in

Reuni Smansa 89 Makassar, Catatan dari Bali

Inilah reuni yang berhasil mengalokasikan sumber daya dan dibingkai oleh kasih sayang atau cinta yang dahsyat. Tiada yang sulit, jika cinta sudah bicara.

Bersama dalam cinta (dok:: istimewa)

BALI – Mereka yang sebagian besar lahir di tahun 1970 itu kembali ke rumah masing-masing. Selama tiga hari, terhitung dari tanggal 1 hingga 3 November 2019 mereka menggelar reuni, tepatnya Reuni 30 Tahun angkatan 1989 SMA Negeri I Makassar atau biasa disebut Smansa.  Reuni usai, saatnya menyesap inspirasi.

[Outline artikel ini, mulai disiapkan saat menunggu penerbangan Citilink ke Makassar pada 3 November 2019]

Hari-hari perayaan setelah 30 tahun berpisah, canda tawa, foto bersama, selfie, welfie, refleksi kenangan hingga yang rada ‘serius’ seperti sharing ‘breast cancer’, teknik memasak masakan Bali hingga ‘how to start’ kewirausahaan di usia 50+ usai sudah tetapi ada banyak kesan dan harapan ke depannya.

Bagi penulis, reuni yang sukses menghadirkan tidak kurang 130 alumni dari yang mendaftar sebanyak 143 orang tentu bukan perkara mudah.

Di balik itu ada dana terkumpul hingga 190-an juta untuk konsumsi, untuk akomodasi dan pernak-pernik prosesi acara di Hotel Kyarid Seminyak, di Jukung Restoran Jimbaran hingga closing di Restoran Budesa di Denpasar.

Anggaran tersebut di luar dana yang disiapkan orang perorang untuk transportasi udara dan darat. Dahsyat bukan?

Meski sebagian besar via udara namun ada juga yang melata dan menebas jarak di jalan raya dengan kereta dengan bus, dari Semarang, Rembang, Surabaya, Situbondo hingga Gilimanuk Bali. Ada juga yang dari Malang – Surabaya – Situbondo – Denpasar.

Pendek kata Reuni 30 Tahun Smansa 89 Makassar itu berjalan sukses, seluruh agenda sosial berjalan lancar, peserta kembali ke rumah masing-masing dengan selamat serta tak kurang satu apapun kecuali kenangan tambahan bersejarah mereka, bahwa ada 130-an alumni yang telah meneguhkan kebersamaan mereka, meski telah 30 tahun tak bersua.

Mereka mengikrarkan untuk tetap ‘satu dalam cinta’. Together in Love, demikian tagline atau tema Reuni mereka. Inilah reuni yang berhasil mengalokasikan sumber daya dan dibingkai oleh kasih sayang atau cinta yang dahsyat. Tiada yang sulit, jika cinta sudah bicara.

Reuni yang menyenangkan (dok: Lody Kalangi)

Tak mudah pada awalnya

Ide reuni secara resmi dicetuskan sekira 5 bulan lalu. Awalnya, IKA Smansa 89 berharap reuni diselenggarakan di bulan September 2019 atau tanggal 7-8 September 2019. Tapi rencana ini batal dan dimundurkan pada awal November 2019 dengan beberapa pertimbangan.

Harga tiket pesawat meroket serta tim kerja yang dibentuk kesulitan konsolidasi sehingga perlu perencanaan ulang. Maka dipilihlah Bali, di awal November 2019 dan disebut sebagai lokasi netral dari sisi akses.

Melalui koordinasi, komunikasi dan  kesungguhan pengurus IKA Smansa 89 sehingga dibentuk SK baru untuk mengawal dan mengkoordinasikan kegiatan ini.

Mandat ketua panitia diserahkan ke Agustinus ‘Tappe’ Hutabarat, alumni Jurusan Fisika semasa SMA dan meraih gelar Sarjana Teknik Mesin di Unhas.

Penulis, yang juga masuk di kepanitian Reuni 30 Tahun ini beberapa kali ikut pertemuan persiapan di Makassar termasuk di Jakarta. Ada banyak pengalaman berinteraksi dengan alumni, dengan tim panitia sekaligus mengukir beberapa pengalaman inspiratif jika dikaitkan dengan ‘bagaimana mengelola event’ seperti reuni.

Ada inspirasi tentang bagaimana mengelola kegiatan (managing event), bagaimana menjajaki sumber daya untuk pelaksanaan reuni, bukan hanya panitia tetapi bagaimana dana disiapkan, bagaimana mengumpulkannya.

Jika panitia reuni di sekolah lain, atau di angkatan lain yang memilih jalan konvensional dengan ‘berbundel proposal’ atau donasi di awal reuni, maka di kepanitian Smansa 89 Makassar ini mereka malah memprioritaskan ‘inisiatif’ alumni untuk mengalokasikan anggaran sendiri.

