in

Kemarau dan Pesan Berantai Baskom

Sawah mengering di Aceh (dok: medcom)

OPINI, PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Tidak tahu siapa yang menulisnya pertama kali. Pesan berikut ini menyebar di banyak WA grup. Isinya begini: Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan di luar rumah, biarkan menguap.  Jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d jam 13.00. Dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara.

Masih terkait baskom itu. Peran berantai itu diteruskan.

Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun. Semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah, maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di Udara. Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, Sabtu jam 10 pagi serempak. Mari kita sama-sama berusaha untuk menghadapi kemarau  kian parah ini. Mohon diteruskan. Terima kasih

Menarik untuk direspon karena banyak kawan bertanya tentang kebenaran pesan berantai ‘baskom berjamaah’ tersebut. Saya coba tengok dari sisi lain, logika kolektif.

Tentu, bila seluruh rumah tangga keluarkan satu baskom air dicampur garam. Tidaklah sebanding dgn hamparan laut dengan komposisi air garamnya. Di laut juga terjadi evaporasi atau penguapan yang dapat berkondendasi membentuk hujan.

Lalu, kalau laut seluas itu. Mengapa bukan laut saja yang kita percaya memproses hujan, berkolaborasi dengan matahari dan faktor iklim lainnya.

Faktanya, ada kemarau. Kalau demikian, ini soal musim. Soal takdir. Lantas mengapa kita harus berdoa minta hujan?

Mengapa kita bersusah payah, bikin hujan buatan? Niscaya, berdoa dan hujan buatan adalah penyatuan antara berharap dan bertindak.

Kitab suci beri sinyal tentang kuasa Ilahi mengenai hujan. Ada banyak variasi narasinya. Misalnya, kamilah yang menurunkan hujan. Kami menghalaunya dan seterusnya.

Jadi, baskom kolektif harus juga bisa dipandang sebagai iktiar minta hujan dalam bentuk tindakan yang lain. Tetap, padanannya dengan doa. Pun, posisnya di darat, sehingga peluang hujan di darat menjadi lebih mungkin.

Agar kita terus optimis, maka janganlah bandingkan dengan air laut. Tapi,  dengan kapasitas pesawat pembuat hujan buatan. Volumenya mungkin lebih kecil dibanding total volume air baskom milik warga.

Karena itu, meskipun belum ada info keberhasilannya. Iktiar air baskom ini cukup logik. Dan, bila dicoba dan berhasil, maka,  teori hujan buatan yang mengorbankan banyak biaya. Bisa diatasi dengan ikhtiar kolektif menguapkan air baskom bercampur garam.

Kita harus optimis karena bangsa kita terbiasa bergotong-royong. Bisa disemangati dengan keinginan dan kemuliaan memberi. Jika semua bersedia. Berarti, pilihan dunia yg menempatkan Indonesia sebagai negara dengan index tertinggi dalam hal saling memberi (The world giving index, tahun 2019), benar-benar, betul.

Saya berkelakar. Semoga penentuan sampelnya bukanlah anak anak sekolah dan mahasiswa yang sedang ujian kelas.  Atau, para koruptor dan penyogok yang sedang ber-aksi. Karena di arena ini, mereka sangat rajin berbagi.

Kembali pada poin awal, mengharap hujan. Memberi air pada langit dengan baskom merupakan ide yang baik dan menarik. Namun, saya yakin tidak banyak, bahkan mungkin, tidak ada yang melakukannya.

Memang, kebaikan itu butuh gerakan. Dan, setiap pergerakan memerlukan penggerak. Dan, seandainya iktiar ini benar terjadi, kita hanya berharap, dengan sumbangan satu baskom air, langit mau mengembalikannya dalam bentuk hujan. Untuk menghalau kemarau. (*)

Penulis: Muhd Nur Sangadji (Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Pandangan Refly Harun atas Perlu Tidaknya Revisi UU KPK

112 Dosen Universitas Hasanuddin Menolak Revisi UU KPK