in

Di Balik Senyuman Keluarga Disabilitas di Tamaona dan Solusi Abdul Aziz Tingalla

Keluarga Ranni, keluarga disabilitas (dok: Aziz Gapnal)

BULUKUMBA – “Macca-maccama’ baca sikiddi,” ucap Ranni saat ditanya bisa membaca atau tidak saat ini. Ranni (47 thn) adalah putri bungsu dari lima bersaudara.

Perempuan lajang tersebut, tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya di salah satu SD di Tamaona, Bulukumba.

“Dia memang tidak tamat dan tidak mempunyai pilihan lain, selain memilih profesi sebagai buruh tani dengan latar pendidikan seperti itu,” cerita Abdul Aziz, aktivis LSM dari Bulukumba yang punya pengalaman pendampingan masyarakat di Kota Palu kepada Perspektif Makassar, 09/01/2020.

Aziz bercerita tentang Desa Tamaona yang menurutnya sejatinya punya potensi besar untuk maju, baik di sektor pertanian, perkebunan hingga peternakan. Potensi yang membutuhkan pendekatan dan solusi yang lebih efektif.

Kembali ke Ranni. Menurut Aziz, perempuan tersebut rela menjadi buruh tani dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.  

Bagi desa dan warganya, menjadi buruh tani adalah gambaran bahwa setidaknya ada sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan di desa itu, tetapi sebagai yang tidak punya akses ke lahan produksi Ranni tetaplah sebagai buruh kasar, meski dia perempuan.

“Perempuan berbadan ringkih ini,  hidup bersama ibu kandungnya bernama Cani. Cani buta dan tuli. Selain itu ada pula seorang kakak perempuan yang tuli, buta sebelah dan kakinya lumpuh namanya Bacce,” ungkap Aziz.

Dengan penggambaran tersebut, Aziz terkesan dengan situasi yang dihadapi Ranni dan keluarganya.

“Terlihat sangat miskin dan disable atau mengalami disabilitasi tetapi mereka kaya semangat. Tetap semangat bekerja, tak mengeluh,” kata sosok tulen kelahiran Tamaona ini.

Meskipun kondisi terbatas, lanjut Aziz, Bacce masih dapat membersihkan rumahnya seperti menyapu dan mengepel lantai dengan cara emmesu, ini bahasa Konjo Bulukumba yang berarti merayap.

“Hal-hal seperti inilah yang membuat kita selalu optimis menjadi warga desa, ada semangat dan spirit kerja keras. Modal untuk membangun desa menurut saya kepercayaan diri dan kesungguhan untuk terus melanjutkan hidup dengan kreativitas,” imbuh Aziz.

Aziz adalah salah seorang pendiri Yayasan COMMIT di Makassar yang juga mantan peserta pelatihan fasilitasi masyarakat di Jepang ini. COMMIT adalah organisasi yang menghimpun fasilitator dan pakar pendampingan masyarakat dari sekurangnya 9 provinsi di Indonesia.

Menurut Aziz, Ranni sekeluarga masih beruntung saat ini sebab mereka bisa terbantu sejak adanya Program Keluarga Harapan.

“Mereka rutin menerima bantuan beras sekitar 10 liter dan sepuluh butir telur serta kadang-kadang ada bantuan uang tunai sebesar 400 ribu per triwulan,” jelas Azis Bassara, pria yang mengenal keluarga ini dengan baik.

“Tetapi meski demikian, keluarga ini mengaku sering kena darah tinggi atau tekanan darah tinggi,” kata Aziz.

 “Mungkin akibat menu makanannya yang seringkali hanya makan nasi, sayur daun ubi, kacang dan garam,” tanggap warga setempat bernama Azis Bassara yang mendampigi Aziz berkunjung ke rumah Ranni sekeluarga.

Terkait itu, menurut Abdul Aziz Tingalla program PKH memang memberi manfaat nyata bagi keluarga itu tetapi tidak bisa jadi sandaran hidup terus menerus.

“Dalam pengertian, ini merupakan skema sementara, ketika Pemerintah masih ada anggaran proyek. Ke depan, diperlukan solusi yang lebih pas dan jika perlu memanfaatkan dana anggaran pembangunan desa,” saran Aziz yang disebut sedang mempersiapkan diri untuk menjadi salah satu calon Kepala Desa di Tamaona, Bulukumba ini.

Bagi Aziz, ke depan, Desa Tamaona termasuk desa-desa lain di Bulukumba, baik sebagai institusi maupun sebagai satu entitas sosial kemasyarakatan, para pihak yang ada di sana perlu memastikan bahwa yang tuli, buta dan darah tingginya perlu ditangani dengan baik.

Apa yang akan dilakukan oleh Aziz terdapat keluarga Ranni ini?

“Akan kami periksakan ke dokter melalui program layanan kesehatan. Program penggalangan dana sosial melalui lumbung desa dan penciptaan lapangan kerja dengan priotitas warga rentan. Itu tidak cukup, program penguatan kapasitas sumber daya manusia agar kreatif memanfaatkan sumber daya alam tersedia sebagai pilar masa depan mereka,” tandas Aziz. (*)

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Energi Biru di Romang Tangngayya

Di Tamaona, Tanah untuk Pemakaman Umum Pun Tiada