in

Presiden ISTDA, M. Taufik ‘Boen’ Hizbul Haq: Penguatan SDM Jadi Prioritas Organisasi

Membicarakan isu kelautan dan kesiapan SDM adalah dua hal yang harus beriringan

Presiden ISTDA, M. Taufik Hizbul Haq, duduk kedua dari kanan (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – ISTDA atau International Science-Technology Diving Association adalah organisasi yang belakangan ini aktif mendorong pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut dengan menyisipkan selam sebagai ‘inti intervensi’.

PerspektifMakassar.id mewawancarai Presiden ISTDA M. Taufik Hizbul Haq terkait kiprah dan arah organisasi selam yang dipimpinnya. Dia memberi tanggapan tidak lama setelah menyelesaikan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) tahunan mereka di Jakarta pada 28-29 Sepetmber 2019 lalu.

Pada Mukernas tersebut, sebagian besar pendiri dan pengurus ikut berpartisipasi. Mereka merefleksikan pengalaman, pandangan dan harapan kepada ISTDA sebagai satu organisasi di tengah keragaman organisasi selam yang sudah lebih dulu eksis.

Menurut Boen, di usia yang telah memasuki tahun kesepuluhnya, ISTDA secara perlahan berhasil menunjukkan jati dirinya sebagai organisasi yang dapat diandalkan dalam pembangunan bidang maritim nasional.

Pemerintah pun sudah memberi lampu hijau agar ISTDA bsa tampil sebagai bagian dari penguatan kapasitas pemangku kepentingan pemanfaatan seperti bidang kelautan, perikanan, perhubungan, instalasi bawah air, pengelasan, rekreasi, arkeologi hingga edukasi dan sport pada skala nasional.

“Iya betul, sebagai organisasi selam, kami sudah dapat lisensi untuk menggelar Kursus dan Kepelatihan Bidang Olahraga, Rekreasi dan Keteknikan dari Pemerintah Indonesia dengan NIB: 9120302192559,” jelas sosok yang biasa disapa Mas Boen ini, (30/09).

Simak hasil wawancaranya yuk!

Apa substansi atau pesan penting dari Mukernas ISTDA kali ini?

Memasuki usia 10 tahun sejak berdirinya, sebagai sebuah organisasi, ISTDA merasa perlu ‘me-recharge’ kembali semangat dan komitmen para pendirinya untuk dengan gembira mempersiapkan diri menyambut peluang. Peluang ke depan untuk berbuat bagi negeri di bidang penyelaman Nasional.

Melalui Mukernas ini, kita telah mencanangkan atau mematok gambaran peluang 10 tahun ke depan yang akan dilakukan tersebut. Ada beberapa rekan sejawat yang hadir, seperti M. Zulficar Mochtar, sekarang Dirjen Perikanan Tangkap KKP, Kemal R. Massi, penggiat CSR perusahaan minyak, instruktur seperti Amiruddin, pilar ISTDA seperti ahli karang Dr. Baru Sadarun dari Universitas Haluoleo dan banyak lagi.

Tentu perlu mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan selama 10 tahun pertama kemarin dan menjadikannya sebagai bahan referensi ideal untuk evaluasi. Baik dari sisi internal maupun tantangan eksternal organisasi. Apalagi kompetensi dan kompetisi di organisasi profesi juga semakin ketat di Indonesia lebih-lebih level internasional.

ISTDA memandang rencana ke depan tidak perlu muluk-muluk atau berlebihan sebab kita harus menyesuakan dengan resources yang ada serta trend yang akan kita hadapi ke depan.

ISTDA berperan dalam menyiapkan SDM andal pada pengerjaan bawah air (dok: istimewa)

Yang pasti urusan SDM Kelautan atau yang kompeten di urusan penyelaman pasti akan sangat diperlukan. Kami harus ada di situ.

Untuk mencapai atau mengambil pesan pada posisi itu, apa tantangan bagi ISTDA?

ISTDA menyadari, bahwa perubahan persepsi umum di masyarakat termasuk di dalamnya pihak Pembuat Kebijakan Pembangunan Nasional tentang kegiatan penyelaman di Indonesia masih perlu didorong. Masih perlu ditingkatkan. Ini masih membutuhkan proses waktu yang tidak singkat.

