in

Cerita Ida dan Pujian untuk Dinda Kedai Kue

Ningsih Umar dan Wahidah Sofyan (kanan) di Dinda Kedai Kue (dok: K. Azis)

MAKASSAR – Pemilik Kedai Kue Dinda, Wahidah Sofyan tergelak saat diminta bercerita pengalaman pertamanya membuka toko kue. Dia bilang, setelah beberapa hari dibuka, dia tutup selama empat hari hanya karena tidak kuat menyaksikan kue-kue yang tidak terbeli.

Jika pembaca sekalian pakai Android, sila cek DINDA Kedai Kue di Googlemap. Letaknya di Jalan Hestasning Blok E10 No. 105 A, Kelurahan Tidung, Kecamatan Panakukang, Kota Makassar.

Kedai kue ini sukses eksis setelah meniti waktu panjang, berliku dan penuh drama di awal berdirinya sebagaimana pengakuan pendirinya Wahidah Sofyan.

Menurut pemiliknya, Kedai Kue Dinda bisa sebegini stabil karena ditopang rasa syukur yang selalu ada.

“Karena kesungguhan untuk terus bertahan karena dasarnya memang menyukai kue-kue dengan rasa khas. Dinda bisa begini karena dorongan beberapa kawan dan keluarga,” kata Wahidah.  

Kuot motivasi di Dinda Kedai Kue (dok: K. Azis)

Saat ditemui Perspektif Makassar pada Rabu 13 November 2019, perempuan yang biasa disapa Ida itu mengaku jika tidak ada yang motivasi, jika tidak ada kawan yang ikut menyemangati mungkin di tahun 2007, usia kedai kuenya hanya bisa bertahan seminggu.

Kedai Kue Dinda kini kian banyak diminati warga Kota Makassar, selain menyediakan tempat tenang, bersih dan bikin mata segar, Dinda juga melayani permintaan online delivery. Di kedai kue yang berada di radius pusat bisnis Panakukang, Makassar, itu setiap hari tersaji aneka kue.

Dinda menyajikan kue lapis pandan atau coklat, kue talam, tarsusu, risoles, pastel, roti cane, soto banjar hingga spaghetti. Dapat diorder via Go Food dan Grab Food.

“Nama Dinda ini diambil dari nama panggilan anak ketiga saya. Terasa mudah diucapkan kan?” sebut putri dokter ini.

 “Tapi sekali lagi, ini murni dasarnya karena saya memang menyukai kue-kue. Keluarga mendukung tapi kan hidup dan berhentinya usaha tergantung kita to?” ucap perempuan yang mengaku punya saudara yang juga mengelola kafe di Jakarta, Gora Cafe di seputaran Tebet.

Suasananya adem, nyaman untuk santai (dok: K. Azis)

Jiwa bisnis Ida meski disebutnya tidak seperti pebisnis lain, hanya lahir dari hobby. Dengan mengelola bisnis yang disebutnya tidak ambisius ini dia bisa belajar bagaimana berinteraksi dengan orang, dengan pelanggan, dengan para pekerjanya termasuk membangun silaturahmi dengan teman-teman sekolah, termasuk SMA.

Pujian datang dari alumni Smansa Makassar angkatan 89 karena kue-kue dari Ida sampai di Bali dan ludes tandas di hari pertama Reuni mereka.  

“Kalau Kedai Kue Dinda, langganan saya, saya sering ke situ,” kata Haji Arief Pabettingi, pemilik usaha Raja Pindah.

“Kue lapisnya juara,” tambah Muhammad Syukur, ASN di Pemprov Sulsel yang menjadikan Kedai Kue Dinda sebagai tempat pertemuan dengan teman atau sekadar rileks menikmati penganan enak.

“Satu kata sedap! Apalagi kue lapisnya,” timpal Anwar Mheda Rauf, profesional yang kini kerja di Jakarta.

“Saya suka pastel dan kuekuenya. Khusus kue lapisnya saya bilang juara!” puji Ningsih Umar asal Gowa.

“Banyak yang suka tarsusu, kue talam, mungkin karena enak dinikmati sama teh tarik. Demikian pula pastel dan risoles,” jawab Ida saat saat ditanya kue apa saja yang jadi favorit.

Salah satu andalan Dinda Kedai Kue (dok: istimewa)

“Saya bisa belajar dari pengalaman bahwa tidak ada yang mudah pada awalnya. Selalu ada tantangan dan kita hanya perlu bersyukur pada Tuhan, siapapun, berapapun, apapun yang datang,” imbuhnya.

Kedai Kue Dinda telah melintasi ruang dan waktu. Dia pernah eksis di beberapa lokasi usaha seperti di Jalan Singa, lalu di Jalan Cendrawasih, di Jalan Sungai Saddang, bahkan di mall.

“Paling lama di Sungai Saddang, tidak jauh dari Jalan Veteran. Kami di sana selama 8 tahun. Kalau toko sering pindah-pindah, pasti akan susah bagi pelanggan dan tenaga kerja,” tambah sarjana ekonomi Unhas ini.

Khas Dinda Kedai Kue
Rodi cane andalan Dinda (dok: istimewa)

“Dari waktu ke waktu, saya bisa belajar mengikuti resep dan juga uji coba rasa. Yang ada saat ini hasil pengalaman panjang itu. Senang karena publik sudah kenal Dinda Kedai Kue,” ucap perempuan yang mengaku tidak pernah kursus bikin kue ini.

Didorong teman

Ida menyatakan bahwa produk toko kuenya tak sebanyak atau sevariatif toko lain tapi jaminannya adalah kesungguhan dan rasa yang khas serta lahir dari pengalaman. Kedai Dinda sangat welcome jika ada yang order khusus dan menggunakan ruang yang ada untuk acara keluarga, atau tempat pertemuan skala kecil.

Mari menikmati sajian kue dan berbagi dengan teman (dok: K. Azis)

“Kalau ruang AC ini sebenarnya bisa untuk yang merokok juga sebab ada exhaust, bagus untuk maksimum 10 orang,” katanya tentang ruang utama toko kuenya, ruangan seluas 3 x 6 meter.

“Alhamdulillah, Dinda sudah di hati orang-orang. Ibu-ibu kantoran, para pekerja, atau kaum muda yang suka icip-icip kue sering datang ke sini. Mereka juga order online. Kadang ada yang borong kue untuk acara tertentu,” aku perempuan yang menyebut bahwa dengan mengelola yang di Blok E ini membuatnya lebih fokus. Tak membebani seleranya yang ingin menikmati waktu dengan bahagia.

 “Tempat kami mungil tapi nyamanlah. Bisa untuk santai minum kopi, minum teh pagi hari hingga bisa makan siang dengan Soto Banjar,” lanjutnya.

Harga kuenya beragam mulai dari Rp. 5,500, 9 ribuan dan juga harga sepadan untuk misalnya Soto Banjar. Di kedai ini tersedia 10 kursi untuk bagian dalam lengkap dengan AC dan exhaust serta dua meja di luar sekira 6 atau 8 orang.

“Awalnya, saya sempat down, tapi Alhamdulillah, saya bersyukur, saya bisa bertahan-tahan dengan orang-orang yang menyukai pekerjaan dengan tulus,” tutup alumni Smansa Makassar angkatan 1989 jurusan Biologi ini.

Bemana, mau-ki ke sana? Yuk! (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Alumi Smansa 89 Makassar Menimba Ilmu Memasak pada Chef Kyriad Seminyak

Rektor Unhas dan Dubes RI untuk Uzbekistan Bahas Kolaborasi Universitas Antarnegara