in

Dr Adi Maulana: Musim Hujan dan Korelasinya dengan Kecenderungan Bencana di Sulsel (Bagian II)

Dr (Eng) Adi Maulana, Kapuslitbang Studi Kebencanaan Unhas (dok: istimewa)

MAKASSAR – Musim hujan telah tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bahaya banjir jadi ancaman di mana-mana. Bukan hanya di Pulau Jawa tetapi di pulau-pulau besar Indonesia.

Minggu ini, kita dibuat prihatin banjir yang terjadi di sebagian besar Jakarta dan Jawa Barat.

Bagaimana seharusnya menyikapi isu besar ini dan apa yang mesti disegerakan oleh para pemangku kepentingan?

Mari simak uraian bagian kedua dari pakar kebencanaan, Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, ST.M.Phil yang juga Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Studi Kebencanaan, Universitas Hasanuddin sebagaimana dibagikannya untuk Perspektif Makassar.

***

Upaya Penanggulangan

Upaya penanggulangan bencana tanah longsor atau gerakantanah merupakan tindakan korektif baik penanggulangan darurat (bersifat sementara dan sederhana) maupun permanen.

Penanggulangan darurat, adalah suatu tindakan penanggulangan yang sifatnya sementara dan umumnya dilakukan sebelum penanggulangan permanen dilakukan.

Beberapa tindakan penanggulangan darurat yang dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu antara lain:

Pertama, mencegah masuknya air permukaan ke dalam tubuh tanah/batuan yang mengalami gerakantanah, dengan menutup rekahan-rekahan tanah/batuan menggunakan tanah liat ataupun terpal,

Kedua, mengeringkan/mengalirkan genangan air yang ada di atas lokasi yang mengalami gerakantanah, ketiga, membuat bronjong pada bagian kaki lereng lokasi yang mengalami gerakantanah, dan keempat, penimbunan kembali bagian yang rusak akibat gerakan tanah

Penanggulangan permanen merupakan tindakan penanggulangan tanah longsor/gerakantanah permanen ini membu-tuhkan waktu untuk penyelidikan, analisis dan perencanaan yang matang.

Penanggulangan secara permanen dapat dilakukan dengan cara antara lain:

Pertama, mengurangi gaya-gaya yang menimbulkan gerakan-gerakan, dengan metode mengendalikan air permukaan dan mengubah geometri lereng.

Kedua, menambah gaya-gaya yang menahan gerakan dengan cara mengendalikan air rembesan, pembuatan bangunan penambat (tembok penahan, bronjong) dan memberi timbunan pada kaki lereng (membuat beban kontra).

Apabila ke dua metoda tersebut di atas tidak dapat mengatasi gerakantanah yang terjadi, maka dilakukan penanggulangan dengan tindakan lain, seperti relokasi bangunan.

Bencana Banjir

Bencana lain yang juga menjadi ancaman akibat datangnya musim hujan di Wilayah Sulawesi Selatan ini yaitu bencana banjir.

Masih teringat dengan jelas bagaimana banjir yang terjadi di awal tahun 2019 yang melanda beberapa daerah, diantaranya Makassar, Maros, Jeneponto, Pangkep dan Barru. Banjir juga terjadi di wilayah Soppeng, Wajo, Bone, Sidrap dan Enrekang.

Selain itu wilayah Luwu juga tidak terhindar dari bencana banjir. Tentu saja banjir tersebut meninggalkan cerita duka yang sangat mendalam bagi masyarakat yang terkena bencana alam tersebut.

Banjir tidak hanya merusak fasilitas dan infrastruktur, tetapi juga merenggut korban jiwa. Banjir adalah aliran air yang berlebihan yang melampui batas penahan, baik penahan yang alamiah ataupun  buatan, dimana air tersebut akan menyebar di atas daerah dataran limpah banjir yang kemudian memenuhi daerah tersebut yang umumnya dimanfaatkan oleh manusia.

