in

Festival Taka Bonerate 2019: Jinato, Spot Wisata Memukau di Gugus Atol

Sisi selatan Pulau Jinato (dok: Asri/UPT Taman Nasional Taka Bonerate)

PERSPEKIIFMAKASSAR.ID – Ada satu pulau dalam kawasan gugus pulau atol Taman Nasional Taka Bonerate yang unik dari waktu ke waktu.

Di tahun 90-an, sepertinya tidak banyak peneliti, atau yang membawa misi konservasi laut yang mau berlama-lama di sini tetapi penulis merasakan hal berbeda.

Penulis menerima perlakuan baik pada awal tahun 1996. Disebut baik sebab oleh warga, oleh Pemdes Jinato, selain diberi pemondokan selama berbulan-bulan, juga sering diajak mencari ikan, silaturahmi dari rumah ke rumah.

Salah satu pengalaman mengesankan di tahun 1996 adalah ketika penulis menikmati proses persiapan dan pasca instalasi rumpon atau artifical fishing ground di antara Pulau Jinato dan Pulau Kayuadi, di barat laut bersama Pak Desa H. Sahring, Asafe dan Arife.

Kala itu, World Wide Fund Indonesia Proggramme dan Lembaga Pengkajian Pedesaan, Pantai dan Masyarakat (LP3M), LSM dimana saya bekerja, sedang menjalankan program konservasi laut dengan menggunakan entry ekonomi sebagai pemantiknya. Atau tidak lama setelah penulis menyelesaikan kuliah di Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas di Desember 1995.

Jadilah, kelompok masyarakat mengusulkan rumpon sebagai alternatif kegiatan perikanan. Sudah bukan rahasia lagi kalau dulu, di pulau ini praktik penggunaan bom dan bius ikan masih jadi ancaman.

Oleh karena itu, WWF dan LP3M kala itu menawarkan solusi. Penulis jadi pendamping desa dan bertugas selama kurang lebih setahun.

Penulis sempat merasakan sensasi memancing tuna di sekitar rumpon kala itu. Ada dua ekor tuna sebesar 70 kilogram yang ditangkap pagi itu, tidak lama setelah pemasangan rumpon.

Pesisir nan memukau Pulau Jinato (dok: Asri/UPT Taman Nasional Taka Bnerate)

Tidak seperti sangkaan orang, masyarakat Jinato sungguh baik hati, setidaknya saat penulis menjadi ‘warga’ di sana dan tinggal di rumah Pak Tampa. Tidak jauh dari masjid desa, dan karena ini pula, penulis pernah didapuk membawa ceramah di malam tarwih. Heyya!

Berdasarkan pengalaman selama setahun di sana, penulis bisa menyimpulkan bahwa denyut sosial, ekonomi dan pola relasi warga ke sumber daya alat laut sangat dipengaruhi oleh model interaksi mereka dengan entitas atau komunitas Bugis, pedagang atau pengusaha perikanan di Sinjai, tepatnya di Lappa.

Dominannya pengaruh Sinjai di Pulau Jinato tidak terlepas dari asal usul mereka yang umumnya datang dari Pulau-Pulau Sembilan, di seberang Lappa.

Lappa adalah pusat pangkalan pendaratan ikan yang banyak disuplai dari Laut Flores. Nelayan-nelayan Lappa banyak beroperasi di NTT hingga NTB. Dan di antara itu, mereka kerap singgah di Pulau Jinato.

Pulau Jinato adalah potret mini Sinjai di Taka Bonerate. Sebagian besar warganya berasal dari pesisir Sinjai di timur Pulau Sulawesi atau di antara Bone dan Bulukumba di selatan.

Jika anda periset, mahasiswa atau pemerhati maritim dan ingin menggali lebih dalam sisi sosiologis atau antropologis rasanya Jinato bisa jadi pusat riset maritim.

Penulis mencatat bahwa di balik penguasaan mereka pada taka-taka, pada palung laut dan kekayaan Taka Bonerate, mereka mempunyai solidaritas yang kuat juga sebagai temali dengan entitas Bugis di Sinjai.

Sisi utara Pulau Jinato. Keren ya? (dok: Asri/Taman Nasional Taka Bonerate)

Saat ini populasi Desa Jinato tak lebih dari 1500 jiwa. Sarana prasarana desa dan fasilitas umum juga sudah lengkap.

Dari sini juga, relasi dengan pulau-pulau lain seperti Kayuadi, Bonerate, Jampea hingga Lambego masih kuat dan terjaga. Kenapa? Karena diaspora Bugis juga ada di pulau-pulau yang disebut ini.

Komunitas Bugis di Jinato juga mempunyai relasi yang bagus dengan Pemerintahan di Kota Benteng, Selayar.

Mereka mempunyai jaringan usaha dan silaturahmi yang bagus sehingga bisa menjadi wahana untuk membangun kolaborasi. Nilai-nilai tradisi dan budaya Bugis juga masih dijaga sebagaimana tradisi Bugis di pesisir Sinjai.

Alternatif wisata memukau

Nah, saat perhelatan Festival Taka Bonerate 2019 ini, ada baiknya untuk memplot Jinato sebagai salah satu obyek destinasi.

Di sisi utara Jinato ada pulau tak berpenghuni yang bisa jadi tempat bersenang-senang, snorkeling atau menyelam. Jika ingin berkemah, bagus juga. Di bagian selatan pun demikian.

“Di perairan sisi selatan Jinato, kerap ditemukan rombongan ikan hiu bermain, bagus untuk penyelam. Kalau mau foto bisa juga menunggui surut, di sana ada lokasi favorit berselfi,” goda Asri dari UPT Taman Nasional Taka Bonerate kepada PerspektifMakassarID.

Menurutnya, saat ini relasi masyarakat Jinato dengan dunia luar sangat mengasikkan dan semakin mengesankan.

“Warga juga aktif bersama Taman Nasional menjaga kawasan, sudah ada upaya transplantasi karang. Masyarakat dan petugas Taman Nasional yang kerjakan,” tambahnya.

“Beda dengan dulu, kini Jinato semakin berbenah, semakin maju dan peduli konservasi. Lautnya juga semakin memukau,” imbuh Asri.

“Sejak tahun 2017 sekitar 500 rangka transplantasi telah terpasang. Selain itu, ada 3 spot dive yang telah disiapkan, dijaga dan dimanfaatkan bersama warga setempat melalui Kelompok Pengelolaan Wisata MDK Jinato Marennu,” tambah Asri bangga.

“Tak hanya itu, mereka juga sudah berpengalaman membawa dan memandu wisatawan. Jadi rugi kalau tidak ke sana,” pungkasnya. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Buzzer Menurut Menteri Rudiantara

Wabup Lutim: Usulan PKPM Harus Sesuai Persyaratan PT Vale Indonesia