in

Merawat Tradisi dan Kebudayaan Lokal, Inisiatif Kertas Pena dan Diknas Takalar

Para peserta Jappa-Jappa Kebudayaan di Takalar (dok: Kertas Pena)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Pada konteks pembangunan daerah, perubahan yang direncanakan sejatinya tak mengabaikan kapasitas lokal tersedia termasuk kekayaan khazanah sejarah dan praktik sosial budaya yang ada.

Tidak sedikit, atas nama pembangunan, Pemerintah menerabas segala sendi kehidupan masyarakat. Mereka berniat membangun peradaban baru tetapi mencampakkan kekayaan tradisi dan budaya lokal.

Hal tersebut menjadi perbincangan di antara generasi Galesong Raya, satu titik di sisi selatan Kota Makassar yang meliputi wilayah Aeng Towa, Batu-Batu hingga Parangmata dan Bontomarannu di selatan. Kawasan ini adalah bagian dari sejarah Kerajaan Galesong yang berpusat di Galesong Kota.

Menurut Prof Aminuddin Salle, menjaga tradisi dan budaya Takalar terutama dari Galesong adalah niscaya dan perlu digelorakan terus menerus.

“Dalam percakapan saya dengan Mr. Wayne A Bougas, peneliti kebudayaan Amerika, dia mendorong untuk kita lebih bersemangat, jangan sampai kearifan lokal tergerus. Yang bilang ini, orang asing, lo!” sebutnya.

Para peserta Jappa-Jappa Kebudayaan (dok: Kertas Pena)

“Sepuluhan tahun yang lalu kami yang tergabung dalam Forum Pemerhati melaksanakan seminar dengan tema Mengenang Kejayaan Galesong Masa Lalu, Mengungkap Fakta Masa Kini dan Menggagas Masa Depan,” jelasnya.

“Kala itu belum sebanyak peminat dan pemerhati dibandingkan sekarang. Makanya: ayo bangkit!” tegas Guru Besar Fakultas Hukum Agraria Unhas ini.

Relevan dengan itu, organisasi Kertas Pena bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional Takalar menggelar serangkaian acara yang bernuansa kebudayaan, ‘Jappa-Jappa Kesejarahan Takalar’.

Salah satu upaya menjaga tradisi dan kebudayaan Takalar (dok: istimewa)

Ada beberapa kegiatan unik yang menyasar kaum millenials seperti lomba video kesejarahan, lomba karya tulis ilmiah dan gerak jalan santai ‘bersejarah’ dari Pusat Kota Takalar ke Kawasan Sanrobone.  

“Kami ada 4 kegiatan dengan tajuk Pekan Sejarah Takalar 2019 yaitu Lomba Video Sejarah Takalar, LKTI Sejarah Takalar, Jappa-Jappa Objek Sejarah Takalar serta Workshop Menulis Sejarah Takalar,” jelas Abdul Jalil Mattewakkang dari Komunitas Pencinta Rumah Literasi dan Pencita Indonesia (Kertas Pena) yang juga ketua panitia.

Jalil menjelaskan untuk hadiah semua lomba (karya tulis dan video) juara 1 berupa uang Rp1,5 juta, juara 2 Rp. 1,25 juta, juara 3, Rp1 juta. Sementara juara harapan 1 Rp.750 ribu, dan harapan 2 Rp500 ribu.

Dijelaskan bahwa lomba yang digelar di Aula Pantai Sampulungan Galut akan digelar pada Selasa-Rabu, 8-9 Oktober 2019.

“Sementara untuk Workshop Rabu-Kamis, 16-17 Oktober 2019, salah satu pematerinya adalah Prof Aminuddin Salle,” imbuh Jalil. Prof Aminuddin Salle adalah pendiri Balla Barakka ri Galesong.

Anggota DPRD Kabupaten Takalar yang berasal dari Dapil Galesong, Hairil Anwar memberi apresiasi atas kegiatan bertema sejarah dan literasi pendidikan itu termasuk pada beberapa judul lomba karya tulis kesejarahan di Takalar termasuk yang menyasar dimensi ruang dan waktu di Galesong Raya.

“Bagus juga, sudah ada yang mulai,” tanggapnya. (*)

Penulis: K. Azis Dg Nuntung

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Fakultas Hukum Unhas Kini Punya Baruga Baharuddin Lopa

IKA Smansa Makassar Berduka, Guru Olahraga Inspiratif Alimuddin Ahmad Berpulang