Banjir merupakan proses alam yang merupakan hubungan antara jumlah curah hujan yang jatuh kepermukaan bumi dan kapasitas air yang mampu ditampung saluran dalam suatu sistem sungai.

Musim penghujan akhir-akhir ini menunjukkan suatu gejala anomali, dimana curah hujan yang jatuh di beberapa bagian di Indonesia melebihi curah hujan rata-rata, terutama di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Hal ini berakibat frekuensi terjadi banjir akan semakin tinggi dibanding dengan musim musim sebelumnya dan tentu cakupan banjir akan semakin meluas.

Dampak banjir

Banjir tidak hanya merugikan kehidupan manusia, tetapi juga akan mengurangi aset kehidupan manusia. Banjir akan merubah the way people live their lives, yang menghasilkan kehilangan aset, menghancurkan struktur sosial dalam masyarakat, dan menyebabkan bertambahnya kesulitan dalam kehidupan masyarakat yang memang sudah sulit.

Masyarakat tidak dapat menanam padi di sawah sawah, tidak dapat memproduksi barang barang yang akan dijual untuk membeli makanan, dan akan kesusahan dalam memperoleh makanan akibat adanya perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat akibat banjir. Banjir juga berdampak pada masalah kesehatan.

Beberapa penyakit biasanya akan menyebar pada saat sesudah terjadi banjir sepeti diare, ISPA, muntaber, penyakit kulit, demam berdarah, malaria dan lain-lain. Biasanya penyekait penyakit ini akan menyerang anak anak karena lingkungan pasca banjir sangat tidak higienis.

Kegiatan pemerintahan juga pasti akan terganggu, yang akan berimplikasi pada seluruh aspek penyelenggaraan roda pemerintahan. Dampak lainnya adalah timbulnya korban, apabila banjir terjadi secara tiba-tiba dengan volume besar.

Penyebab banjir

Secara umum, bencana banjir disebabkan oleh antara lain 1) Iklim yang ekstrim (curah hujan yang anomali), 2) Daerah Aliran Sungai (DAS)-hutan yang rusak, 3) Kesalahan konsep pembangunan  sungai, 4) Kesalahan konsep pembangunan drainase dan pemukiman.

Curah hujan  yang sangat tinggi pada suatu daerah  menyebabkan  air hujan yang jatuh ke permukaan bumi tidak bisa ditampung, baik oleh saluran sungai apabila air hujan tersebut jatuh sebagai air pemukaan (run off), maupun cekungan air tanah, apabila air hujan tersebut jatuh ke permukaan bumi dan masuk kedalam Formasi batuan, menjadi air tanah (ground water).

Selain itu susunan batuan dari suatu daerah juga mempengaruhi terjadinya banjir.  Daerah yang disusun oleh jenis batuan yang bersifat impermeable atau kedap biasanya tidak dapat menyimpan atau menampung semua air hujan yang jatuh disekitar daerah tersebut dan cenderung langsung mengalirkan airnya menuju sungai atau daerah yang lebih rendah.

Faktor kondisi morfologi suatu daerah juga dapat menyebabkan terjadinya banjir. Daerah yang terletak di suatu lembah atau dataran rendah berbentuk cekungan yang dikelilingi oleh pegunungan tentu saja sangat rentan terhadap bahaya banjir.

Banjir juga sering diakibatkan oleh manajemen penggunaan lahan yang tidak dikontrol dan juga terjadinya kesalahan konsep pembangunan sungai yang merupakan saluran utama bagi air permukaan di daratan.

Adanya illegal logging, pembukaan lahan di hulu sungai, pengembangan wilayah dan tata guna lahan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan serta di perparah oleh perilaku buang sampah sembarangan merupakan hal hal yang men- trigger terjadinya bencana alam ini.

Data dari Puslitbang Studi kebencanaan UNHAS menunjukkan pada umumnya bencana banjir di beberapa daerah di Sulawesi Selatan erat kaitannya dengan daerah aliran sungai (DAS) yang telah mengalami kerusakan, walaupun ada beberapa wilayah yang merupakan wilayah rentan bencana banjir yang tidak langsung berhubungan dengan suatu DAS.