Tetapi di sisi lain, membicarakan isu kelautan dan kesiapan SDM adalah dua hal yang harus beriringan. Logika tentang kedekatan antara status sebagai Negara Kepulauan dengan pentingnya keterampilan perairan (penyelaman) bagi mayoritas penduduknya ini membutuhkan langkah strategis, konkret dan harus penuh terobosan.

ISTDA sudah membaca trend ini, Mukernas ini saya kira telah memetakan isu-isu strategis.

Merespon isu strategis tersebut, apa yang menjadi tema utama Mukernas?

Untuk isu strategis itulah, maka ISTDA menyelenggarakan pertemuan Nasional yang dihadiri oleh seluruh Pendiri, Pengurus, dan Simpatisan Inti yang diberi tema reposisi strategi ISTDA.

Maksudnya, kita ingin dengan adanya reposisi, kita bisa menekankan pada identifikasi tantangan pembangunan SDM unggul Nasional di bidang pendidikan sumber daya manusia terkait profesi perairan, pariwisata bahari, dan pengembangan kemaritiman.

Teman-teman yang hadir sudah mengantisipasi ini, mereka menyadari bahwa reposisi organisasi jadi penting agar bargaining ISTDA yang diisi figur berpengalaman dan berdedikasi pada pembangunan maritim nasional dapat lebih tepat mendorong perubahan. Salah satu opsinya, memperluas layanan organisasi, untuk ini kita pasti perlu tenaga yang lebih banyak, kompeten dan berintegritas.

Bisa diceritakan apa yang diantisipasi? Isu atau aspek apa yang dibahas selama Muskernas?

Beberapa hal terkait divisi yang ada di organisasi ISTDA untuk menjalankan programnya, tentu saja perlu terus mengingat pada dasar komitmen personil organisasi yang mengacu pada visi dan misi organisasi.

Sebagai misal, di divisi edukasi, para peserta menyadari bahwa ISTDA harus berkontribusi pada peningkatan kompetensi, pada keterampilan di perairan telah dapat diajarkan pada anak-anak Indonesia sejak mereka ada di usia dini (TK). Ini harus ‘direbut’.

Juga terus berupaya agar Kebijakan Pendidikan Nasional dapat menempatkannya sebagai bagian dari kurikulum wajib yang diterapkan di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah di seluruh Indonesia. Jadi kami juga akan menekankan pada advokasi dan penggalangan dukungan lintas aktor dan sektor.

ISTDA menyiapkan modul-modul pendidikan keterampilan perairan ini untuk penerapannya dan sekaligus terus mencetak tenaga-tenaga Guru Berenang (swimming teacher) yang akan menjalankannya.

Kalau di divisi hobby?

Tetap fokus di wisata bahari khususnya wisata selam yang dapat memberi dampak nyata, mendorong pemberdayaan kawasan potensial, membawa masyarakat pesisir sebagai pelaku usaha, pengelola dan ‘pelayan penyelaman’ bagi wisatawan.

ISTDA ingin terus mendorong agar model Wisata Berbasis Masyarakat yang didengungkan selama ini dapat nyata berjalan di banyak desa pesisir seluruh Indonesia yang kita kenal memiliki lokasi-lokasi penyelaman yang bagus. Tidak sekadar teori atau diseminarkan belaka.

Langkah yang dilakukan untuk mewujudkan hal ini adalah menjalin kemitraan erat dengan pengusaha local, Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) dan lainnya.

Kita akan menggencarkan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kemampuan SDM lokal, agar dapat menjalankannya juga terus dilakukan. Ini akan kita kerjasamakan dengan beberapa pihak termasuk Pemerintah Daerah dan swasta atau CSR perusahaan.

[Boen menjelaskan ada beberapa divisi di ISTDA, dari sini kemudian dikembangkan pertanyaan.]

ISTDA disebut core-nya di saintifik, apa yang akan dilaksankan oleh divisi saintifik?

Menjalin kemitraan dengan banyak Sekolah Menengah Atas dan juga Perguruan Tinggi untuk dapat melahirkan banyak SDM ahli berbasis scientific diver khususnya di bidang Biologi Kelautan di seluruh Indonesia.

Ini bidang unik dan belum banyak digeluti oleh kaum muda padahal sangat penting untuk jadi bagian dari pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau.

Kemudian, ISTDA akan mendorong hal ini dapat bersinergi dengan Pemerintah Daerah yang memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk dapat melakukan penataan dan pengelolaan ekosistem pesisir khususnya terumbu karang dengan perencanaan yang baik dan sesuai kebutuhannya.

