in

Dies ke-59 FIB-UH: Emban Peran Sosiokultural untuk Kemanusiaan dan Lingkungan

Pujangga tak pernah hanya melahirkan satu puisi. Budayawan tak sekalipun berhenti “berkhutbah” meski malam semakin larut dan pendengar makin berkurang.

MAKASSAR – Otomatisasi, satu kata yang tidak mengandung arti banyak namun punya daya jangkau dampak yang tak sedikit. Dia memang kata benda tapi bukan berarti tak bekerja. Sekali dia bekerja, maka banyak hal yang secara mudah dilakukan.

Kata orang berilmu, itu disebut efisiensi. Otomatisasi memang ditakdirkan hadir sebagai alat bantu untuk mencapai hasil terbaik setidaknya dalam bentuk efisiensi.

Sebagai produk teknologi, tentu saja ia bersifat dinamis. Ada sejumlah langkah, proses dan logika yang ikut bermain. Sebelum wujudnya tampak dan dinikmati, didalamnya ada rangkaian yang tak sederhana serta butuh keahlian logika yang mumpuni.

Generasi keempat revolusi industri yang akrab di telinga kita bernama RI 4.0 kian menggaungkan proses ini. Rasanya semua pihak bertanding untuk terdepan dalam mendorong sistem otomatisasi pada segala aspek dan aktivitas manusia.

Teknologi cyber yang dihadirkan dan disandingkan dengan teknologi otomatisasi adalah tren yang tak mungkin ditahan apalagi coba diacuhkan. Basis ini telah mengubah banyak hal termasuk dalam kehidupan manusia.

Dari sekAdar memenuhi kebutuhan dasar, aktivitas terkait ekonomi, dunia kerja bahkan hingga pada gaya hidup. Dimulai hanya dengan target internet of things (IoT) secara massif, lalu menghadirkan teknologi cerdas secara terstruktur, hingga kemudian larut mengubah dunia dan pola hidup manusia secara sistematis.

Jikalau semua fokus dan larut dalam riuh-rendah teknologi digital, apakah tidak selayaknya kita khawatir akan masa depan “masyarakat” dunia?. Inovasi digital layaknya keharusan menceburkan diri dalam gelombang besar yang pilihannya hanya sekedar ikut berenang atau jadi follower saja?.

Tentu saja jawabannya adalah “Tidak”. Ilmu, Pengetahuan, Teknologi, Seni dan Budaya selalu punya dua sisi yang memberi peluang.

Jepang memulai dengan meluncurkan visi Society 5.0. Dari banyak sumber referensi, konsep ini dikembangkan oleh Keidanren (semacam asosiasi bisnis Jepang).

Secara kultural, negara Jepang memang terbiasa memandang persoalan dan masalah tidak dengan pesimistis. Tanggung jawab terhadap generasi selanjutnya dijawab dengan konsep masa depan yang mengarahkan pada masyarakat yang optimis. Society/Masyarakat 5.0 ini diharapkan menjawab keraguan publik akan dampak IoT dan kecerdasan buatan yang suatu waktu bisa saja menghadirkan bencana.

Sadar dengan nature mereka, tak punya limpahan sumber daya alam sebagai basis ekonomi, pilihan mengedepankan teknologi adalah jawabannya. Keyakinan akan kemampuan berdiri tegak di garis depan dengan teknologi, tidak membuat bangsa ini lupa akan habitat masyarakatnya.

Tantangan demografi dengan penuaan yang tinggi disertai populasi yang menurun diantisipasi dengan teknologi dan fasilitas untuk mendukung kemandirian warganya. Ada banyak cerita dan fakta yang terhidang di dunia maya maupun media nyata bagaimana negara matahari terbit ini mengajari kita tentang arti “kehadiran negara”.

Bukan Jepang, kalau mereka bekerja tak tuntas. Konsep Masyarakat 5.0 yang digaungkan untuk menemukan kebahagiaan sejati itu tak sekedar di atas kertas. Teknologi yang dipunyai disandingkan dengan data yang komprehensif, lalu diramu dengan bahasa optimisme, diolah dengan rasa nasionalisme disertai budaya malu yang tinggi, hingga berwujud dengan tujuan utama menjadikan kemajuan ekonomi seimbang dengan kehidupan sosial.

