in ,

3 Tahun Kedai dan Kafe Maciko Jakarta, Tak Semata Sajian Kuliner

Mereka, para tamu sungguh inspiratif. Di Kedai dan Kafe Maciko, kami ikut merasakan sensasi perkawanan, menyerap inspirasi dari tamu-tamu yang datang.

Para penikmat Kedai dan Kafe Maciko (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Impian Fasma Ibrahim, (48) untuk punya usaha kuliner sekaligus wahana komunitas yang inspiratif jadi kenyataan. Wanita kelahiran Makassar tersebut merasa bersyukur di tahun ketiganya, Kedai dan Cafe Maciko yang dirintisnya bersama suami kian digandrungi pelanggan.

Jika banyak pebisnis hanya bisa bertahan 3 atau 6 bulan dalam memulai usaha kuliner di Jakarta karena ketatnya persaingan, Fasma dan keluarganya tetap bisa survive. Kepada PerspektifMakassar.id, dia berbagi cerita inspiratif untuk pembaca sekalian.

***

“Ide awal ke bisnis kuliner ini dari suami. Saya malah awalnya takut karen sudah nyaman sebagai seorang istri dari GM salah satu perusahaan besar di Asia, terus tiba tiba keputusan untuk pesiun dini dari suami,” kata Fasma.

“Ini yang buat saya ketakutan sebenarny, memikirkn nasib kami yang mana ada 2 anak yang masih kuliah dan butuh biaya besar,” tambahnya. Tapi begitulah, ide suami Fasma yang bernama Rudy Nawing itu dimulai.

“Awalnya di Kompleks Kalibata City, bisa bertahan setahun lumayanlah. Setelah itu, dengan pertimbangan matang, kami pindah ke Kawasan Kepala Gading,” kata perintis sekaligus pemilik Kedai dan Kafe New Maciko yang selama dua tahun terakhir hadir di Jalan Kelapa Kopyor Timur BD1 No. 1 Kelapa Gading, Jakarta Utara ini.

Kue-kue sajian Maciko (dok: istimewa)

“Saat di Kalibata City, nama warungnya Warung Khas Makassar. Selama setahun di sana, Alhamdulillah cukup diterima dan pelanggannya banyak. Baik dari kalangan penghuni apartemen, komunitas, teman-teman ex SMA dan SMP, teman saya dan suami,” jelas Fasma.

Gambling ke Kelapa Gading

“Awalnya sengit juga percakapan kami tentang rencana pindah ini. Ada ide suami, gimana kalau kami hijrah tempat untuk mencari ruang atau warung yang lebih besar. Kalau masih tetap di Kalcit, komunitasnya mungkin masih itu-itu saja,” kenang Fasma.

“Muncullah ide dan niat suami, semacam gambling masuk ke daerah kawasan kaliber terkenal dan besar di Jakarta, khususnya Jakarta Utara yaitu Kelapa Gading,” lanjutnya.

Yang tersajid Maciko (dok: istimewa)

Waduuuuh!, pikir saya waktu itu, suamiku terlalu berani mau masuk di kawasan yng rata-rata rumah makan di situ, punya nama besar. Apalagi sudah ada rumah makan Pelangi, Coto Marannu dan Konro Karebosi yang juga menjual makanan khas Makassar,” sebutnya.

“Tapi karena tekad dan impian suami saya, beliau bilang kenapa harus takut. Rezeki sudah diatur oleh Allah,” katanya mantap.

“Dan seperti yang terlihat saat ini, konsep kami berbeda di Kelapa Gading. Berbeda dengan apa yang sudah ada. Dengan keberanian dan tekad, dengan Bismillah, kami masuk di kawasan kuliner raksasa Kelapa Gading,” ucapnya.

“Nah, karena konsep beda, tentu semacam kembali ke nol lagi. Untuk warung kami juga harus beda kata suami saya. Jangan lagi kita pake Warung Khas Makassar seperti yang di Kalibata karena pasti akan semakin kalah dari yang lain,” ungkapnya.

 “Saya bilang apa namanya, kok bukan itu, kan orang atau pelanggan kita sudah tau nama itu. Suami bilang kalau tetap pakai nama itu ndak ada bedanyalah dengan yang sudah ada di Kelapa Gading. Kita cari nama yang orang tidak menyangka kalau kita juga jual makanan Makassar,” katanya.

“Pikir dari hari ke hari maka muncullah ide untuk memberi nama Maciko,” imbuh Fasma.

“Kenapa Maciko? Ide itu timbul karena kami pernah tinggal di Manado dan ciri khas mereka atau kebiasaan mereka di sana kalo sesama ibu-ibu manggil nama ibu lain pasti di depannya ada kata Mak (mama) dan diikuti nama anaknya. Kebetulan anak saya yang kecil namanya Ciko maka jadilah warung kami Maciko,” sebut penyuka traveling ini.