Salah satu pertimbangannya bahwa reuni adalah urusan personal dan jika menggunakan proposal dan menanggungkan beban ke satu atau dua orang saja akan mengurangi arti cinta kepada kenangan bersama semasa SMA.

Penulis dan sahabat semasa SMA (dok: Lody Kalangi)

Jadi begitulah, panitia perlu menentukan ketepatan angka atau biaya reuni, mengatur timeline persiapan, menjajaki kemampuan tersedia dan apa yang diharapkan, ada pendistribusian pekerjaan, review progress hingga pengetatan batas pendaftaran.

Saya membaca kekuatan dari pembatasan ini, yaitu penekanan pada perlunya profesionalisme dalam mengelola event serta jaminan kemudahan dalam pemantauan pelaksanaan ‘minutes by minutes’ kegiatan.

Menurut Panitia, dengan kondisi superketat tersebut maka akan memudahkan koordinasi dengan mitra kegiatan sepert ‘event organizer’, pengaturan kamar hotel, pengaturan transportasi termasuk mana yang boleh serta tidak boleh di acara reuni, do and don’t kegiatan.

Dengan kondisi demikian, awalnya saya skeptis sebab akan ada banyak alumni yang bisa saja terganjal untuk ikut. Jika selama ini mereka yang ikut Reuni ‘tiba masa tiba akal’, mau hadir tapi jelang hari H kepastiannya maka kali ini mereka harus ambil keputusan jauh hari. Bisa sebulan atau palling lambat 21 hari sebelum Hari H. Ketat bukan?

Tapi, puji syukur ke Tuhan yang Maha Esa, peserta yang mendaftar mencapai 143 orang (membayar dan menyodorkan waktu keberangkatan), meski yang benar-benar hadir di venue hanya 130 orang saja. Beberapa sahabat yang sudah mendaftar berhalangan karena acara keluarga, pekerjaan hingga ada acara yang serupa di tempat kerja.

Dengan jumlah peserta itu saja, ini sudah mengalahkan rekor Reuni sebelumnya di tahun 2009 yang mencapai 120-an orang.

Dengan kata lain, tidak ada beban atau persoalan manakala panitia ketat atau tegas dalam menentukan aturan atau batas akhir pendaftaran.

Setelah 30 Tahun sejak dari Smansa Makassar (dok: istimewa)

Panitia tentu saja tidak menolak ada donasi, tetapi ini bukan yang utama sebab fokus mereka adalah menggugah kesediaan alumni untk ‘berkorban’ waktu dan sumber daya untuk datang ke Bali.

Ruang donasi dibuka belakangan atau opsi kedua setelah pembayaran akomodasi dan konsumsi selesai baru masuk ke ‘todongan donasi’. Ini pun sifatnya tidak mengikat. Info yang diperoleh, donasi dari alumni Smansa 89 Makassar mencapai 90 juta.

Nilai itu bukan dari 1 atau 2 orang tetapi puluhan orang yang sukarela menyumbang untuk reuni itu. Keren bukan?

Leadership

Saya membaca leadership yang kuat dari beberapa anggota panitia Reuni 30 serta yang utama adalah Ketua Panitia. Agustinus Tappe Hutabarat adalah sosok dengan latar belakang pekerja perusahaan yang detil, punya komitmen untuk membagikan gagasan, menyebarluaskan tujuan dari masing-masing kegiatan.

Dia dengan leluasa memberi update, merinci agenda dan output masing-masing kegiatan, karenanya semua menjadi jelas dan patuh pada alur.

Darinya, penulis membaca ketegasan bertindak meski tetap juga punya kesediaan untuk mendiskusikan alternatif solusi.

Leadership yang dijalankannya sempat bikin penulis waswas, ternyata tidak terbukti.

Peserta yang datang banyak sekali dan jadi indikator bahwa dengan gaya seperti itu, orang-orang menjadi aman, nyaman dan terjamin saat datang ke Bali.

Jika ada sedikit isu tak biasa, itu adalah kisruh saat ada pembagian kamar antara yang non-smoking dan smoking.

Beberapa kawan yang sebelumnya seia sekata untuk sekamar, tiba—tiba minta berpindah kamar dengan alasan, butuh kamar yang pas untuk ‘jemaah atau ahli hisap’. Tapi ini tidak lama, lancar dalam hitungan menit.

Mengelola reuni harus dimulai dengan penentuan tujuan dan mencari cara dan sumber daya tersedia untuk mencapainya.

Ada beberapa kegiatan antara seperti pengecekan hotel, lokasi kegiatan outdoor, lokasi makan, pengecekan rute transportasi peserta hingga antar jemputnya, lain sebagainya.  

Agustinus Tappe Hutabarat (ujung kanan) dan teman Smansa-nya (dok: Lody Kalangi)

Agenda reuni tetap terkendali dan ini hanya bisa terjadi karena masing-masing punya leadrship yang sama bahwa ini untuk nama baik Smansa 89 Makassar.

