in

Muh Husni HS, Jalan Karir Anak Labakkang di Bank Permata

PerspektifMakassarID bersama Muhammad Husni HS, Head of Permata Syariah Networks, kanan. (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Di tahun 80 hingga 90-an, salah satu jurusan di Universitas Hasanuddin yang banyak diminati lulusan SMA adalah Perikanan. Banyak alumninya sukses tajir setelah menangani bisnis perikanan tangkap, budidaya ikan, udang hingga jadi eksportir.

Itu pula yang memantik minat Muhammad Husni HS, remaja, anak seorang petambak di Kabupaten Pangkep, tepatnya di Desa Kanaungang, Labakkang, untuk memilih Jurusan Perikanan.

Meski demikian, dalam perkembangannya, setelah menamatkan kuliah di Universitas Hasanuddin, Husni justru cemerlang di urusan perbankan, bukan perikanan.

Siapa sangka, dengan bekal awal ijazah Sarjana Perikanan di tangan, kini dia adalah Head of Network Permata Syariah. Husni, sosok sukses yang disebut memulai karir profesional dari mengelola toko buku.

PerspektifMakassarID mendapat kesempatan bertemu pria yang akrab disapa Uceng ini di tengah silaturahmi alumni SMA Makassar angkatan 1989. Bersilaturahmi sebagai bagian persiapan Reuni Akbar ke-30 di Bali pada 1-3 November 2019.

Meski awalnya keberatan untuk dituliskan perjalanan karirnya namun akhirnya dibolehkan dengan harapan dapat menjadi inspirasi buat generasi muda, terutama yang datang dari Pangkep, wilayah yang disebutnya kaya potensi sumber daya alam terutama pesisir dan laut yang masih membutuhkan sentuhan efektif para pemimpinnya.

“Sedih saja jika membaca kalau Pangkep masih bertengger di urutan kabupaten dengan tingkat kemiskinan yang masih sangat tinggi,” imbuhnya.

Jejak Uceng

Dia lahir dan besar di Labakkang, tepatnya anak Desa Kanaungang, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Labakkang adalah potret daerah di Pangkep yang ditopang oleh kultur Bugis dan Makassar yang cair dan ulet.

Dia rampungkan kuliahnya di Unhas Tamalanrea pada September 1994. Meski lahir dan besar di kampung namun dia bersekolah di SMP 4 Makassar serta diterima di SMA terbaik di Makassar, SMA Negeri I pada tahun 1986.

“Almarhum bapak, meski hanya petambak ikan, tidak mau melihat anak-anaknya tak bersekolah baik. Beliau memotivasi saya untuk serius bersekolah,” kata putra dari pasangan Haji Siddah dan Hajjah Sennag ini.

“Setelah lulus di Unhas, saya segera ke Jakarta. Tidak lama setelah wisuda September 1994 itu,” imbuh alumni SMA Negeri I Makassar, jurusan Biologi ini.

“Pekerjaan pertama di Toko Buku Gunung Agung. Ada dua bagian, peralatan dan buku,” ungkap pria yang mengaku harus ikut training selama 6 bulan untuk jadi manajer peralatan di Gunung Agung.

“Di tahun 95 saya diterima dan bertahan sampai 1996. Saya ingat waktu itu CEO-nya orang Makassar, namanya Hardi Lewa, saya ikut mendaftar lalu terpilih dan di-training. Ada16 orang yang lulus dan ditempatkan di seluruh cabang Gunung Agung, Cirebon, Palembang. Saya dapatnya Jakarta,” jelas Uceng tersenyum.

Banting stir ke bank

“Nah, kenapa saya bisa ke bank, ceritanya, saya daftar di Bank Bali pada tahun 1997. Informasinya saya dapat dari teman-teman selama kursus waktu itu. Selama jadi manajer di Gunung Agung, di lain kesempatan, paralel, saya ikut kursus perbankan, ini inisiatif pribadi karena memang passion-nya kerja di bank,” kisahnya.