Kini, konsep Masyarakat 5.0 itu telah dijadikan cita-cita bersama dan tertuang dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 (imagination society).

Jepang telah take-off dengan visi mereka, lantas kita sebagai Indonesia sudah melangkah seperti apa? Tentu saja Jepang dan Indonesia punya karakter dan tantangan yang sejatinya berbeda. Namun selalu ada titik temu antara dua pihak yang berbeda.

Jepang memang selalu unggul di “keseriusan” karena keterbatasan, di lain sisi Indonesia kaya akan budaya dan lekat dengan semangat gotong royong. Itulah nikmatnya berkolaborasi dibanding berkompetisi. Selalu ada ruang untuk belajar bersama, komplementer jauh lebih baik dan bermartabat. Tanpa bermaksud menganggap yang lain punya peran lebih kecil, Budaya adalah media menuju ke sana.

***

Mari sejenak kita “menengok lebih dalam” disiplin ilmu yang telah lama bertumbuh dengan akar kuat di Unhas.

Sebagai hasil pikiran dan akal budi, menyemai bahasa dan adat istiadat, serta menjiwai peradaban dan kemajuan, disiplin ilmu ini mengantar pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial dalam memahami lingkungan.

Penciptaan akal budi dengan pengalaman dan pedoman dalam bertingkah laku adalah ciri peradaban yang senantiasa dijunjung tinggi dan dilakoni dalam hidup dan berkehidupan sosial.

Jejak disiplin ilmu budaya di Unhas dimulai dengan ‘peleburan’ sejumlah unit Program Kursus B.1 Pedagogik, Sastra Timur dan Sastra Barat dari Yayasan Perguruan Tinggi Makassar untuk dikembangkan di Unhas.

Proses yang tentunya tidak berjalan mudah itu dimulai di awal Nopember 1959. Jalan yang dipilih ini mungkin bukan sesuatu yang terencana dengan baik namun keyakinan bahwa niat tulus akan selalu berujung pada kebaikan harus terus digelorakan.

Surat Keputusan (SK) Menteri Muda PP dan K tanggal 3 Desember 1960 menjadi milestone sejarah. Fakultas Sastra dan Filsafat menjadi fakultas kelima di Unhas. Dalam kiprah pengabdiannya, sempat mengalami beragam “penyesuaian” sebagai konsekuensi organisasi milik publik.

Tahun 1977, fakultas ini harus rela bergabung bersama dengan Fakultas Ekonomi dan FISIP menjadi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (FIISBUD). Hingga kemudian pada awal tahun 1983, struktur itu kembali berubah. Fakultas Sastra balik kandang menjadi fakultas sendiri.

Catatan penting lain dalam sejarah fakultas ini adalah ketika Unhas berubah status menjadi Badan Hukum (PTN-BH) tahun 2014. Ada sejumlah perubahan dilakukan dengan status baru itu. Fakultas Sastra beradaptasi menjadi Fakultas Ilmu Budaya tepatnya di bulan kedua di tahun 2016. Nama itu lah kini yang menjadi branding fakultas ini dengan akronim baru FIB.

FIB kini sudah sangat jauh berbeda. Saat ini mengasuh 9 prodi S1. Nama prodi yang identik dengan nama negara dan kawasan ini, mulai dari Sastra Indonesia, Inggris, Perancis, Jepang, Arab hingga yang terbaru Bahasa dan Kebudayaan Mandarin. Nama lain adalah yang berbau ‘masa lalu’ yaitu Ilmu Sejarah dan Arkeologi.

Tentu saja juga tidak melupakan konten lokal yaitu Sastra Daerah Bugis Makassar. Selain itu juga membina 5 prodi S2 yaitu Magister Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Linguistik, Arkeologi dan Sejarah. Memiliki 2 prodi S2 yaitu Ilmu Linguistik dan Bahasa Inggris.

Bicara akreditasi prodi, FIB bisa menjadi tempat belajar memperbaiki proses dan kualitas. Lewat usaha yang konsisten disertai kesadaran intelektualitas luar biasa, capaian akreditasi nasional melambung jauh. Hingga 2017 baru 2 prodi S1 yang terakreditasi “A” BAN-PT.

