in

Dr Adi Maulana: Musim Hujan dan Korelasinya dengan Kecenderungan Bencana di Sulsel (Bagian I)

Minimnya usaha-usaha mitigasi dan juga rendahnya pengetahuan atau literasi masyarakat tentang fenomena bencana ini menyebabkan kerentanan bencana ini akan semakin tinggi.

Dr (Eng) Adi Maulana, Kapuslitbang Studi Kebencanaan Unhas (dok: istimewa)

MAKASSAR – Musim hujan telah tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bahaya banjir mengancam desa-kota, di mana-mana. Bukan hanya di Pulau Jawa tetapi di pulau-pulau besar Indonesia.

Minggu ini, kita dibuat prihatin banjir yang terjadi di sebagian besar Jakarta dan Jawa Barat. Bagaimana seharunya menyikapi isu besar ini dan apa yang mesti disegerakan oleh para pemangku kepentingan?

Mari simak uraian pakar kebenacanaan, Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, ST.M.Phil yang juga Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Studi Kebencanaan, Universitas Hasanuddin sebagaimana dibagikannya untuk Perspektif Makassar.

***

Memasuki musim hujan yang diprediksi akan dimulai sekitar akhir Desember, beberapa wilayah di Sulawesi Selatan harus mewaspadai bencana alam musiman, yaitu tanah longsor dan banjir.

Minimnya usaha-usaha mitigasi dan juga rendahnya pengetahuan atau literasi masyarakat tentang fenomena bencana ini menyebabkan kerentanan bencana ini akan semakin tinggi. 

Hal tersebut diperparah dengan adanya fenomena baru dimana musim hujan kali ini diprediksi akan menjadi musim hujan yang anomali.

Terjadinya pergeseran waktu, dimana musim kemarau 2019 terjadi lebih lama dari yang umumnya terjadi menyebabkan durasi musim hujan akan lebih pendek, namun akan lebih besar volumennya.

Kejadian banjir di Ibu Kota Jakarta pada awal tahun 2020 mengirimkan pesan bahwa memang telah terjadi pergeseran musim yang akan berakibat semakin seringnya bencana hidrometereologis, terutama banjir disebagian besar Indonesia.

Pusat penelitian dan pengembangan Studi Kebencanaan UNHAS telah melakukan kajian untuk menilai potensi dan dampak yang akan diitimbulkan dari bencana tanah longsor dan banjir.

Hasil kajian telah dibukukan dalam bentuk atlas tanah longsor atau gerakan tanah dan prediksi banjir dibeberapa tempat rawan banjir di Sulawesi Selatan. Hasil dari kajian tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi dan acuan dalam upaya pengurangan resiko bencana, terutama tanah longsor dan banjir yang akhir-akhir ini sangat masif terjadi.

Berikut ini merupakan kesimpulan dari hasil kajian yang dilakukan sebagai upaya untuk terus melakukan sosialisasi mengenai masalah kebencanaan agar dapat meningkatkan literasi kebencaanan masyarakat. 

Tanah Longsor

Tanah longsor atau sering diistilah gerakan tanah merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi dan dapat menimbulkan kerugian, baik materil maupun jiwa manusia, seperti longsornya badan jalan, rusaknya tatalahan, rusaknya berbagai bangunan, pemukiman masyarakat, serta rusaknya berbagai fasilitas umum lainnya; bahkan tidak jarang merenggut jiwa manusia.

Gerakan tanah dapat diartikan sebagai suatu hasil dari proses gangguan kesetim-bangan yang menyebabkan massa tanah dan atau massa batuan bergerak ke daerah yang lebih rendah. Gerakan tanah biasanya diawali dengan adanya rekahan-rekahan di atas permukaan tanah di sekitar lereng.

Apabila rekahan-rekahan ini terisi oleh air atau karena adanya getaran dan beban, akan mengakibatkan terjadinya gerakantanah. Panjangnya musim kemarau pada tahun 2019 ini menyebabkan tanah mengalami kekeringan, dan menyebabkan susutnya volume tanah.