Di Pemerintah Daerah terutama yang mempunyai wilayah pesisir dan lautan umumnya mempunyai visi misi kelautan tetapi mereka belum optimal dalam melakukan konsolidasi sumber daya termasuk menindaklanjuti potensi-potensi bernilai ekonomi tinggi seperti benda-benda berharga bawah laut.

Ada penekanan khusus pada divisi arkeologi?

ISTDA akan menjadi bagian dalam memfasilitasi dan mengeksplorasi banyak titik situs bawah air berharga yang tersebar di seluruh Indonesia.

ISTDA berupaya untuk menjalin kerjasama dengan banyak pihak terkait bidang arkeologi baik Pemerintah maupun Perguruan Tinggi yang memiliki jurusan arkeologi untuk bisa melahirkan banyak SDM ahli di bidang penyelaman arkeologi ini.

M. Taufik Hizbul Haq (dok: pribadi)

Selanjutnya. Secara bersamaan mengkreasikan suatu bentuk kerjasama kemitraan yang mendorong model pengelolaan berbasis masyarakat di lokasi-lokasi yang memiliki situs ini melalui bentuk Konservasi Maritim dan Kepariwisataan sesuai aturan yang telah ada.

Proyeksi divisi komersial apa saja?

Kita akan mencetak banyak SDM terampil di bidang pekerjaan bawar air sekaligus membangun standar nasionalnya melalui bentuk kemitraan bersama institusi terkait.

Ke depan, dengan banyaknya tenaga terampil di bidang ini, maka diyakini hal ini akan membawa dampak lahirnya banyak jenis pekerjaan bawah air baru yang dihasilkan dan kemudian akan terus dikembangkan di seluruh Indonesia.

Dengan demikian, dengan melihat sekilas dimensi isu-isu straregis dan gambaran kegiatan yang bisa didorong ke depan, secara perlahan ISTDA betul-betul menjadi pilar bagi pembangunan bangsa di bidang maritim atau kelautan.

Profil Presiden ISTDA

M. Taufik Hizbul Haq, memulai karir selam di Lombok dan pernah tinggal di Selandia Baru antara tahun 2006-2008. Pria kelahiran tahun 1962 ini pernah jadi guru renang di Kawasan Hamilton di Negeri Kiwi tersebut.

Pilihan hidup pria yang kerap disebut ‘suhu selam Indonesia’ ini, bermula sejak jadi ‘guru renang’ di tahun 1995 di Kota Mataram.

Dia meraih level instruktur selam tahun di 1991 dan setelah itu dia aktif dalam aneka riset terumbu karang.

Tidak butuh waktu lama untuk sosok yang biasa disapa Boen ini untuk menjadi ‘Scuba Diving Instructor Trainer’. Tahun 1994 menjadi tahun ketika dia bisa mencetak instruktur selam.

Paralel dengan riset terumbu karang, dia juga menjadi fasilitator pelatihan konservasi laut dan pengembangan wisata bahari dengan target beragam. Mulai dari siswa, ASN, masyarakat pesisir hingga LSM dan perusahaan-perusahaan CSR sejak tahun 1991.

Tak hanya itu, dia juga berinovasi untuk menjadi bagian dalam upaya konservasi seperti transplantasi karang di beberapa bagian perairan Indonesia sejak tahun 2000.

Beragam organisasi diikuti dan bahkan dipimpinnya seperti sebagai ketua aosisiasi wisata laut Indonesia untuk Nusa Tenggara Barat antara tahun 1994 hingga 1998. Juga pernah menjadi wakil ketua organisasi Sub Aquatic Sport Association (ISSA) untuk NTB antara tahun 1997-2004.

Dia pendiri sekaligus presiden untuk International Science & Technical Diving Association (ISTDA) Indonesia sejak tahun 2010.  Aktif memberikan pendampingan masyarakat melalui beberapa program prestisius seperti CCDP-IFAD, COREMAP atau Coral Reef Rehabilitation and Management Program fase II di Bintan dan Lingga, Kepri. Juga di proyek MCRMP sebagai konsultasi pengembangan pariwisata. Dia juga pernah menjadi anggota tim riset di Operation Raleigh Expedition di Pulau Seram, Maluku. (*)

Penulis: Redaksi

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Bank Indonesia Corner Universitas Hasanuddin Resmi Dibuka

Jumardi Lanta: Bang Hugua Mau Mendengar Aspirasi Orang Lain