in

Reuni dan Cerita Diaspora Alumni Smansa 89 Makassar

Maryos, Arfa, Zainal dan penulis (dok: istimewa)

BALI, PERSPEKTIFMAKASSAR – Foto itu diambil tahun 1989 di kelas III Bio 4 di SMA Negeri I Makassar. Ada empat orang di foto itu dengan gaya yang seperti disiapkan dengan gegas. Dari foto itu, terkuak ke muara mana atau sebaran diaspora seperti apa yang mereka pilih dan jalani bertahun kemudian.

Tiga puluh tahun kemudian, pria pertama jadi manajer pemasaran produk rokok bermerk asing. Dia sejatinya Sarjana Kelautan, tetapi kemampuan ‘managing’ dan kecintaan pada pekerjaan, membuatnya lempang di perusahaan rokok. Sudah bertahun-tahun.

Kadang kala iri juga melihatnya keluar masuk desa, pesisir, teluk, di sekitar Sulampapua, Sulawesi hingga Papua.

Nah, yang satunya lagi dokter gigi. Dia sudah lama dikabarkan mengabdi di salah perusahaan tambang papan atas di antara Sulsel dan Sultra. Dia alumni Kedokteran Gigi Unhas.

Sosoknya dikesankan sulit untuk diajak berhepi-hepi semisal Reuni tetapi dia kini membuktikan, rindu jua yang menuntunnya kembali.

“Sekarang sudah kembali ke kantor Jakarta. Dulu memang di Pomala,” katanya ke penulis saat bertemu di loby Hotel Kyriad Royal Seminyak, (01/11)

Yang satunya lagi kepala Inspektorat di salah satu kota di Sulawesi Selatan. Yang keempat, pekerja serampangan yang kadang menganggur. Kadang jurnalis, fasilitator pelatihan, sesekali jadi periset kelautan dan pemetik hikmah dari orang-orang sukses.

Penulis bersama dr Ridwan Owen (kiri) dan dr Muhammad Arfa (kanan)

Tiga orang di foto bertahun 1989 itu bersua di Bali. Satu lainnya sedang mengemban tugas Negara sehingga urung joinan di Reuni 30, Smansa 89 Makassar, padahal sudah mendaftar dan menyelesaikan syarat administrasi kereunian bersama 143 alumni lainnya.

“Titip salam sama kawan-kawan, ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan,” kata alumni IPDN angkatan pertama itu.

Seperti beberapa kawan yang sudah mendaftar namun urung hadir, dia merasa sedih karena tidak ikut menjadi bagian dalam Reuni 30 Tahun Smansa 89 Makassar yang cetar dan membahana.

Penulis ketemu dia seminggu sebelumnya di Jakarta. Semacam kode bahwa dia selalu terhubung dengan kawan-kawan SMA-nya, betatapun dan seperti apapun kondisi yang dihadapi.

Bukan hanya cerita dan aktor seperti di atas, ada banyak cerita dan alumni lain di peristiwa reuni 30 yang menghadirkan 130-an alumni itu, yang bisa menginspirasi tentang jalan hidup, titian kehidupan, peluang dan cara memanfaatkannya atas nama persaudaraan.

Dia juga bisa menjadi cermin membandingkan peristiwa masa sekolah dan bagaimana nasib atau takdir mengantarkan para alumni.

Dari Reuni 30 Smansa 89 Makassar, kita bisa melihat bagaimana diaspora seperti Zulkarnain, anak Biologi yang kini bekerja di Rengat Riau, atau Abdul Haris yang kini mengabdi pada Negara di Manado, atau Elizabeth Lumbantoruan yang kini bekerja di Balikpapan dan telah berpindah-pindah domisili, atau Husni yang Sarjana Perikanan tetapi jadi bos di salah satu bank.

Juga seorang Imran Amrullah, ketua kelas III Bio 4 yang sering disapa Tube, setelah sekian lama menghilang dari peredaran alumni dia terlacak tinggal di Solo dan dengan bangga datang ke reuni karena kangen teman-teman SMA-nya.

Penulis, Wira Chaniago dan Zainal Ibrahim saat membincang peluang reuni Smansa 89 Makassar di 2009 (dok: istimewa)

Atau, siapa sangka bahwa di Bulukumba, Sulsel sana, ada seorang Cristian Jo yang sudah lama tinggal di sana, dan tidak banyak alumni yang tinggal di Makassar yang tahu itu. Dengan Reuni, Cristian kita dikenal dan telah bertahta di hati kawan lamanya.

Masih banyak cerita dan kejutan lainnya. Karenanya, bisa jadi banyak dari kita, alumni atau sanak keluarga yang kehilangan kesempatan untuk berbagi dan menyesap inspirasi dari mereka.

Tulisan ini hanya remah refleksi, semoga bisa jadi bahan renungan tentang pentingnya menjaga silaturahmi, pada kawan lama, pada teman seprofesi dan dengan sesiapa yang selalu ingin berbagi ke sekitar.

“Sukses selalu Smansa 89 Makassar, semoga ke depan, semakin banyak kegiatan-kegiatan inspiratif untuk Makassar, untuk Sulsel, untuk Indonesia. Jaya Smansa Makassar!” pesan pak Inspektur via PerspektifMakassar.Id.

Banyak harapan setelah pelaksanaan Reuni 30 Tahun Smansa Makassar angkatan 89 tersebut.

Sebutlah bagaimana bersama fasilitasi memulai bisnis di usia 50, lalu memperbanyak silaturahmi antar jurusan seperti Sosial, Biologi, Fisika untuk menjadi bagian dalam agenda-agenda sosial, kesehatan, pendidikan dan penguatan kapasitas alumni.

Demikian pula agenda penguatan dan perluasan dampak positif organisasi IKA Smansa 89 bersama ketua baru meski spiritnya tetap sama ‘satu dalam cinta’. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Unhas Menggelar Konferensi Internasional Ilmu dan Teknologi Peternakan

Sasar Investor, ‘Pinrang Investment Forum 2019’ Digelar di Ibu Kota Negara