in

Bos CRC, Herman Heizer: Teluk Bone Masa Depan Indonesia

Bos CRC, Herman Heizer (tengah) saat ditemui PerspektifMakassar.id (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID– Sepak terjang Ketua Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sulawesi Selatan, Herman Heizer rupanya tak melulu berkelindan dengan polling-pollingan atau prediksi-prediksian elektoral. Dia juga antusias saat diajak berbincang terkait isu dan solusi untuk pembangunan daerah berbasis sumber daya pesisir, laut dan pulau-pulau.

Kepada PerspektifMakassar.id, influencer bagi banyak kepala daerah di Indonesia ini mengaku telah berada di tahun ketiganya sebagai Ketua HIPMI Sulsel ini intens mendorong kemandirian lokal dengan memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan.

“Kemandirian dalam hal kekuatan ekonomi dan keberdayaan sosial itu jadi bagian visi HIMPI Sulsel, mennghasilkan inventor dan pengusaha muda baru,” ucap pria Bugis yang mengaku lahir di Jambi ini.

Herman menyebut dalam beberapa kesempatan dia sering diminta bicara tentang pembangunan daerah kaitannya dengan potensi sumber daya kelautan dan perikanan termasuk pemanfaatan teknologi komunikasi untuk bisnis perikanan.

“Kami di HIPMI seringkali mengajak generasi millenials Sulsel untuk ikut serta dalam memanfaatkan potensi bahari di daerah. Saya kira potensi ekonomi dan keberdayaan sosial kita bisa diintensifkan di sektor kelautan dan perikanan ini. Apalagi Sulsel sudah jadi pemain penting sejak lama,” jelasnya.

Gulf of Bone, di antara Sulsel dan Sultra (dok: istimewa)

Dia menyebut posisi Sulsel itu tidak terbantahkan semisal pada potensi kemaritiman yang luar biasa besar, hasil perikanan nomor satu seperti udang, rumput, bandeng sebagai hasil budidaya. Ikan tangkapan terutama ikan karang juga tetap dominan, termasuk gurita hingga ikan tuna.

 “Selain itu, HIMPI juga mendorong tumbuhnya sektor pariwisata bahari di Sulsel. Beberapa daerah potensial seperti pantai timur Sulsel sangat prosepktif, sepanjang jalur Teluk Bone hingga Luwu Timur. Kalau selama ini kita fokus di pantai barat, pengembangan serupa bisa juga di sekitar Teluk Bone,” sebutnya.

Terkait pengembangan Teluk Bone, Herman melihat adanya beberapa hal yang perlu diselaraskan seperti kebijakan pembangunan daerah, pelibatan para pihak seperti sektor sektor swasta, korporat dan perguruan tinggi hingga komunitas atau masyarakat yang bermukim di sana.

“Belum optimalnya kolaborasi para pemangku kepentingan serta ancaman degradasi lingkungan menjadi alasan mendasar kenapa kami harus ikut serta bersama para penggiat lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir,” jelasnya.

Dia mengaku serius menyiapkan sebuah forum konsultasi, sharing pembelajaran pengelolaan dan inspirasi dari praktik cerdas atau hasil riset di kawasan yang meliputi 18 kabupaten/kota itu.

Herman sepakat bahwa Kawasan Teluk Bone menghampar kekayaan sumber daya pesisir dan laut nan memukau. Kekayaan yang bisa menjadi menjadi kekuatan ekonomi kawasan.

Potensinya tersebar di Kabupaten Bombana, Kolaka, Kolaka Utara yang masuk Provinsi Sulawesi Tenggara hingga yang masuk Sulawesi Selatan yaitu Bulukumba, Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur.

Ikan-ikan pelagis kecil seperti teri, layang, tongkol hingga pelagis besar seperti cakalang, tenggiri, tuna adalah potensi perikanannya. Juga kepiting bakau, rajungan, udang dan kekerangan yang hidup di ragam ekosistems seperti ekosistem pesisir, mangrove dan terumbu karang.

Data Balai Besar Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Makassar, volume ekspor produk perikanan Sulawesi Selatan pada periode Mei 2019 tercatat sebesar 15.089 ton dengan nilai mencapai Rp 444,1 miliar.

Jumlah tersebut meningkat hingga 602,8 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2018 yang hanya sebesar 2.147 ton. Kawasan pemasok komoditas tersebut adalah dari Teluk Bone, bersama Selat Makassar dan Laut Flores.

“Sinergi para pihak sangat diperlukan untuk menjaga dan mengelolanya dengan efektif, dijaga dan dilipatgandakan manfaat ekonomi dan jasa lingkungannya,” imbuh Herman.

“Teluk Bone kawasan strategis, masa depan Indonesia utamanya Sulsel. Ini kawasan kaya potensi sumber daya alam pesisir, laut dalam dan sumber daya perikanan. Kita sedang siapkan semacam focus group discussiion multi pihak di November nanti,” tegas bos Celebes Research Center (CRC) ini. (*)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Pilihan Kapus Kebencanaan Unhas Rayakan Dies Natalis Unhas ke-63

Reuni Smansa ‘89 Makassar Digelar di Bali, 122 Peserta Sudah Mendaftar