Bukan untuk kesenangan pribadi tetapi bagaimana membuktikan diri sebagai bagian dari IKA Smansa 89 Makassar yang memang diisi oleh alumni yang berdedikasi setidaknya dedikasi dan berbesar hati untuk menyenangkan teman, satu sama lain.

Ini pula yang telah disampaikan oleh Ketua Panitia yang menurut hemat penulis cekatan dalam melakukan monitoring progress persiapan.

Dua pertemuan yang digelar di Jakarta sebelum hari H adalah tanda bahwa praktik manajemen berkelas dan berkualitas baik memang jadi bagian penting dari reuni ini.

Dilandasi cinta

Salah satu bagian dari acara Reuni 30 Tahun ini adalah ketepatan waktu pelaksanaan serta transformasi kepempimpinan yang smooth dari Rani Dasayauri Mappangara yang telah memimpin IKA Smansa 89 selama 10 tahun.

Semua agenda acara berlangsung lancar. Meski ada sedikit melenceng 20 atau 30 menit tetapi secara umum luar biasa.

Lalu, di Restoran Budesa Denpasar, dia dengan tulus meminta kawan-kawan alumni untuk merestui agar Ketua IKA Smansa 89 Makassar secara aklamasi memilih Andi Nasrun Tahir dan semua setuju.

Di situ, saya membaca solidaritas dan kesatuan pandangan terhadap masa depan IKA Smansa 89.

Transformasi seperti itu bukan hal mudah sebab di beberapa angkatan lain ada suasana berbeda dan cenderung tak kondusif. Para alumni 89 sudah ada di ritme yang sama, mereka akrab dengan kata kebersamaan, solidaritas dan memahami arti mencinta.

Tagline atau tema Reuni yang mengambil diksi ‘Together in Love’ adalah bukti atau manifestasi kesungguhan menjadi satu IKA Smansa 89 itu.

Saya kira ini tidak timbul sertamerta tetapi hasil perenungan dan pengalaman selama masa sekolah dan pengalaman bereuni sejak tahun 2009 dan Tenas Smansa 2014.

Penulis dan teman SMA semasa kelas I Netral 11 bertahun 1986 (dok: Andi Ihsan)

Di kepanitian, penulis melihat kesungguhan teman-teman itu untuk mempersiapkan acara serta menjalankan tugas masing-masing. Mulai dari urusan pengumpulan udeng, scarf, sarung Bali hingga tata kelola ruangan acara yang spektakuler, tak luas tetapi dapat menghangatkan persaudaraan.

Kebersamaan yang berawal sejak sSMA. Sekolah yang mereka lakoni di antara 1986 hingga 1989. Sekolah yang menjadi rumah mereka membangun harapan dan kebersamaan, melalui organisasi-organisasi sekolah, Pramuka Oryza Sativa, di organisasi Mushalla Bahrul Ulum, anggota drumband, Pencinta Alam hingga pengelola Mading.

Saya kira, di reuni 30 Smansa 89 Makassar ini, semua dilandasi satu cinta, bukan yang lain.

Tak ada gading yang tak retak, tiada kegiatan yang sempurna, karena itu selalu butuh perbaikan. Ke depan, apa yang bisa dilakukan adalah kian intens merekatkan solidaritas, tetap terhubung satu sama lain dan konsisten di rencana yang telah diusung sejak di reuni 30.

Momen terbaik di reuni 30 tahun Smansa 89 Makassar (dok: Lisa Andriani Arief)

Apa itu? Salah satunya terus terhubung dalam menginisiasi entrepreneurship di usia 50+ serta memperbanyak wadah dan forum silaturahmi.

Jika boleh saran, ada baiknya masing-masing anggota atau alumni jurusan Sosial, Biologi dan Fisika semakin intens bertemu dan berbagi sumber daya, pemikiran dan ruang-ruang kreatif.

Harapannya, tugas pengurus IKA Smansa 89 Makassar ke depan semakin mudah dan efektif dalam menjalankan fungsi organisasi IKA Smansa 89 yang merupakan pilar kunci IKA Smansa 89 Makassar.

Jika membaca semangat di Reuni 30 Tahun yang bertabur cinta dan kasih saya itu – coba lihat koleksi foto kegiatan – yang mengharu biru, yang baru saja berlangsung di Bali tersebut, saya optimis, ke depan, kegiatan-kegiatan strategis dan berdaya guna akan semakin banyak dilaksanakan oleh IKA Smansa 89.  

Dengan demikian, Insya Allah, Smansa 89 Makassar akan jadi role model untuk IKA yang lain, di manapun dia! (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Dies ke-37 FKM Unhas: Menggapai SDM Mumpuni, Mendukung Unhas Humaniversity