Ketika hujan turun dengan instensitas yang tinggi menyebabkan tanah terisi oleh air dan membuat naiknya bobot massa tanah/batuan karena air yang masuk ke dalam tubuh tanah/ batuan menyebabkan terisinya rongga antarbutir sehingga bobot massa tanah/ batuan akan bertambah.

Pertambahan volume ini akan menyebabkan ketidakseimbangan terutama pada daerah-daerah dengan topografi yang terjal atau mempunyai kemiringan lereng yang sedang sampai curam.

Tanah longsor akan semakin instensif terjadi pada daerah-daerah dengan kondisi batuan yang tidak kompak dengan kondisi struktur geologi yang banyak terdapat patahan dan kekar serta rekahan-rekahan dan juga kontak antara batuan.

Batas kontak atau pertemuan antara lapisan batuan ini akan menjadi bidang gelincir bagi terjadinya perpindahan massa tanah mengikuti hukum gravitasi dan menjadi tanah longsor.

Proses lainnya yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor yaitu adanya proses pelindihan (leaching) dari bahan perekat yang mengikat antar butir penyusun batuan atau tanah.

Kehadiran air di dalam tubuh tanah/batuan dapat melarutkan bahan-bahan pengikat butiran-butiran yang membentuk tubuh batuan sedimen maupun tanah sehingga daya rekat antar butir/materialnya menghilang.

Jadi, bencana tanah longsor akan semakin massif terjadi apabila ditunjang dengan faktor lain, yaitu antara lain aktifitas manusia seperti penggalian dan pemotongan tebing yang menyebabkan hilangnya penahan lateral sehingga terjadi tanah longsor atau gerakantanah.

Getaran dan beban yang disebabkan oleh aktifitas kendaraan berat yang melintas pada suatu daerah yang labil dengan frekuensi tinggi juga turut serta menyebabkan terjadinya tanah longsor.

Kemudian hal terakhir yang juga penyebab terjadinya tanah longsor yaitu hilangnya vegetasi penutup lahan. Kondisi ini menyebabkan terjadinya erosi permukaan apabila terjadi hujan yang menyebabkan timbul-nya alur-alur dimana pada kondisi tertentu akan diikuti dengan terjadinya gerakan tanah.

Daerah mana saja?

Berdasarkan hasil kajian dari Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin, daerah-daerah yang berpotensi untuk terjadinya bencana tanah longsor ini yaitu di daerah sepanjang jalan Malino – Manipi, Buludua (Soppeng), beberapa titik-titik sepanjang jalan Camba, daerah sepanjang jalan Enrekang-Toraja dan juga jalan Rantepao-Palopo.

Kondisi daerah di sepanjang jalan ini disusun oleh material berupa hasil lapukan batuan-batuan vulkanik dengan kondisi struktur geologi berupa patahan dan kekar-kekar.

Topografi berupa perbukitan dan pegunungan membuat kondisi sepanjang daerah ini sangat berpotensi untuk terjadinya longsor.

Selain itu, potensi longsor juga dijumpai di jalan Seko-Rampi yang disusun oleh material hasil pelapukan batuan granit dengan kondisi topografi yang sedang sampai curam dan tutupan lahan yang sudah banyak terbuka akibat pembukaan lahan, baik untuk keperluan pemukiman ataupun perkebunan.

Daerah-daerah lain yang juga perlu mendapatkan perhatian yaitu di beberapa wilayah barat Kabupaten Toraja dan Toraja Utara serta Kabupaten Pinrang yang berbatasan dengan Mamasa.

Adanya aktifitas patahan Masupu yang mememanjang dari Kabupaten Mamasa menuju kearah tenggara menyebabkan terbentuknya rekahan-rekahan pada tanah dengan ukuran yang bervariasi. Rekahan-rekahan ini berpotensi menjadi tanah longsor dengan dimensi yang lebih luas apabila terisi oleh air hujan. (*)

Editor: Kamaruddin Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Catatan Akhir Tahun Prof Dwia: Unhas Kita, Kinerja dan 1000 Terbaik Dunia

Dr Adi Maulana: Musim Hujan dan Korelasinya dengan Kecenderungan Bencana di Sulsel (Bagian II)