in

Tokoh Sulsel Brigjen (Purn) dr Bempa Mappangara Wafat, AAN: Sederhana dan Pemimpin Panutan

Lahir di Siwa, Wajo pada tahun 1938, dokter tentara dan pernah menjadi Ketua DPRD Sulsel dua periode.

Rani Dasayauri bersama ayahanda panutan, Bempa Mappangara (dok: RDM)

JAKARTA – Kabar duka datang dari Ibu Kota Jakarta. Tokoh Sulawesi Selatan, Brigjen TNI (Purn) dr H. Bempa Mappangara wafat pada Jumat malam.

Putra mantan Ketua DPRD Sulsel tahun 1987 hingga 1995, Rani Dasayauri (49) membenarkan informasi tersebut dan berkabar kalau ayahnya, dr H. Bempa Mappangara wafat pada Jumat, 22 November 2019, pukul 23.30 Wib di Jakarta.

“Innalillahi wainnailahi rajiun telah berpulang rahmatullah mantan ketua DPRD Sulsel Brigjen TNI (Purn) dr H. Bempa Mappangara pada Jumat, 22-11-2019, pukul 23.30 Wib, di Jakarta,” tulis Rani via Whatsapp.

Sontak, kabar tersebur menyebar di berbagai grup Whatsapp dan social media seperti Facebook. Penulis membaca berita itu dari grup WA IKA Smansa Makassar, WA IKA Smansa 89 dan grup WA Forum Alumni Unhas.  

“Beliau sangat baik, saya mengenalnya sejak saya masih kecil di Parepare, bro. Sebagai ketua DPRD Sulsel, beliau sangat merakyat,” sebut Yansi Tenu, alumni Fakultas Sospol Unhas.

Akademisi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Kuko Parawansa punya pengalaman dengan almarhum.

“Waktu di Parepare, masa kanak-kanak, saya sering main ke rumah almarhum sewaktu menjabat Kepala Rumkit Tentara Parepare. Saat itu, ayah saya Wali Kota Parepare. Allahummagfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu..al-fatiha,” sebut Kuko.

Kuko juga mengenang pengalaman di Parepare bersama almarhum saat melihat keluarga besar dr. Bempa Mappangara berbesan dengan almarhum Kolonel Andi Tau Karaengta Barangmamase yang juga mantan Danrem 142 Taroada Tarogau Parepare.

Brigjen (Purn) dr. H Bempa Mappangara adalah alumni Smansa Makassar angkatan tahun 1956. Ketua IKA Smansa Ir. H. Agus Arifin Nu’mang, M.Si (AAN) tak bisa menyembunyikan kesedihannya atas kepergian tokoh yang disebutnya pemimpin panutan, pengayom dan sederhana ini.

Tentara dan politisi sederhana

“Almarhum adalah tentara, dokter dan politisi yang rendah hati. Sebagai mantan Ketua DPRD Sulsel dan anggota DPR RI, beliau menunjukkan sikap dan pola hidup sederhana, sangat pantas jadi panutan,” kata Agus A. Nu’mang yang juga pernah menjadi ketua DPRD dan Wagub Sulsel dua periode ini.

Brigjen (Purn) dr. Bempa Mappangara, kedua dari kiri saat mengikuti acara Temu Nasional alumni Smansa Makassar di Jakarta (dok: IKA Smansa Makassar)

AAN juga mengapresiasi dan bangga pada almarhum sebagai alumni Smansa karena di usia yang sudah tua, almarhum masih menyempatkan hadir saat acara Tenas Smansa di Jakarta beberapa tahun lalu bersama almarhum Jenderal George Toisutta.

Rekam jejak Bempa Mappangara adalah di dunia militer dan palagan politik. Setelah lulus SMA, dia mendalami Ilmu Kedokteran dan bergelar dokter, dokter ketentaraan.

Saat berpangkat Letnan Kolonel CKM, dr. B. Mappangara menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pelamonia Makassar antara tahun 1981 hingga 1986, sebelumnya pernah bertugas di Rumkit Parepare.

Lalu setahun kemudian menjadi ketua DPRD Sulsel antara tahun 1987 hingga 1995.

“Keberhasilan Gubernur Ahmad Amiruddin sebagai Gubernur Sulsel kala itu tak lepas dari suasana harmoni dan relasi mutualistik antara eksekutif yang dipimpin Amiruddin dan DPRD yang diketuai Bempa Mappangara saat itu,” kata Mulawarman, wartawan senior asal Makassar yang berdomisili di Jakarta.

Karirnya di politik dan menjadi ketua DPRD selama 8 tahun membuatnya dikagumi dan disebut sebagai panutan sekaligus guru politik bagi banyak yuniornya termasuk Agus Arifin Nu’mang dan politisi Golongan Karya di tahun 80-an hingga 90-an.

Menurut Rani Dasayauri, ayahnya wafat di usia 81 tahun. “Bapak lahir tanggal 20 bulan Mei 1938 di Siwa, Wajo,” imbuh Rani.

“Hingga 1996 bertugas di Makassar sebagai kepala RS Pelamonia, lalu Kepala Kesehatan Kodam Hasanuddin, setelah itu sebagai Ketua DPRD Sulsel selama 2 periode lalu menjadi anggota DPR-RI dari tahun 1997 hingga 1999 dan menetap di Jakarta,” sebut Rani ke PerspektifMakassar.id

“Mohon maaf atas kesalahan beliau dan mohon doa untuk ayahanda kami tercinta,” tulis Rani melalui Whatsapp dari rumah duka di Jalan Rawajati Timur III, Komp. Zeni AD VI No. 1, Lapangan Belalang, Jakarta Selatan. (*)

Penulis: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Unhas Beberkan Tujuh Kejanggalan Ijazah Dokter di PT Pelni Makassar

JK Melayat ke Rumah Duka Brigjen (Purn) dr Bempa Mappangara