in

Menanggapi Ehon Chow Yang Marah

Mari menyelam di Selayar (dok: K. Azis)

JAKARTA – Sebagai blogger yang intens mempromosikan optimisme dari Selayar, terutama Taka Bonerate sejak tahun 1995, hari ini saya galau. Saya merasa di antara geli dan gelisah, setelah membaca postingan terjemahan dari FB berisi luapan amarah seorang pria bernama Ehon Chan.

Apa yang ditumpahkannya di social media menurutku bukan hal baru dalam pengertian sejak lama sudah jadi perhatian banyak orang, ada banyak harapan agar semua pihak di Kabupaten Kepulauan Selayar memang perlu berbenah. Tapi berbenah dalam hal apa, yang mana yang prioritas?

Mengapa pula dia bisa semuak itu?

***

Yuk! Kita cermati satu persatu paragraf yang ditulis Ehon. (Saya percaya niatnya baik, mungkin hanya momen yang tidak pas atau pemilihan katanya yang perlu ditimbang atau dipilah dengan elok, nipakaballo kata orang Selayar)

Saya pertama kali baca postingannya sebagaimana di newsline.id (ditulis oleh Suharlim). Echon sesuai artikel itu disebut memang menuliskan luapan amarahnya itu dalam bahasa Inggris yang diposting pada Selasa, 07 Januari 2020.

Para paragraf pertama: “Pada Februari 2018, saya tiba di Selayar – atol karang terbesar ketiga di dunia (ini keliru), atol ini bernama Taka Bonerate, bukan Selayar.

“…dan jatuh cinta dengan tempat menyelam, penduduk setempat yang berkomitmen, dan sejarah yang menakjubkan. Kemiskinan tetap menjadi masalah besar di sini,” begini tulisnya.

Sampai di sejarah yang menakjubkan, saya setuju tapi tidak pada kata kemiskinan yang menjadi masalah besar di sini.

Kenapa menyebut kata ‘kemiskinan’, apa indikatornya? Rumah yang reot? Warga yang tidak bersekolah tinggi? Yang tidak punya toilet seindah milik orang-orang Singapura atau Malaysia?

Lalu dia menulis.

“Jika Anda bukan pegawai negeri sipil, pengusaha dengan proyek pengembangan dari Pemerintah atau dalam bisnis ekspor-ekspor, Anda mungkin akan tetap miskin.”

Dari mana dia menyimpulkan seperti ini?

Saya kira dia menyitir informasi bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM atau HDI) sebagai rujukan mengapa Selayar disebutnya miskin. Tetapi ada yang keliru dengan hanya menyebut PNS atau pengusaha perikanan sebagai alternatif untuk menjadi kaya.

Dia melanjutkan.

“Pengangguran dan pengangguran tetap sangat tinggi. Infrastruktur terbatas, kurangnya kesempatan, dan kepemimpinan yang lemah menghantui pulau yang luar biasa ini. Namun, tekad penduduk setempat menginspirasi – mulai dari operator pariwisata hingga konservasionis setempat, kepala desa yang cerdas (misalnya Punagaang) hingga calon pengusaha. Ketekunan dan ide-ide cemerlang dari orang-orang ini adalah apa yang membuat saya kembali, terlepas dari tempat menyelam kelas dunia,”.

Sampai di sini saya kagum. Ini pula yang selalu saya banggakan saat bicara semangat orang-orang di Selayar. Pembaca sekalian bisa baca postingan saya sejak tahun 90-an terkait Selayar, Taka Bonerate dan segala kebaikan di sana.

Tapi paragraf berikut ini sangat memukul perasaan.

“Tetapi para pejabat yang hanya ingin memberi manfaat bagi diri mereka sendiri, para pemimpin (dia tulis leaders) yang tidak kompeten dan orang-orang yang mementingkan diri sendiri berkuasa mengecewakan kelompok warga Selayar yang berkomitmen ini.”

Dari mana dia menyimpulkan hal seperti ini? Leaders penyelaman, leaders Pemerintah Daerah?

Oh ini lanjutannya.

“Pada tahun 2018 & 2019, saya secara pribadi mengundang 74 teman dari Malaysia, Singapura, Prancis, AS, Australia, Belanda, dan China yang telah menghabiskan sekitar Rp1,8 miliar pada 2018 dan Rp2,3 miliar pada 2019 di Selayar.”

So?

“Harapan saya adalah bahwa usaha kecil saya dapat meningkatkan kesadaran Selayar, berkontribusi pada visinya menjadi tujuan wisata dan membawa peluang ekonomi yang sangat dibutuhkan bagi rakyatnya.”

Ini keren. Hemat saya, banyak yang punya gagasan dan harapan seperti ini tetapi mungkin tidak banyak yang punya uang miliaran seperti Ehon.

Saya kasihan jika inisiatif seperti ini tak berbalas atau tak bersambut.

