in

Energi Biru di Romang Tangngayya

MAKASSAR – Di tengah kian menipisnya cadangan energi fosil, Pemerintah dan para pemangku kepentingan terutama masyarakat luas perlu mencari terobosan sumber energi terbarukan atau setidaknya bersumber dari sumber daya tersedia di sekitar kita. Salah satunya energi gas atau bahan bakar.

Itu pula yang menjadi alasan mengapa saya menulis satu kampung unik di Kota Makassar, ‘kampung kota’ yang masih punya ternak sapi.  Kampung yang kemudian menjadi lokasi dampingan kantor DP2 Makassar. Seperti apa dampingannya?

Energi biogas

Romang Tangngayya, satu kampung di Kota Makassar, tepatnya di Kelurahan Tamangngapa Kecamatan Manggala. Kampung ini diapit dua daerah otonomi, Gowa dan Maros.

Kampung pertama kali terbentuk oleh 2 atau 3 rumah tangga tapi saat ini sudah ada 70 KK. Datangnya warga yang berasal dari Gowa yakni Malakaji dan Malino maka berdenyutlah kampung ini. Warga umumnya bekerja sebagai petani dan peternak.

Bagi sebagian warga, akses jalan jadi persoalan. Dengan kondisi jalan rusak dan sulit diakses ditambah banjir yang kerap datang saban tahun membuat Romang Tangngayya bukanlah kampung idaman meski tetap saja tumbuh dari waktu ke waktu.

Pada 2015, beberapa warga yang tergabung dalam Kelompok Ternak “Makkaletutu” mencoba peruntungan dengan memasukkan proposal bantuan biogas di Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar.

Menurut Daeng Rurung (45), mereka lakukan ini dalam menyikapi sulitnya mendapatkan tabung gas untuk memasak.

“Untuk membelinya harus keluar dari kampung. Kalau musim kemarau tidak jadi masalah. Tapi ketika musim hujan, kampung akan terendam air. Setelah banjir reda pun, jalananan masih becek dan licin sehingga tidak bisa dilewati kendaraan.  Jika hujan tidak turun lagi, masih butuh waktu 4-7 hari untuk bisa kembali melewatinya,” tutur Daeng Rurung.

Bak gayung bersambut, mimpi kelompok Makkaletutu pun terwujud. Pada tahun 2018, biogas yang mereka butuhkan itu terealisasi melalui program Penerapan Biogas Limbah Ternak pada Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar.

“Alhamdulillah, pada tahun ini Insya Allah akan dibangun biogas di Romang Tangngayya,” kata penulis di sela kegiatan pelatihan Penerapan Teknologi Peternakan yang dilaksanakan sebelum biogas dibangun.

Daeng Rurung, ketua kelompok Makkaletutu nampak mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Pelatihan ini sendiri melibatkan peserta dari beberapa yang akan menerima bantuan biogas.

“Sebenarnya bukan cuma gasnya pak, saya nanti bisa membuat pupuk organik dari ampasnya,” ucapnya ketika kami berbicara setelah pelatihan selesai.

Singkat cerita, setelah pembangunan selesai pada bulan November 2018,  biogas tersebut tidak langsung menyala. Tahapan selanjutnya adalah pengisian kotoran ternak ke dalam reaktor biogas.

“Kalau rajin memasukkan kotoran ternak ke dalam reaktor, maka menyalanya pun bisa lebih cepat. Tergantung lagi kepada penerima bantuan,” pesan saya dan beberapa kawan dari DP2 Makassar kala itu.

April 2019, saya menghubungi Daeng Rurung untuk sekadar menanyakan pemanfaatan dari biogas yang telah dibangun.

Sebenarnya penulis mau langsung bertemu sekaligus memonitoring pemanfaatan bantuan tersebut. Namun apalah daya, lagi lagi kendaraan tidak bisa masuk setelah hujan deras dan banjir rutin di kampung tersebut.

“Jalanan rusak sekali pak,” ucapnya mengawali obrolan kami via telepon.

“Alhamdulillah 6 unit sudah menyala pak, sudah bisa digunakan memasak. Yang 3 nya lagi masih terus diisi,” lanjutnya ketika saya menanyakan tentang biogas yang telah dibangun.