Namun sejak medio 2018 hingga kini menjadi 6 prodi S1 yang “A”. Hanya menyisakan 2 prodi yang “B” dan satu lagi prodi baru. Loncatan prestasi yang tentunya tak mudah dibangun dalam sekejap waktu.

Di level magister dan doktor, terus berusaha membangun kepercayaan publik. Walaupun masih dominan “B”, namun yang sangat pantas diapresiasi adalah kerja ikhlas sivitas akademika yang tak membiarkan prodi baru berlama-lama untuk mengikuti akreditasi.

Dengan karakter manusia berbudaya yang selalu menjaga kualitas dan keluhuran manusia adalah semangat dan modal utama warga fakultas ini dalam mewarisi jiwa juang Hasanudin.

Tak mau kalah dengan sejawatnya yang lain, FIB kini pun telah “pecah telor” untuk akreditasi internasional. Prodi S1 Arkeologi menentaskan capaian tak mudah ini. Medio 2019, Arkeologi telah mendapatkan pengakuan standar internasional dari AUN-QA. Tak sampai telur menetas saja, ibarat puisi ada rangkaian yang teratur indah.

Laksana pantun, ada ritme kata nan indah tersusun. Prodi Sastra Inggris akan divitasi awal tahun 2020 dan juga Prodi Sastra Arab di Nopember 2020. Pujangga tak pernah hanya melahirkan satu puisi. Budayawan tak sekalipun berhenti “berkhutbah” meski malam semakin larut dan pendengar makin berkurang.

Didukung dengan kualitas SDM yang sangat mumpuni. Fakultas ini diasuh 103 dosen aktif. Sekitar 50 % diantaranya bergelar Doktor tamatan dalam dan luar negeri. Ditopang 10 professor aktif dengan keahlian yang beragam. Modal yang sangat besar untuk menghasilkan cerdik cendikia, pemikir dan perawat warisan maha dahsyat kebudayaan, hingga pemimpin peradaban.

Karya luar biasa itu adalah kerja kolektif sivitas akademika Fakultas Ilmu Budaya, dan pastinya tidak lepas dari tangan dingin Sang Dekan, Prof. Akin Duli. Tipikal Dekan yang tak banyak bicara namun pekerja keras.

Mungkin karena berlatar belakang arkeolog hingga kemudian sifatnya menyukai hal yang detil. Tentu saja apa yang dicapainya juga hasil kerja para Dekan, pimpinan dan sivitas akademika FIB sebelumnya. Sebuah prestasi lahir dari perjalanan panjang dan secara konsisten diperjuangkan.

Satu fakta yang tak terbantahkan bahwa nama FIB menjadi harum semerbak karena kiprah para alumninya. Tak terhitung alumninya yang telah berjuang dan berbuat luar biasa untuk peradaban dan kebudayaan bangsa ini.

Menyebut satu nama sebagai contoh, Mattulada, bahwa FIB diakui sebagai “panggung pentas para panrita” budayawan Indonesia dan dunia.

3 Desember 2019, Fakultas FIB Unhas berusia 59 tahun. Puncak perayaannya akan dilakukan Minggu (08/12). Umur yang sejatinya sudah kategori matang. Namun pengabdian tak pernah merasa tua. Tekad menjadi pusat pengembangan peradaban dan kebudayaan yang unggul adalah cita-cita yang tak pernah kendur.

Kokok ayam jantan telah terdengar, angin pagi telah bertiup, pinisi telah berlayar ke cakrawala. Sumber mata air ilmu dan tempat latihan amal tetap menunggu kiprah terbaikmu.

Selamat Dies Natalis ke-59 FIB Unhas. Panjimu terpancang di medan bakti. Gelora pantai dan lembah gunung adalah tempat mengabdi.

Kejayaan nusa dan Indonesia bahagia menjadi tujuan utama. Solidaritas sosiokultural bagi kemanusiaan dan lingkungan telah menunggu. Salah satu garda terdepan Unhas mewujudkan Humaniversity.

Penulis: Dr Suharman Hamzah, Direktur Komunikasi/Sekretaris Rektor Unhas

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Diklat Fungsional Penjenjangan Perencana Madya Ekonomi II Di P2KP Unhas Resmi Ditutup

Rektor Unhas Jadi Pembicara “Leader’s Talk” Bank Indonesia 2019