in

Di Tamaona, Tanah untuk Pemakaman Umum Pun Tiada

Makam di halaman rumah (dok: Aziz Tingalla)

BULUKUMBA – Ini cerita tentang realitas di desa dan bagaimana inspirasi membangun desa bisa muncul. Inspirasi yang bisa lahir dari satu kesempatan diskusi bersama sekelompok ibu-ibu di Desa Tamaona tepatnya Minggu terakhir tahun 2019.

“Akan ke mana dan di mana kita semua dikuburkan jika meninggal?” tanyaku.

Salah seorang perempuan yang sedang memangku cucu kesayangannya menjawab. “Saya tak memiliki tanah,” tanggapnya.

Dia menjawab dalam bahasa lokal nianyukanmamia kapang, maksudnya mungkin akan dihanyutkan tatkala ditanya bila kelak nanti meninggal dunia akan dimakamkan di mana. Jawaban spontan tersebut mungkin cukup beralasan, karena sejak beberapa tahun terakhir ini, tak ada lagi kuburan umum di desa ini.

Bila ada anggota keluarga yang meninggal dunia, umumnya dimakamkan di halaman rumah atau di kebun masing-masing. Itu berlaku bagi mereka yang masih mempunyai tanah.

Perempuan itu hidup bersama dengan dua orang cucunya. Salah seorang cucunya sedang duduk di kelas 1 sekolah menengah atas.  Keterbatasan ekonomi, membuatnya tidak yakin dapat menuntaskan pendidikannya. Sebagaimana dengan yang dialami oleh sepupunya yang hanya tamat sekolah menengah tingkat pertama.

Mereka bertahan hidup dari hasil mengumpulkan dan menjual daun cengkeh kering, itupun kebun cengkeh milik orang. Tidak jarang ibu ini terpaksa menerima cacian dan murka dari pemilik kebun.

Sebagai keluarga yang tergolong dalam kategori miskin juga acapkali luput dari berbagai program pengentasan kemiskinan. Baginya, kemiskinan ibarat warisan turun temurun. Sekalipun hal buruk ini, dia tidak pernah rela turut dialami oleh anak cucunya.

Lalu ke mana, bantuan desa yang selama ini disebut tumpah ruah ke desa? Apa yang sudah digerakkan dan diberdayakan dengan dana miliaran tersebut?

Fenomena di atas menunjukkan bahwa peningkatan dana transfer desa baik dalam bentuk ADD dan BDD belum dapat berkontribusi secara signifikan dalam penurunan angka kemiskinan dan pengangguran di desa Tamaona Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba.

Bahkan upaya fasilitasi melalui pendampingan tingkat desa agar mereka bisa menumbuhkan keswadayaan belum nampak, setidaknya jika mencari jalan keluar atas ketiadaan makam desa. Makam yang seharusnya menjadi tanda bahwa mereka peduli dengan masa depan mereka.

Bagaiaman dengan desa anda? (*)

Penulis: Abdul Aziz Tingalla

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Di Balik Senyuman Keluarga Disabilitas di Tamaona dan Solusi Abdul Aziz Tingalla

Site Visit AUN-QA Berakhir, Chief Asesor Puji Konsistensi Unhas