Saya pun bersyukur karena mereka sudah merasakan manfaatnya. Pertanyaan pun berlanjut, saya menanyakan kondisinya (biogas) setelah banjir melanda daerah itu. Saya mengkhawatirkan biogasnya ada masalah setelah terendam air.

“Masih berfungsi pak, malah beberapa tetangga yang kehabisan gas datang ke rumah penerima untuk memasak,” jawabnya singkat.

Mendengar itu pun saya semakin senang. Saya sangat bersyukur karena yang merasakan manfaatnya bukan cuma kelompok penerima semata, tapi warga lainnya juga.

“Baik pak, tolong dimotivasi penerima yang lain supaya terus mengisi reaktor. Biar bisa juga digunakan. Kalau ada yang rusak juga secepatnya dilaporkan,” pesanku.

Kondisi Makkaletutu

Pada Selasa, 12 November 2019 lalu, untuk kesekian kalinya saya bersama tim menjejakkan kaki di kampung ini. Kampung yang tiga tahun lalu hanya terdengar namanya ketika teman kantor bercerita. Cerita tentang jalan tani, irigasi, ternak, dan kondisi wilayahnya.

Kunjungan ini untuk memonitoring pemanfaatan bantuan biogas, sekaligus memantau progress pekerjaan yang sementara berjalan. Tahun 2019, Kelompok Makkaletutu kembali menerima bantuan 6 unit biogas.

Kali ini ada yang berbeda ketika kami menyusuri kampung. Pertama kali kesini, saya masih dengan mudahnya melihat kotoran ternak baik di jalan maupun di depan rumah warga. Namun untuk kunjungan kali ini saya tidak menemukannya lagi.

Saat ini beberapa penerima bantuan memilih mengandangkan ternaknya dari pada membawanya keluar. Mereka yang mencari pakan. Harapannya agar bisa mendapatkan kotoran ternak yang cukup.

“Bagaimana, a’rinra ji Daeng?,” tanyaku tentang menyala tidaknya dalam bahasa Makassar ketika berkunjung di rumah Daeng Nyanrang, salah seorang warga yang telah menerima bantuan.

“Alhamdulillah, tambah biru ki nyalanya pak,” jawabnya dengan senyum merekah. Kotoran ternak telah dikonversi menjadi nyala kompor, sumber energi bagi rumah tangga di Romang Tangngayya.

“Itu tabung gas tidak pernah mi terpakai pak,” lanjutnya sambil menunjuk tabung Bright Gas warna pink yang nampak sudah berdebu.

Di rumah Daeng Nyanrang, saya dan tim juga ditemani oleh Daeng Rurung. Rurung bercerita tentang tetangganya Daeng Sewang yang kesulitan kotoran ternak.

“Dulu Daeng Sewang memiliki 3 ekor sapi, sekarang tinggal 1 ekor karena yang 2 sudah mati,” ucap Daeng Rurung.

Menurut Daeng Nyanrang, kondisi ini membuat Daeng Sewang harus berkeliling kampung mengumpulkan kotoran ternak untuk dimasukkan ke dalam reaktor biogasnya. Ini dilakukannya 2-3 kali dalam seminggu.

Daeng Sewang juga merupakan penerima bantuan. Rumahnya berhadapan dengan rumah Daeng Nyanrang tempat kami ngobrol dan menikmati kopi yang disajikan.

Pengalaman di Romang Tangngayya menunjukkan ke kita bawa intervensi program DP2 Makassar melalui pembuatan biogas telah memberi manfaat nyata bagi warga di Romang Tangngayya, tidak sebesar di kampung atau di daerah lain tetapi setidaknya telah memantik nyala harapan warga setempat dalam menghadapi keterbatasan energi tak terbarukan seperti energi fosil.

Mungkin akan semakin luas dampaknya jika ternak di Kota Makassar, tentu saja padang rumputnya juga, tersedia sesuai harapan warga Romang Tangngayya ini.

Penulis: Syamsul ‘Boger’ Bahri (DP2 Makassar)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Risma, Semesta Surabaya dalam Genggamannya

Di Balik Senyuman Keluarga Disabilitas di Tamaona dan Solusi Abdul Aziz Tingalla