Tetapi apa yang bisa dikontribusikan oleh orang-orang di Selayar? Siapakah mitranya di sana? Pemda di sana atau mitra swasta? Apa yang semestinya organisasi masyarakat sipil, pengusaha atau warga yang ingin melihat Selayar maju seperti harapan Ehon.

Ini lanjutannya.

“Juga, tentu saja, untuk berbagi dengan teman-teman saya tempat menyelam yang fenomenal. Namun, berulang kali, para pemimpin yang tidak kompeten tidak hanya mengecewakan saya, tetapi juga orang-orang – membuat keputusan yang merugikan kaum miskin dan semakin meminggirkan para wirausahawan.”

Paragraf di atas tidak tuntas, tidak lengkap, tidak menjelaskan siapa gerangan pemimpin yang dimaksud. Yang tidak kompeten dalam hal apa?

Masyarakat miskin yang mana yang sudah dirugikan oleh pemimpin di yang tidak kompeten itu? Siapakah gerangan wirausahawan yang terpinggirkan itu? Dalam praktik dan dalam hal apa?

Baca lagi bagian ini.

“Pada tahun 2018, mereka membuka bandara baru yang mengasikkan bagi banyak orang, tetapi dari 3 maskapai penerbangan, sekarang dikurangi menjadi 1 maskapai sehingga mustahil bagi wisatawan dari Malaysia dan Singapura untuk datang ke Selayar tanpa menginap di Makassar (tidak ideal untuk 5 hari 4 malam perjalanan menyelam – 3 hari terbang dan hanya 2 hari menyelam).”

Bagian ini saya kira curhat biasa dan terkait maskapai, tentu saja Pemerintah Selayar tidak punya otoritas untuk menghalang-halangi maskapai untuk hengkang. Kalkulasi maskapai pasti sudah dilakukan. Kalau rugi ngapaian diteruskan, bukan?

Terkait isu maskapai ke Selayar, saya pernah tulis di sini.

Lagian ini bukan hanya Selayar, ada banyak kota-kota tepian yang tidak lagi terlayani karena rugi.  Kalau kemudian, Echon terusik karena, misalnya, agendanya kocar-kacir karena perubahan flight pesawat, so blame the airlines!

“TransNusa memberi kami wisatawan internasional pilihan yang lebih aman, lebih nyaman, dan lebih murah, tetapi karena pejabat yang egois, operasi mereka dibatalkan,” tulisnya lagi.

Sampai di sini, saya prihatin dan penasaran, siapa gerangan pejabat yang egois itu?  

“Sekarang, semua orang dipaksa untuk mengambil Wings Air yang harganya mahal bagi kita penyelam dengan peralatan menyelam (lebih mahal daripada penerbangan kami dari Kuala Lumpur ke Makassar) selama 35 menit penerbangan dan mempertaruhkan nyawa kami dengan maskapai paling berbahaya di dunia (https: / /www.toptenz.net/10-menakjubkan– berbahaya-airlines.php),”.

Penilaian seperti pada paragraf di atas menurut hemat saya berlaku umum dan tidak sepantasnya disematkan ke Selayar, lokasi-lokasi selam ternama seperti Raja Ampat, Morotai bahkan lebih mahal. Coba saja.  

Bagi saya, kata ‘dipaksa’ ini perlu diklarifikasi atau paling tidak diperjelas (semoga bukan kesalahan translasi).

“Lebih jauh, infrastruktur seperti jalan, pelabuhan (Pattumbukang & Benteng), stabilitas listrik, kebersihan umum, dan hotspot wisatawan (banyak air terjun, gua bawah tanah, masjid berusia 400 tahun, gong nekara, suaka penyu, dll) tetap sulit dijangkau, atau tidak dirawat.”

Saya kira ini bukan hal baru, memang jauh dan beberapa bagian tidak terawat. Yang ini memang perlu dibenahi, dilengkapi sarana prasarana untuk kemudahan akses atau untuk kegiatan diving, misalnya.

Lalu apakah dengan ini orang-orang bisa misuh-misuh (curhat hingga marah) di social media?  Bagi saya, pendapat seperti ini khas orang kota yang datang ke desa atau kampung-kampung.

Pada beberapa tempat wisata pengunjung umumnya bahagia dengan telanjang dada di depan orang banyak (yang miskin) itu. Mereka umumnya pakai standar tinggi untuk membandingkan, katakanlah sanitasi, atau praktik sosial setempat yang mungkin di mata mereka menjijikkan.

Tapi saya yakin, bagi Selayar, bagi kita yang selalu ‘pulang’ ke Selayar inilah hidup kami, c’est la vie! Bukankah karena itu pula kami di Selayar bisa survive sejauh ini. Jika saya warga Selayar, saya akan bilang I don’ t care whatever you say! Lagian kalau Selayar lajunya kayak clam, kayak siput, lambat majunya, so what?