Fasma (ujung kanan) dan para sahabatnya di Kedai dan Kafe Maciko di Kelapa Gading (dok: istimewa)

“Lucu juga sih, karena nama Maciko kan agak  Jepang gitu, tapi menurut suami saya itulah uniknya siapa sangka kalau Maciko menjual makanan khas Makassar,” tambahnya.

 “Akhirnya terwujudlah impian kami untuk membuka Maciko di Kelapa Gading. Lokasi dekat Polsek Kelapa Gading tepatnya jalan Gading Elok Utara C8/38A kelapa Gading, Jakarta Utara,” sebutnya.

Menurut Fasma, di Kelapa Gading, mereka membangun konsep rumah makan yang homey.

“Kami tawarkan konsep suasana yang sangat kekeluargaan. Jadi di Kelapa Gading itu pelanggan bukan hanya datang makan, terus pulang, kami juga membuat bagaimana pelanggan betah. Keluarlah ide bagaimana kalau kita buatkan yang ada live music-nya,” katanya.

“Nah, itu juga yng membedakan warung kami dengan yang lainnya. Akhirnya kami sepakat live music tersaji di hari Senin dan Jumat malam. Alhamdulillah, pelanggan kami makin bertambah. Dan komunitas-komunitas juga makin banyak yang datang,” ucap Fasma.

“Senang sekali lihat sekelompok orang, komunitas hingga keluarga-keluarga tertentu yang berbagi cerita, atau teman-teman sekolah, terutama dari Makassar, sembari menikmati sajian kami. Serasa kita jadi bagian cerita mereka,” lanjutnya lagi.

“Suasana jadi berbeda saat mereka menyanyi, menari, dengan latar musik yang ada di Maciko,” sebut Fasma.

Menu andalan

Menurut Fasma, menu yang disajikan memang sangat tergantung selera tamu. Meski tetap disediakan menu tapi dia enggan menyebut ada menu spesifik ala Kedai dan Kafe Maciko.

“Sebenarnya tergantung pelanggan, mereka suka yang mana tapi paling banyak peminatnya dari semua makanan atau menu yang  sajikan adalah nasi goreng merah. Tamu bilang karena nasi goreng merah Maciko beda rasanya dengan yang sudah mereka coba, baik itu di Pelangi atau di Marannu,” ungkap alumni SMA Negeri 1 angkatan 89 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini.

“Nasi goreng merah Maciko 2 jempol kata pelanggan. Terus yang juga jadi incaran, tuna bakar khas Maciko yang sambelnya endes banget. Tapi intinya, menu-menu yang kami tawarkan enak-enaklah,” kata Fasma.

Kata Fasma, di usia tiga tahun merawat harapan berbisnis kuliner sedari Kalibata, setelah Maciko berjalan 2 tahun dan berhubung kontrak di Kepala Gading juga sudah habis, Maciko akan pindah lagi di daerah strategis lainnya.

Yuk mari!

Ada banyak pengalaman dan inspirasi selama berbisnis di Kalibata dan Kelapa Gading. Tentang pertemanan, pentingnya komunikasi dengan banyak kalangan, pelanggan dengan karakter yang berbeda-beda, termasuk dalam melayani selera tamu yang kadang unik di kedai dan kafe Maciko.

“Mereka, para tamu sungguh inspiratif. Di Kedai dan Kafe Maciko, kami ikut merasakan sensasi perkawanan, menyerap inspirasi dari tamu-tamu yang datang. Sebab saya kira, demikianlah adanya kalau kita mengelola kedai kuliner toh?,” akunya.

“Yang pokok, selama hampir tiga tahun, layaknya bisnis, perlu juga dipahami bahwa kami juga mengalami pasang surut usaha, kami mengambil hikmah dan tetap menjaga kesan baik para pelanggan. Dari mereka kami menaruh harapan,” kata Fasma tentang inspirasi mengelola usaha kuliner di Jakarta yang keras.  

Lalu akan ke mana Maciko setelah eksis mantap di Kelapa Gading?

“Pilihannya di dekat Kopi Joni yang dibuat tenar oleh Hotman Paris. Konsepnya juga berubah atau tepatnya bertambah, selain live music, kami mau sediakan ruang karaoke keluarga. Namanya akan jadi Kedai dan Kafe New Maciko,” papar Fasma.

“Kenapa musik jadi sajian khas Maciko selain kuliner? Karena kebersamaan memang harus dirayakan dengan irama dan senandung kebahagiaan, toh?” tutupnya sambil tertawa.  (*)

Editor: K. Azis

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Update Reuni 30 Tahun Smansa 89 Makassar: 129 Mendaftar

Pandangan Refly Harun atas Perlu Tidaknya Revisi UU KPK