Beberapa wilayah DAS yang sangat berpotensi untuk terjadi banjir yaitu DAS Walanae yang mengalir dari arah Sidrap menuju kearah tenggara melewati Wajo, Soppeng, Bone dan Sinjai. Daerah DAS ini merupakan daerah pedataran yang dialiri oleh sungai besar dan dibatasi oleh pegunungan disisi utara dan selatannya.

Hal ini membuat daerah ini menyerupai sebuah cekungan dan sangat rentan terhadap bencana alam banjir apalagi dimusim penghujan dengan curah hujan yang tinggi. Tingginya proses pendangkalan pada danau danau yang ada membuat air akan sangat cepat meluap apabila terjadi hujan yang berkepanjangan.

Akibatnya semua daerah yang dilewati oleh sungai-sungai di daerah ini sangat rentan tehadap bencana banjir. DAS lainnya yang cukup sering menyumbang banjir adalah DAS Jeneberang yang mengalir kearah Kota Makassar dan Wilayah Kabupaten Gowa serta DAS Sungai Saddang yang mengalir dari wilayah Toraja sampai dengan Enrekang dan bermuara ke Selata Makassar.

Beberapa DAS di wilayah Luwu dan Luwu Utara juga merupakan langganan penyebab banjir di daerah Palopo, Belopa, Malangke, Masamba dan Malili.

Khusus untuk banjir yang terjadi di Kota Makassar merupakan hal yang perlu untuk dikaji, mengingat besarnya dampak dan kerugian yang ditimbulkannya. Banjir di Makassar disebabkan komponen DAS Kota Makassar pada umumnya sudah beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan aktivitas manusia lainnya.  

Akibatnya, hujan yang jatuh di DAS Kota Makassar menghasilkan genangan air. Air hujan yang jatuh seharusnya teresap langsung ke dalam tanah dan mengalirkan airnya pada kantong-kantong resapan   sebelum   masuk   ke  sungai  atau   ke  laut mengalami   gangguan, sehingga  membentuk  genangan  banjir  pada  daerah  yang  mempunyai  relief lebih rendah.

Sebaran sedimentasi daerah Kota Makassar terbentuk di sekitar Sungai Tallo dan Sungai Jeneberang, yang membentuk endapan delta dan tersebar mengikuti pesisir pantai kota membentuk spit dan gundukan pulau.

Proses sedimentasi ini menjadikan penampang sungai menjadi sempit, sehingga sangat mempengaruhi terjadinya limpasan air pada saat musim hujan kearah samping kiri/kanan sungai.

Kondisi ini diperparah apabila terjadi hujan dengan curah yang tinggi yang bersamaan dengan terjadinya pasang maksimum di selat Makassar. Air hujan yang sedianya mengalir ke laut akan tertahan oleh naiknya muka air laut dan menyebabkan daerah-daerah rendah disekitar muara akan tertutupi oleh air tersebut.

Manajemen Penanggulangan banjir

Ada beberapa usaha atau metode yang dapat digunakan untuk membuat manajemen penanggulangan  banjir (Flood Hazard Mitigation Management). Kegiatan ini dibagi kedalam beberapa tahap, antara lain usaha pencegahan (preventif), usaha perlindungan (proteksi)  dan usaha mitigasi fisik.

Usaha pencegahan yaitu usaha yang dilakukan sebelum bencana ini muncul dan menyebabkan kerugian. Kegiatan kegiatan yang dilakukan adalah meliputi pemanfaatan dan pengembangan lahan limpah banjir dan daerah yang akan digenangi air apabila terjadi banjir, yang dijabarkan melalui planning, land acquisition, atau regulation.

