in

Akhir Perburuan Mafia Perikanan di Lamadeba

Bukan tak percaya pada pengganti Menteri Dolphina, publik hanya khawatir cerita fabel Animal Farm, George Orwell

Pemimpin Lamadeba (sumber Weasy)

OPINI – MENTERI Dolphina yang dicintai Rakyat Lamadeba pada 2094 berseru bahwa jaringan mafia ada di balik krisis usaha perikanan mereka dalam tiga dekade terakhir.

Prahara negeri terjadi karena akal bulus para garong ikan, kapal asing, cukong hingga oknum di Kementerian terkait yang justru punya banyak kapal ikan gede.

Karena itu, dia tidak heran ketika banyak pihak yang ingin mencongkelnya dari kursi Menteri di Lamadeba. Dia bergeming dan tetap maju pantang mundur.

Waktu berlalu, kini, mereka yang ingin setting ‘hukum rimba’ seperti itu kembali, kini bisa bernapas lega.

Dolphina kembali jadi orang biasa dan hanya menularkan energi positifnya untuk laut melalui organisasi bernama Eja Tongpi Nadoang (ETN). Semampunya, sekenanya.

Sungguh banyak yang sedih dengan tidak dipilihnya sebagai Menteri lagi oleh Penguasa Lamadeba meski di sisi lain banyak yang berseru, “Mari berpesta!”

Rakyat sadar bahwa amat sulit melihat Dolphina yang sikap keras kepala dan ‘gilanya’ untuk bersanding dengan penguasa Lamadeba yang sudah kemaruk Kapitalisme.

Susah bagi keluarga besar elite Lamadeba untuk menjawab dahaganya membangun ekonomi Lamadeba jika Dolphina masih ada.

Inilah saatnya menunjukkan kuku, bagaimana menjalankan ekonomi asal investor datang, tutup mata pada penggerayangan alam, pada pelumpuhan masyarakat kecil, pada nelayan tradisional.

Pencapaian bahwa Dolphina telah memulihkan laut dari kangkangan asing, telah membereskan praktik transshipment, pelepasan BBM illegal di perbatasan, hingga mengangkat harga diri bangsa yang tidak lagi digagahi asing di kolong laut dipandang sebelah mata. Mata sebelahnya, memberi kode ke investasi.

Tiada proses ‘pengibaan tiga hari tiga malam’ di Negeri Lamadepa yang disebut Negara Kepulauan atau Maritim itu demi mempertahankan kursi Menteri Dolphina.

Padahal di pikiran warga, Ibu asuh Dolphina, sebut saja Nonya Darandang sangat sayang dan bangga karakter Dewa Laut yang terbaca dari tindak tanduk Menteri asal Taka Bassi itu, yang gigih pada tegaknya nasionalisme, aware pada asing dan kehendak pemandirian bangsa.

Hingga kini, rakyat Lamadeba belum membaca pernyataan penguasa Lamadeba tentang kiprah Menteri Dolphina selama lima tahun itu. Tentang kenapa dia didepak.

Rakyat lalu menghubungkan sikap Penguasa Lamadeba dengan pandangan orang dekatnya yang menyebut tidak akan sukit menemukan orang baik (jika Dolphina nggak kepilih lagi) di Lamadeba. Jadi tidak perlu khawatir.

Okelah kalau begitu.

Tetapi warga tetap berkecil hati di tengah rentannya urusan kelautan dan perikanan Lamadeba. Apalagi ada kata Kementerian Bombang (Laut) dan Paddanggangang (Investasi) itu, padahal sudah ada BKPM hingga Kementerian Perdagangan.

Oh emji!

***

Publik wajar merasa skeptis saat mengingat jumlah pulau di Lamadeba yang mencapai 15 ribuan, dengan urusan pengelolaan ruang laut yang masih morat marit, terutama di level provinsi dan kabupaten/kota, disharmoni antara nelayan kecil dan kapal-kapal besar milik pengusaha kakap hingga rentannya beberapa perairan seperti Arunaaruna dan Ararafururu.

Skeptis sebab, Pemerintah Lamadeba hanya melihat investasi atau paddanggangang sebagai ruang pemulihan, bukan keseimbangan atau menjaga harmoni yang sudah stabil sejauh ini.

‘Bedol desa’ nelayan-nelayan utara Lamadeba ke Timur Laut sebenarnya merupakan hal baik sebab telah mengsubstitusi nelayan asing di sana.

Hanya saja, ini tidak bisa didiamkan tanpa transformasi yang terus menerus, baik kapasitas ke nelayan setempat maupun pengolahan hasil perikanan berbasis infrastruktur lokal alias tak harus diboyong ke Barat sebagai ‘raw material’.

Bukan tak percaya pada pengganti Menteri Dolphina, publik hanya khawatir cerita fabel Animal Farm, George Orwell, tentang mafia.

Tentang tentakel Oligarki, para Oligark, dan kesungguhan untuk menjadi pemimpin konsisten dan tegas yang hanya akan seumur jagung. Yang akan senasib dengan urusan laut kita yang akan mudah diserahkan ke asing atau mafia (terbarukan).

Ceritanya begini.

Raja Singa Laut, pemimpin tertinggi ‘Samudera Lamadeba’ sangat ingin memberantas mafia kelautan dan perikanan yang menguasai rantai makanan di samudera Paras Marimariposo, belakangan ini.

Lalu diangkatlah Hiu Paus yang terkenal berani dan jujur untuk memberantas jaringan mafia lautan. Hiu Paus (kita singkat saja, HIPA) mulai bekerja dengan mengidentifikasi pelaku jaringan mafia lautan, dari Taka hingga Gosong.

Maka tercatatlah para mafia lautan itu: Mangngiwang Dodong, Talibbo, Sunu hingga Langkoe, sebagai anggota jaringan mafia lautan. Dari yang kroco hingga supermafia.

Hipa menyurat stensilan ke Raja Singa Lamadeba. Ingin menyampaikan rahasia jaringan mafia. Raja Singa Lamadeba mengundang Hipa ke Istana Raja di Gusung Laelae.

Setiba di sana, Raja Singa Lamadeba memperkenalkan Hipa kepada sejumlah tamunya yang sangat berjasa menjaga rantai makanan lautan, masing-masing bernama: Pausu’, Ondara, Panynyu hingga Ularabombang.

Besoknya, Hipa diganti. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Unhas dan SRIUT Uzbekistan Kolaborasi Kembangkan Pariwisata

Unhas Menjadi Bagian dalam Kolaborasi Penelitian Australia Indonesia