“Saya pun mendaftar. Ada teman namanya Ilham, anak Universitas Padjajaran. Katanya, Uceng, kalau mau di bank jangan daftar di CS atau teller, daftar di bagian program seperti ODP Office Development Program,” kenang Uceng.

Setelah itu, Uceng mengirim lamaran ke Bank Bali meski tidak ada pengumuman terbuka. “Saya tahunya untuk kirim saja berbekal kursus perbankan itu,” ucap Uceng.

“Wuih, ketat sekali. Untuk kerja di Bank Bali, lama sekali prosesnya, seleksinya.” jawab Uceng tertawa.

Menurutnya butuh 6 bulan untuk proses seleksi, wawancara, psikotest. Ada tugas, ada banyak tugas, ada diskusi kelompok, kerja paper, hingga mempresentasikannya.

 “Kalau di Bank Bali, untuk bagian ODP, perlu pendidikan setahun, di Jakarta. Kita disekolahkan, ada ikatan dinas selama 2 tahun, ijazah asli saya ditahan. Kalau seandainya keluar, kita harus bayar ganti rugi 27 juta,” katanya terkekeh.

Pengalaman Uceng di Bank Bali memberinya inspirasi bahwa tidak ada yang mudah atau instan di urusan perbankan, harus ada proses yang sehat dan dikerjakan bersama.

“Saya pahami itu selama berproses di pelatihan selama setahun itu. Ada sistem gugur, jadi yang tidak bisa menjawab soal atau gagal dalam ujian akan gugur dengan sendirinya. Kita bikin kayak skripsi atau pertahankan tesis. Proses itu seperti proses Akabri-nya kalau TNI. Di Bank Bali sangat ketat,’ sebutnya.

“Dulu, kalau di bank swasta, Bank Bali dan Bank Niaga itu ada program ekslusif terkait perbankan, ibarat kata, esklusif dalam mendalami bank,” imbuhnya. Husni juga menyaksikan dan merasakan bagaimana proses merger di Bank Bali. Dia didapuk sebagaibranch manager.

“Saya ingat dari 11 yang ikut, Cuma 6 yang berhasil lulus, ada 5 yang gugur,” kenangnya.

Jalan karir

Menurutnya, setelah setahun diklat lalu selama tiga bulan mengulik sisi dalam bank. “Kita semua ditunjukkan dan ditempatkan di beberaba bagian seperti back office, teller, semuanya,” ucapnya.

“Setelah itu semua, saya dipercaya menjadi menjadi Wakil Kepala Cabang di Cipulir, itu tahun 1998. Itu masa krisis tetapi Bank Bali paling mampu bertahan, mereka masih rekrut orang,” kata Uceng.

Dia bercerita bagaimana penempatan pertama dia lakoni, tidak boleh menikah pada masa probation, kemudian bagaimana dia menghadapi kenyataan saat ibunya sakit di Pangkep hingga pernah hampir tidak bisa mendarat saat pesawat Bouraq yang dinaikinya dihalang-halangi oleh mahasiswa yang berdemonstrasi di Bandara Sultan Hasanuddin di tahun 1999.

Dari tahun 1997 hingga 1998, Uceng menjabat wakil kepala cabang. Lalu ketika Oktober, ketika ada seleksi manajer cabang, dia lulus dan ditempatkan sebagai branch manager di Pondok Indah di tahun 1999.  Di tahun 1999 sebagai kepala cabang di Arteri Pondok Indah.

Tahun 2000 dia mendapat tawaran jadi branch manager di dua bank. Dia memilih Bank Universal. Mulai bekerja di 20 November 2000.

“Jadi hidup lebih baiklah, dulu dapat mobil dinas espass, lalu naik Kijang,” kata mantan Branch Manager Bank Universal di Sunter Jakarta ini.

