bersama Gubernur Sulsel dan kolega dari Jepang (dok: istimewa/humas Pemprov Sulsel)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Upaya pengintegrasian data dan informasi terkait luasan potensi, nilai keekonomian dan keberlanjutan tanaman sagu dalam kerangka kebijakan pembangunan daerah sangat mendesak di tengah gagasan besar Pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangangan nasional.

PerspektifMakassar.Id mengumpulkan informasi terkait realitas dan isu sagu di Indonesia khususnya di wilayah Luwu Raya. Ini dirasa penting di tengah derap pembangunan daerah yang disebut juga berimplikasi pada berkurangnya luasan tanaman sagu dari waktu ke waktu.

Salah satu sumber informasinya adalah peneliti Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Prof Dr Dorothea Agnes Rampisela, M.Sc. Menurut sosok yang biasa disapa Agnes itu, perlunya ketahanan pangan tersebut sebagai jawaban atas laju peningkatan jumlah penduduk yang signifikan dari tahun ke tahun.

“Perlu upaya antisipasi atas ancaman semakin berkurangnya lahan pertanian tanaman pangan serta mencegah semakin berkurangnya luas hutan Indonesia termasuk bencana alam termasuk tsunami. Salah satunya dengan mendorong pengintegrasian pengelolaan tanaman sagu ini,” kata Guru Besar Pertanian Unhas ini.

Sagu hasil olahan (dok: Mongabay)

Menurut Agnes, sagu adalah tanaman asli Indonesia yang juga banyak ditemui di pesisir Teluk Bone, di dua wilayah provinsi, Sulsel dan Sultra.

Sagu, adalah satu-satunya tanaman pangan yang tumbuh dan berkembang di lahan-lahan sub-optimal, di lahan marginal seperti lahan basah, rawa, lahan bersalinitas tinggi, ber-pH rendah termasuk di pesisir.

“Sagu adalah makanan utama sebagian masyarakat di Kawasan Timur Indonesia. Luwu terutama Luwu Utara memiliki luas lahan sagu terluas di Sulsel. Bahkan, sejarah kebudayaan Luwu memiliki kaitan erat dengan penyebaran lahan sagu,” kata Agnes yang aktif mendalami aspek konservasi lahan dan air ini.

Menurut Agnes, luas kawasan berisi sagu di Indonesia mencapai 1,4 juta ha, dimana 90 persen atau 1.250.000 ha ada di Papua dan Maluku dan sisanya di Sulawesi, Riau dan Kalimantan. Potensi produksi sagu mencapai 24 ton sagu kering/ha/tahun.

“Jadi, ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produksi padi yang cuma 6 ton/ha/tahun,” katanya. Selain itu, disebutkan pula bahwa telah termanfaatkan lahan seluas 100,000 ha untuk perkebunan sagu di Riau.

“Ada 51,3% dari luas lahan sagu dunia terdapat di Indonesia,” jelas Agnes.

Agnes menyebut bahwa mengingat fungsi strategis sagu bagi kehidupan warga terutama di Papua, Maluku, Kalimantan dan Sulawesi, maka seharusnya upaya pengintegrasian sagu dalam sendi-sendi perencanaan dan implementasi pembangunan daerah harusnya segera ditempuh dan dijalankan.

Pengolahan sagu (dok: Mongabay)

“Pengintegrasian sagu dalam program atau strategi pembangunan daerah terutama demi menjadikannya sebagai salah satu pilar ketahanan pangan daerah sangat diperlukan dan mendesak,” tegasnya.

“Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan penghasilan petani dan pelaku sagu seperti pencipataan lapangan kerja,” katanya.

“Kemudian perlunya inovasi teknologi terkait penanaman, pengolahan dan pengembangan industri sagu,” jelas peneliti yang saat ini sedang meriset nilai ekonomi sagu bagi warga di Luwu Utara termasuk menganalisis kondisi alamiah hutan sagu Sulsel.

Dia juga menekankan perlunya pengkajian menyeluruh terkait dimensi ekologi hutan sagu, aspek budaya, sosial dan ekonomi dengan melibatkan institusi seperti perguruan tinggi, LSM atau komunitas-komunitas pelestari lingkungan.

Menurutnya, ke depan, inventarisasi kearifan lokal terkait teknik budidaya sagu dan penerapan teknologi pengolahan sagu harus didorong, baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota hingga perdesaan.

“Perlu pulamendorong aplikasi pemeliharaan dan estimasi rendemen sagu sebagai makanan tradisional sekaligus sebagai pilar pangan nasional. Perlunya pengkajian pengaruh treatment terhadap gizi dan  kesehatan mental atas konsumsi sagu termasuk mendorong kajian kelembagan adat dan budaya hutan sagu,” paparnya.

Terkait itu, menurut Agnes, pengintegrasian sagu sebagai salah satu pilar pangan nasional ini perlu dibarengi inovasi teknologi penyusunan dan inisiasi sains ‘Techno Park Budaya’ sagu utamanya di Tana Luwu meliputi Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur.

“Termasuk di dalamnya penelitian tentang ciri kolloid sagu dan pemanfaatan untuk industri. Lalu perlunya inovasi dan formulasi makanan sehat berbasis sagu serta peningkatan teknik ekstraksi dan refining sagu,” tambahnya.

Selain itu, menurutnya, dimensi lain yang perlu dipertimbangkan adalah perlunya penguatan kelembagaan dan organisasi pengolah sagu termasuk LSM pendampingnya.

Berdasarkan data dan temuan Agnes, potensi produksi lahan sagu mencapai 219 ton per hektar sementara tepung basah yang diperoleh dari setiap 1 pohon sagu adalah rata-rata 460 kg. 

Sebagai gambaran, salah satu kecamatan di Luwu Utara, yaitu Malangke Barat luas lahan sagu mencapai 1,061ha dan menjadi harapan bagi tidak kurang 22 ribu penduduk yang bermukim di sekitar areal sagu.

Ada beberapa tantangan yang perlu dijawab terkait isu sagu di sekitar Luwu Raya utamanya di Luwu Utara.

“Di antaranya perlunya inovasi dan sertifikasi, ketersediaan bibit unggul sagu, pengembangan industri bibit sagu, perlu inovasi terkait proses pemotongan, pengangkutan gelondongan. Termasuk kreasi pengembangan mesin-mesin dan peralatan tepat guna untuk proses pemanenan, pengembangan model industri kecil sagu dan Industri ‘zero waste’ limbah tanaman sagu,” paparnya.

Pembaca sekalian, pada konteks Sulsel, atau katakanlah di sekitar Teluk Bone, apa yang disampaikan Prof Agnes ini rasanya sangat relevan pula jika dikaitkan visi misi Gubernur Sulsel pada gagasan hilirisasi produk produk pertanian atau sumber daya alam Sulsel. Sampai di sini, kita bisa paham mengapa sagu perlu segera menjadi arah sekaligus arus utama pembangunan pertanian di Sulsel. Mari! (*)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Alfian Dippahatang, Mahasiswa S-2 Unhas Terima Program Residensi di Prancis

IKA Smansa ‘79 Makassar Terbentuk, DR Hj Naisyah Azikin Jadi Ketua