in

Membisniskan Banjir, Inspirasi dari Jakarta

Ya, orang sedang mencari kambing hitam untuk dibisniskan. Dan, lantaran bisnisnya amat politis. Sehingga, sangat sulit dicerna logika rasionalnya.

Suasana banjir di Jakarta (dok: Liputan6)

PALU – Muhd Nur Sangadji, periset lingkungan dari Universitas Tadulako, Palu membagikan perspektifnya tentang problematika banjir Jakarta. Hal yang disebutnya perlu menjadi perhatian sekaligus keprihatinan bersama dalam mendedah asal muasalnya dan bagaimana seharusnya menyikapinya sebagai ‘pesan alam’. Mari simak.

***

Berkaitan banjir Jakarta, karibku di group WA pernah meminta.  Dia menulis begini, “Coba buat tulisan soal ekonomi kreatif saat banjir kiriman datang donk!  Saya tertarik untuk memulainya. Maka, artikel ini saya tulis.

Banjir Jakarta, persis pada tanggal 01/01/2020, sesungguhnya telah dan terus menyuguhkan kreativitas berpikir bisnis. Para ahli juga, saya baca dan dengar,  ikut-ikutan menyebutnya, tentang identitas musibah ini.

 Mereka semua memberi label bencana ini dengan nama “Banjir Kiriman”. Sebuah istilah yang boleh jadi, sama sekali tidak dikenal dalam ilmu lingkungan. Tapi, itulah kreativitas berpikir. Kesalahan atau kelaziman nanti diuji berikutnya.

Banjir kiriman. Dikirim dari mana dan siapa yang mengirimnya? Kalau dikirim, berarti telah terjadi di tempat lain. Kemudian diteruskan ke tempat yang baru. Semua kita bersepakat untuk menyebut Bogor. Ya, dikirim dari Bogor. Jadi, kita mau bilang, Bogor memproduksi banjir. Lalu, dikirim ke Jakarta. Kreatifitas berpikir ini yang terus diulang dan dipercaya hingga saat ini.

Padahal, Bogor dan Jakarta itu satu kesatuan ekologis. Bisa dibilang satu ekoregion. Satunya,  ada di hulu (Up land). Dan, satunya lagi ada di hilir atau muara (low land).  Air yang mengalir (run off) punya sifat mencari tempat yang rendah.

Pada posisi yang tinggi, semua air akan menuju ke tempat paling bawah. Ada volume kecil yang masuk secara vertikal ke dalam tanah (infiltrasi dan pekolasi). Ada yang dalam volume besar mengalir mengikuti bidang kemiringan lahan.

Ada juga sejumlah volume yang melawan hukum gravitasi ini melalui proses penguapan (evaporasi) akibat panas. Tapi, yang terakhir ini pun, di atmosfir akan mengalami pendinginan (kondensasi).  Dan, akan turun kembali dalam bentuk butiran hujan. Begitulah siklus hodrologi alamiah sepanjang masa.

Sekarang, bila kita ingin bicara tentang ekonomi kreatif pada saat banjir. Bagusnya, pikiran ini kita arahkan pada sebelum, saat peristiwa dan pasca kejadiannya. Mulailah bahwa air itu adalah elemen yang sangat esensial bagi hidup manusia. Kebutuhan primer lain seperti makanan bisa disubtitusi. Namun tidak, untuk air. Karena itu, nilai bisnisnya mestinya sangat tinggi.

Sahabatku orang Jepang bernama Ikenaba. Dia pengelola proyek JICA di Indonesia Timur. Satu ketika pernah menantang saya dengan kalimat berikut. Saat ini, Jepang sedang tegang dan konflik bilateral dengan Korea Selatan.

“Apa yang bisa dimanfaatkan Indonesia?” tanya teman saya itu. Saya kaget luar biasa. Bagaimana bisa, orang sedang perang atau susah, kita mengambil atau mencari untung?

Ikenaba lalu menjelaskan. Kami membutuhkan Korea Selatan dan begitu sebaliknya, untuk produk tertentu. Saat perang ini, aliran atau rantai pasok barang ini pastilah putus.

“Nah, bisa tidak diisi peluang ini oleh Indonesia. Jadi, kalau ada yang bertanya, bisnis apa yang cocok saat Jakarta mengalami banjir?” tanyanya lagi. Ini pertanyaan hebat dan menarik.

Semula saya berpikir memanen air banjir, ekonomi kreatif itu memanfaatkan apa di sekitar kita.

Di Taiwan, Guru TK dan SD selalu membawa muridnya ke pantai untuk lihat bebatuan. Saat ini, Taiwan dikenal sebagai pengekspor batu asah dunia. Mereka juga punya bisnis kepiting berdarah biru untuk bahan dasar kalibrasi pengganti alkohol bagi pesawat ruang angkasa. Pula, ada bisnis kecoa untuk obat jantung koroner.

Cerita tentang Taiwan ini saya dapat dari Prof Emil Salim. Cendekiawan yang pernah saya dan kawan menginjak tumit sepatunya secara sengaja. Ini terjadi di kantor beliau satu ketika, waktu masih menjadi Menteri.

Tapi, cerita bisnis real ini, kalah populer.  Sebab, komoditi yang sangat ramai dibisniskan saat banjir Jakarta,  bukanlah air.  Malahan, kambing hitam. Ya, orang sedang mencari kambing hitam untuk dibisniskan. Dan, lantaran bisnisnya amat politis. Sehingga, sangat sulit dicerna logika rasionalnya.

Karena itu, saya ingin sodorkan kambing putih saja. Siapa tahu lebih mudah diterima. Tawarannya gampang. Begini, banjir  itu, mengalir dari dataran tinggi ke rendah. Bila ada masalah  di dataran tinggi, anomalinya ada pada hilangnya vegetasi pengatur daur hidrologi (naturalisasi). Mengecilnya areal serapan oleh alih fungsi lahan. Berubah menjadi kebun, villa, pemukiman, jalan dan infrastruktur lainnya.

Di zona tengah akan berkait dengan kondisi daerah aliran sungai (DAS). Normalisasi sungai adalah contoh penting. Rasio penampang sungai kering dan basah amatlah rendah karena telah diakupasi. Ini problema umum di hampir semua sungai oleh tekanan populasi manusia.

Di wilayah hilir,  drainase memegang peran penting. Musuhnya adalah penyempitan dan penyumbatan oleh sampah. Okupasi bantaran, baik sungai maupun drainase akan berdampak serius. Banyak kasus dimana aliran drainase terhalang oleh terutama sampah plastik yang dibuang oleh warga. (*)

Penulis dapat dihubungi di email muhdrezas@yahoo.com

Editor: K. Azis

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Tersisa 1 Maskapai, Apa Dampaknya ke Pariwisata Selayar?

Kriminalisasi Banjir