in

Optimisme Susi Pudjiastuti dan Hari Patah Hati Nasional

Penulis bersama lukisan Susi Pudjiastuti (dok: istimewa)

PERSPEKTIFMAKASSAR.ID – Bagi saya, bersitatap dan berbincang lepas dengan Ibu Susi Pudjiastuti semalam (23/10) mencipta haru, terasa gamang. Tapi dia, tetap saja seperti biasa, santai dan menghambur banyak senyum, juga candaan.

Si ibu yang mengenakan sweater ‘hoodie’ merah jambu sebenarnya masih hendak ngobrol tetapi kami yang ‘muda’ justru menyerah pada kantuk dan lelah setelah seharian menyigi Medan Merdeka.

Tadi malam, bersama dua orang sahabat, kami menyambangi Ibu Susi di salah satu sudut Jakarta. Kesimpulan saya, dia tetap optimis membaca Indonesia. Dia ingatkan untuk tetap kampanyekan konservasi laut dan raih manfaat dari laut dengan bijaksana.

Pesannya itu persis dengan apa yang sedari tahun 80-an diperjuangkan oleh kami, oleh anak-anak Kelautan (Unhas). Salah satunya menjaga kelestarian sumber daya pesisir dan laut agar roda perekonomian berjalan seimbang dan berjangkapanjang. Penekanan ini sebangun dengan kebijakannya yang terkenal itu, 3 pilar; kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraam

Selain itu, Susi juga bercerita tentang trending ‘Hari Patah Hati Nasional’ yang diucapkan disertai tawa menggelegak. Kami tersenyum, dia tersenyum.

Ada banyak pesan whatsapp yang diterimanya. Banyak mention dari twitter hingga DM. Juga tentang tagar #WeWantSusi dan ungkapan Hari Patah Nasional dari netizen.

Netizen sepertinya sudah menginderai bahwa tak terpilihnya Susi di Kabinet Jokowi karena selera investasi yang hebat dari Presiden. Ruang laut sepertinya membutuhkan sosok Menteri yang akan merealisasikan selera itu.

Bertahannya sosok trengginas seperti Luhut Binsar Panjaitan serta beberapa orang dekat Presiden Jokowi seperti Teten Masduki hingga Sofyan Jalil adalah bukti bahwa Presiden sedang menyusun langkah-langkah ‘eksploitatif’ ketimbang merawat paham ‘konservasi atau proteksi sumber daya alam’ sebagaimana yang melekat pada seorang Susi Pudjiastuti. So. let’s see…

Yah, banyak pihak yang berharap agar perempuan asal Pangandaran itu tetap ada di Kabinet Jokowi, tetapi Presiden sepertinya punya selera lain.

Penulis yakin, bahwa ini keputusan berat untuk Presiden sebab keduanya, Jokowi dan Susi adalah sahabat dekat. Susi respek ke Presiden Jokowi, Presiden pun demikian.

“Ribuan tahu gak? Mana bisa saya balas semuanya,” ucapnyaterkait pesan yang diterimanya setelah namanya tak lagi masuk Kabinet. Dia sebut demikian seraya membentang tangan, melepas senyum. Dia senang karena banyak sekali pihak yang menyemangatinya, yang memintanya tetap berbagi inspirasi untuk Indonesia.

Bagi saya, bisa jadi apa yang terhampar di konstalasi politik nasional kontemporer tidak seperti harapannya tetapi saya masih membaca optimismenya.

Dia bertanya tentang bagaimana menghidupkan harapan, gagasan dan kerja-kerja mencintai laut Indonesia, meski tak lagi ada di barisan Kabinet.

Penulis: K. Azis, Blogger, ketua Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas 2010-2012.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Dengan Pinisi, YKL Indonesia dan PPI Edukasi Bidang Maritim

Tim Evaluator dan Observer ABET Rampungkan Visitasi Dua Prodi Fakultas Teknik Unhas