in

Tersisa 1 Maskapai, Apa Dampaknya ke Pariwisata Selayar?

Resort Sunari, salah satu spor wisata andalan Selayar (dok: K. Azis)

BENTENG – Curhatan pria asal Malaysia bernama Ehon Chow jadi viral di social media. Postingan yang menohok banyak pihak terkait kepariwisataan di Kabupaten Kepulauan Selayar diobrolkan netizen seluruh dunia. Diobrolkan oleh mereka yang ingin melihat Selayar kian berbenah di sektor ini.

Salah satu yang dikeluhkan Echon adalah perubahan jumlah operator dan frekuensi penerbangan dari dan ke Selayar. Echon yang asal Malaysia beberapa kali telah berkunjung ke Selayar. Hasratnya berwisata di Selayar terusik dengan berkurangnya operator penerbangan ini.

Penerbangan yang awalnya dilayani tiga maskapai, yaitu Garuda, Wings Air dan Trans Nusa, kini tersisa Wings Air. Garuda yang sebelumnya ke rute itu sudah lama hengkang, belakangan Trans Nusa.

“Intinya memang maskapai. Dia (Ehon) tetap baik dengan penggiat komunitas wisata di Selayar. Justru Echon sangat akrab dengan kami,” kata seorang diver asal Selayar kepada PerspektifMakassar yang tidak mau disebut namanya terkait curhatan Echon itu.

Dia menyebut bahwa di balik jumlah maskapai yang tersisa satu operator harusnya masing-masing pihak introspeksi. “Ini ada hubungannya dengan perlunya koordinasi antara tim kerja Bandara dengan maskapai,” katanya.

Meski demikian, dia mengakui bahwa hengkangnya Trans Nusa lebih disebabkan alasan komersil belaka. “Mungkin ada jalur lain yang lebih menjanjikan tapi ini sangat memukul pariwisata Selayar,” katanya.

“Bayangkanlah perjalanan untuk wisata 5 hari dari Malaysia atau Singapura ke Selayar. Ini cukup dengan adanya Trans Nusa karena maskapai ini datang sore,” tambahnya.

“Yang disesalkan karena Trans Nusa memberi keringanan bagasi, ada free bagasi di mereka. Ini yang bikin kecewa turis yang mau ke Selayar karena mahanya biaya bagasi terutama dive gears yang berat-berat itu,” lanjutnya.

“Tapi bagi yang datang sore dari Singapura atau Malaysia pasti akan bermalam di Makassar dulu sebelum ke Selayar dan ini pasti biaya tambahan untuk mereka. Saya kira itu saja masalahnya sampai Echon melihat ini satu kemunduran dan harusnya dibenahi,” tambahnya lagi.

“Sekarang flight pagi semua, apalagi harus bayar bagasi dengan dive gear yang berat dn tidak tertanggung. Itu yang harus jadi PR Pemda. Bayangkan, lebih mahal biaya tiket dan bagasi dari Makassar ke Selayar ketimbang tiket Malaysia ke Makassar,” imbuhnya.

Dia juga menyebut bahwa terkait urusan maskapai ini, mestinya memang tidak cukup kalau satu operator saja. “Apalagi banyak urusan dinas, tidak efektif memang kalau cuma 1x flight,” katanya.

Hal lain juga berkaitan kesiapan personil yang mengatur atau terlibat dalam menangani jadwal penerbangan sore seperti Trans Nusa dulu.

“Semoga berhentinya Trans Nusa bukan karena alasan ketiadaan atau terbatasnya personil lapangan. Bukan karena beban pekerjaan yang berdampak ke personil karena mereka harus menunggu sampai sore. Dulu, Trans Nusa biasa molor hingga pukul 4 sore baru tiba d Selayar karena rute mereka banyak,” katanya.

“Nah, karyawan atau petugas bandara bisa jadi minta kompensasi lembur d atas jam 16.00. Ini salah satu contoh yang harusnya bisa dibereskan sejak lama,” tutupnya. (*)

Editor: K. Azis

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Menanggapi Ehon Chow Yang Marah

Membisniskan Banjir, Inspirasi dari Jakarta