Aktivitas yang dilakukan antara lain Planning dan zoning, pengelolaan lahan terbuka, pembuatan aturan dalam pembangunan dan legalitasnya, pemeliharaan sistem drainase dan pemeliharaan beach dan dune. Usaha proteksi yaitu usaha yang biasa dilakukan oleh pemilik properti, antara lain: relokasi, akuisisi, retrofitting, insurance (Asuransi).

Usaha mitigasi fisik yaitu merupakan usaha melindungi suatu daerah dari banjir dengan struktur bangunan tertentu. Biasanya bangunan bangunan ini di buat dan di pelihara atau di kelola oleh pemerintah atau instansi. Adapun contoh dari bangunan ini yaitu: reservoir (penampungan), dam, tanggul/tembok banjir/dinding sungai, diversi (pembuatan saluran ganda pada sungai), modifikasi saluran, beach nourishment, pendeteksi badai.

Selain usaha di atas, yang perlu dilakukan adalah peringatan gawat darurat, yaitu usaha yang dilakukan pada waktu terjadinya banjir untuk meminimalkan dampak yang diakibatkan.

Pemerintah melalui instansi yang berwenang bertanggung jawab terhadap usaha ini. Usaha ini antara lain: peringatan (warning), monitoring kondisi dam, rencana tanggap darurat, evakuasi, perlindungan terhadap fasilitas fasilitas penting, dan pelayanan kesehatan dan keselamatan.

***

Dari pembahasan di atas, terlihat dengan jelas bahwa potensi tanah longsor dan banjir di Sulawesi Selatan cukup besar.

Oleh sebab itu, penanganan yang dilakukan harus lebih terstruktur dan tersistematis dengan pelibatan seluruh pemangku kepentingan, mengingat bahaya tanah longsor dan banjir mempunyai dampak yang luas.

Kendala klasik selama ini yaitu rendahnya kepedulian masyarakat dan stakeholder lainnya harus diatasi sejak sekarang.

Salah satu usaha untuk meningkatkan kepedulian akan bencana ini yaitu dengan menyediakan informasi kepada publik (public information) yang berkaitan dengan bencana tanah longsor dan banjir.

Informasi publik inidilakukan oleh kantor informasi publik seperti stasiun TV dan Radio, media massa dan elektronik sampai dengan media sosial yang tujuannya untuk memberikan informasi tentang bencana banjir sedini mungkin untuk meningkatkan literasi kebencanaan dari semua stakeholder.

Usaha usaha kegiatannya  antara lain penyebarluasan data dan peta rawan tanah longsor dan banjir, penambahan pustaka, hasil-hasil penelitian ilmiah, bantuan teknis (technical assistance), program peduli lingkungan di kurikulum pendidikan, sosialisasi dalam bentuk seminar, lokakarya maupun semiloka serta talk show atau dialog interaktif.

Sangat jelas bahwa solusi dalam menangani masalah masalah yang terkait dengan bencana tanah longsor dan banjir bukan hanya tanggung jawab dari pemerintah atau instansi instansi terkait, tetapi memerlukan keterlibatan dan partisipasi dari masyarakat.

Pendekatan holistik mutlak diperlukan dalam pencarian solusi permasalahan ini. Model pencegahan atau manajemen mitigasi tanah longsor dan banjir perlu di buat yang kemudian akan digunakan sebagai pedoman untuk mencegah, merespon dan meminimalisir akibat dari tanah longsor dan banjir apabila terjadi.

Perhitungan diperlukan untuk deal dengan penyebab penyebab tanah longsor dan banjir, termasuk dampak dari bencana dan akar permasalahnnya.

Bencana yang telah terjadi sebenarnya dapat dijadikan sebagai petunjuk atau pelajaran untuk membuat manajemen kebencanaan di masa yang akan datang, terutama masalah tanah longsor dan banjir. (*)

Editor: Kamaruddin Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Dr Adi Maulana: Musim Hujan dan Korelasinya dengan Kecenderungan Bencana di Sulsel (Bagian I)

ISKINDO Salurkan Bantuan Korban Banjir Rawajati