Karir Husni di Bank Universal rupanya tak bisa dipisahkan dari Bank Bali. “Saat merger lima bank menjadi Bank Permata, saya kan di Bank Bali sebelumnya, nah dimerger pulalah Bank Universal. Jadi saya balik lagi ceritanya,” kata Husni tertawa.

Selama di Bank Permata, Husni pernah jadi branch manager di Sunter, di Cinere, Kemang hingga yang berkantor di Kawasan Gedung Sampurna. Waktu berlalu, sosok yang masih sangat menjaga relasi dengan teman-teman SMA-nya ini kemudian didapuk menjadi Head of Area Bank Permata.

Dia menangani beberapa cabang di bagian selatan Jakarta. Ada 7 cabang. Sebagai kepala wilayah di tahun 2004 hingga 2013. Lalu dipromosikan sebagai Head of Regional Bank Permata. Kala itu, ada 11 region.

“Saya diminta mengurus region 4 meliputi Jakarta, Jabar, Banten, Bogor,” papar ayah dari dua putra-putri, suami Mashura yang juga asal Pangkep ini.

Posisi sebagai Head of Region itu meng-cover 32 branch selama dua tahun, dari 2014-2015, lalu menjabat Head of Permata Syariah dan bertanggungjawab langsung ke Direktur Utama. Di Permata Syariah, Uceng mengurusi 17 cabang.

Salah satu tugas Muhammad Husni HS adalah memastikan berjalannya inovasi layanan haji dan umroh yang telah diterapkan sejak tahun 2016 melalui layanan satu atap dengan Kemenag. Layanan satu atap dimaksudkan untuk memudahkan jamaah dan keamanannya dalam membawa uang tunai.

Kata teman

“Uceng low profile atas rendah hati. Nyaman bergaul dengannya. Saya ingat, bersama anak-anak Smansa rame-rame main ke rumahnya di Pekka Baru dan kita semua have fun,” kata sahabatnya Dr Aziz Salam, akademisi Universitas Gorontalo.

“Kampung Kanaungang, kampung dimana Uceng lahir dan besar, sebenarnya terletak di dalam lorong, tapi orang yang tinggal di pinggir jalan poros adalah asal Kanaungang juga. Saya banyak kerabat di kampung itu. Sejak kecil saya sering berkunjung ke sana bahkan sampai sekarang. Ada persambungan relasi kekerabatan dengan beliau namun tidak langsung,” tambah Aziz.

“Saya ingat, pernah main dan nginap di tempat kosnya di jalan Gatot Subroto, kayaknya itu masa kuliah,” imbuh alumni Teknik Perkapan Unhas ini.

Sementara itu teman kuliah Husni di Jurusan Perikanan Unhas, M. Taswin Munier, menyebut Uceng sebagai sosok ramah, baik, dan sangat peduli pada teman.

“Baik teman sesama mahasiswa Perikanan, maupun teman dari kumpulan yang lain seperti yang pernah tinggal di Ramsis, alumni SMA, kerukunan mahasiswa Pangkep dan lain-lain,” kata Taswin. Menurut Taswin, Uceng bersahaja, memegang teguh adat Bugis, tapi tetap bergaul dengan berbagai kalangan di kampus.

“Dia rajin masuk kuliah. Kerja tugas tapi tidak menolak untuk hadir di kegiatan himpunan atau senat. Bahkan untuk sedia cabut dari kelas jika ada keadaan genting yang memaksa, termasuk saat diajak untuk menemani teman jalan-jalan atau sekadar makan di kantin kampus,” katanya lagi.

 “Dia juga sangat tenggang rasa terhadap teman yang kesusahan. Berusaha membantu cari solusi terbaik,” tutupnya. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Usai Nonton BEBAS, Reini: ‘Eta Kunaon’ Pas Reuni Masih Muat Seragam SMA?

Pj Wali Kota Makassar Menjamu Imam Shamsi Ali