Tahan, coba baca lagi ini.

“Jalanan dipenuhi dengan sampah, pantai-pantai ditutupi oleh sampah plastik, dan setiap Januari hingga Maret, listrik padam rata-rata setiap 2-3 hari sekali.”

Ehon Chow benar tapi saya akan bilang, sejak tahun 1995, saya sudah mengalami ini dan ini bukan semata tugas Pemda Selayar, Perusahaan Listrik Negara (Jakarta) yang perlu dituding.

Saya suka bagian ini.

“Peristiwa menarik seperti jambore dibatalkan sementara yang lain seperti Ekspedisi Pulau Takabonerate dirusak oleh disorganisasi, dan salah urus. Saya bisa terus berbicara tentang kekesalan saya tentang Selayar, tetapi lebih dari apa pun, setiap kali saya melihat ke mata komunitas-komunitas tangguh yang bekerja sangat keras hanya untuk keluar dari kemiskinan tetapi menjadi lebih tidak beruntung dan terpinggirkan karena egois, dan para pejabat yang tidak kompeten, hati saya sedih menyaksikan kemunduran tempat yang begitu luar biasa karena beberapa orang. Karena beberapa mangga busuk, seluruh pohon dikorbankan.”

Sekali lagi saya suka bagian ini. Perlu upaya yang terus menerus untuk mengelola program dengan baik, tidak sekadar event tanpa persiapan dan manajemen yang efektif dan bertanggungjawab.

Saya pernah menulis supaya Bupati turun tangan pada urusan penataan program-program promosi dan pengembangan sarana prasarana wisata di Selayar di sini.

Ini juga menarik.

“Ini mungkin salah satu perjalanan terakhir saya di sini, dan dalam beberapa hari terakhir ini, saya merasa sedih, frustrasi dan marah karena semua upaya, kesempatan yang saya coba bawa untuk mendukung komunitas lokal ini dan uang yang dihabiskan di sini untuk limbah.”

Saya iba. Turut prihatin, Ehon. Tapi jika boleh, komunitas lokal mana yang telah dibantu?

Apakah mereka sumber perkara atau mereka yang tidak diterima oleh Pemda, atau bagaimana?

Saya bertanya ini karena ada beberapa teman yang saya kenal, baik di Sileya Scuba Divers, Selayar Marine Dive, atau Tinabo Dive Center? Semoga mereka bukan trouble makers untukmu.

Semoga saya bisa membantu. Minimal menyampaikan ke mereka, apa sesungguhnya yang tak kamu temukan di Selayar.

“Satu-satunya harapan saya adalah bahwa para pemimpin akan bangun untuk keegoisan mereka sendiri, dan dalam semangat sillaturahim, memiliki empati bagi banyak penduduk setempat yang hidup miskin, terpinggirkan dan menolak peluang yang pantas mereka dapatkan.”

Sungguh, air mata saya meleleh. Ini seperti curhatan yang perlu diresapi dan dibawa ke tempat tidur.

“Saya tetap optimis, karena kekuatan rakyat tetap kuat dan seperti yang dikatakan Margaret Mead, “Jangan pernah ragu bahwa sekelompok kecil warga negara yang berkomitmen dapat mengubah dunia. Memang, itu satu-satunya yang pernah ada.“

Bro Ehon, saya setuju paragraf di atas. Jika masih mungkin, ke Selayar lagi yuk kita tahan amarah ini, kita sampaikan saja dengan mata berlinang ke Pemerintah dan kawan-kawan baik di sana.

Kita bisa menikmati keindahan Punagaang, melihat bunga bermekaran di sepanjang jalan menuju Patilereng di Pantai Timur. atau menunggu sunset di tepian Appatanah meski angin barat sungguh menyesakkan (kali ini).

Oh ya, sebelum saya tutup postingan ini, saya ingin menyampaikan bahwa banyak warga Selayar yang berterima kasih atas input Ehon. Salah satunya ini:

Echon, salah satu wisatawan yang punya komitmen membangun wisata Selayar karena kecintaan dan kekagumannya akan potensi yang ada. Bukan hanya berungkali membawa tamu/wisman ke Bumi Tanadoang (Selayar) tetapi juga membantu teman-teman dalam penguatan kapasitas,” puji temanku, sebut saja Rain.

“Tercatat sudah ada 3 divemaster, 3 rescue diver dan 4 advance diver yang dilatihnya secara cuma-cuma. Woooww, masih adakah yang seperti dia?” tutup Rain’.

Links FB Ehon Chow di sini. (*)

Penulis: Kamaruddin Azis (blogger Kelautan, tinggal di Jakarta)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Site Visit AUN-QA Berakhir, Chief Asesor Puji Konsistensi Unhas

Tersisa 1 Maskapai, Apa Dampaknya ke Pariwisata Selayar?